Chapter Thirty Two
Kopi
POV: Amanda Rigby
Aku membeli kopi untuk seluruh tim. Aku tidak perlu bertanya pesanan Fandy. Americano tanpa gula.
Aku sempat berhenti ketika menulis daftar. Mengetahui tidak berarti harus membuatnya spesial. Jadi semua kopi diletakkan di meja tengah.
Fandy mengambil gelasnya. Matanya sempat bertemu denganku. Aku sudah kembali ke laptop.
Beberapa hari kemudian tim Fandy membawa kopi sebelum workshop. Dimas meletakkan satu gelas di depanku.
Oat latte, less sweet.
Pesananku.
“Ini siapa yang pesan?”
Dimas menunjuk Fandy.
Jangan besar-besarkan.
Aku meminumnya. Benar.
Setelah workshop aku berkata, “Makasih kopinya.”
Fandy mengangkat alis. “Hm?”
“Oat latte.”
“Oh. Iya.”
“Kamu masih ingat?”
Pertanyaan itu lolos. Aku cepat menambahkan, “Pesanannya ribet soalnya.”
Sudut bibirnya naik. “Susah lupa.”
Dadaku terasa hangat.
Ini bukan bukti cinta. Bukan janji. Hanya memori.
Sore hari Fandy melihat gelas kosong di mejaku. “Manisnya pas?”
Aku menatapnya. “Katanya tadi lupa.”
“Aku nggak bilang lupa.”
“Oh.”
Aku tersenyum.
“Jangan mulai.”
“Aku nggak ngomong apa-apa.”
“Mukamu ngomong.”
Aku tertawa. Kalimat lama. Fandy juga sadar.
Untuk satu detik kami sama-sama diam.
Kemudian dia membuka laptop. “Revisi.”
Kami bekerja.
Ada sesuatu yang berubah tipis. Bukan jarak yang hilang. Lebih seperti jarak itu sekarang tidak selalu terasa dingin.
Ketika pulang aku membeli charger baru karena kabel lamaku rusak. Sekarang aku membawa charger sendiri.
Tapi hari ini Fandy masih mengingat kopiku.
Perubahan tidak harus berarti semua hal lama dibuang.
Untuk sekarang, satu gelas kopi sudah cukup.
Dan untuk pertama kalinya aku tidak ingin lebih dari yang diberikan hari ini.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
Aku sengaja tidak menanyakan arti kopi itu. Dulu aku selalu ingin memberi nama pada perubahan kecil supaya tahu posisiku. Sekarang aku belajar membiarkan sesuatu tetap kecil. Fandy mengingat pesananku. Itu saja. Kalau besok dia menjaga jarak, hari ini tidak menjadi bohong. Kalau suatu hari dia mendekat, hari ini juga tidak perlu disebut awal. Menahan diri dari mencari kepastian justru membuatku lebih tenang.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi reading
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu