← Back Off

Chapter Thirty Five

Kesalahan Kedua

POV: Fandy Pramudia

Aku seharusnya tidak menggenggam tangan Amanda malam itu.

Bukan karena sentuhannya salah. Karena setelah melakukannya, tubuhku mengingat terlalu banyak.

Beberapa hari kemudian tim merayakan milestone proyek. Setelah makan malam, hujan turun. Amanda menunggu mobil pesanannya di lobi.

Aku ikut menunggu.

“Kamu nggak pulang?” tanyanya.

“Nunggu hujan kecil.”

Bohong. Aku punya payung.

Mobil Amanda membatalkan.

“Great.”

“Aku antar.”

Dia menatapku. “Yakin?”

“Iya.”

Perjalanan awalnya biasa. Kami bicara soal proyek, Dimas, klien.

Lalu musik dari radio memainkan lagu lama yang pernah sering diputar Amanda.

Dia tertawa kecil. “Masih ada lagu ini.”

Aku mematikannya.

“Jahat.”

“Biar nggak nyanyi.”

“Aku nyanyi bagus.”

“Debatable.”

Amanda tertawa.

Aku juga.

Ketika sampai depan apartemennya, hujan masih deras.

Amanda tidak langsung turun.

“Fan.”

“Hm?”

“Makasih.”

“Sudah.”

Dia menatapku.

Ada terlalu banyak hal yang tidak kami ucapkan.

Aku tahu seharusnya berhenti di sana.

Amanda membuka pintu, lalu menoleh kembali.

“Good night.”

“Good night.”

Dia hampir turun.

Aku memanggilnya.

“Manda.”

Dia menoleh.

Aku tidak punya kalimat.

Jadi aku melakukan kesalahan.

Aku mencium dia.

Amanda membeku sepersekian detik, lalu membalas.

Tubuhku mengingat semuanya.

Cara tangannya menyentuh rahangku. Cara dia menarik napas ketika aku mendekat. Cara dunia bisa mengecil menjadi jarak beberapa sentimeter.

Aku yang berhenti.

Napas kami sama-sama tidak teratur.

Amanda tidak mengejar.

Aku menutup mata sebentar.

“Kita nggak boleh melakukan ini cuma karena kita pernah saling punya.”

Amanda diam.

Lalu mengangguk.

“Aku tahu.”

Tidak ada kalimat berarti kamu masih cinta aku.

Tidak ada permintaan status.

Dia membuka pintu.

“Good night, Fan.”

“Good night.”

Aku melihatnya masuk gedung.

Baru setelah dia hilang aku menyandarkan kepala ke kursi.

Masalahnya bukan aku mencium Amanda.

Masalahnya aku ingin melakukannya lagi.

Aku jatuh cinta lagi.

Dan kali ini aku tahu persis seberapa besar harga yang bisa diminta oleh perasaan itu.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.

Aku duduk di mobil cukup lama setelah Amanda masuk. Hujan menutup kaca depan dan memberiku alasan untuk tidak segera bergerak. Aku tahu ciuman itu bukan kecelakaan. Aku yang memanggil namanya. Aku yang mendekat. Amanda hanya membalas setelah aku memulai. Jadi aku tidak bisa menyalahkan nostalgia, suasana, atau hujan. Keinginan itu milikku. Dan justru karena milikku, aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan dengannya.