Chapter Nineteen
Aku Mundur
POV: Fandy Pramudia
Amanda menatapku seperti aku baru berbicara dalam bahasa yang tidak dia mengerti.
“Kita perlu berhenti dulu,” ulangku.
“Break?”
“Bukan break.”
Wajahnya kehilangan warna.
“Aku sudah pilih kamu.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa?”
Aku melihat tangannya. Tangan yang beberapa hari lalu kubayangkan memakai cincin.
“Aku nggak mau jadi orang yang harus menunggu kamu selesai membandingkan.”
“Aku nggak membandingkan.”
“Kamu pergi cari jawaban dari dia.”
Amanda menangis lagi. “Aku salah. Aku bisa perbaiki.”
“Mungkin kamu bisa.”
“Terus biarin aku.”
Kalau aku mengatakan iya sekarang, aku tahu apa yang akan terjadi. Amanda akan berusaha keras. Aku akan memaafkan terlalu cepat karena tidak tahan melihatnya menderita.
Aku tidak mau membangun pernikahan di atas ketakutan bahwa suatu hari pintu lama akan terbuka lagi.
“Kalau kamu memang perlu cari tahu apakah hidup kamu seharusnya sama dia, cari.”
“Aku nggak perlu lagi.”
“Mungkin.”
“Jangan bilang mungkin terus.”
“Aku nggak tahu apa yang benar buat kamu.”
“Aku tahu.”
“Sekarang.”
Amanda terdiam.
Aku membenci diriku karena mengatakan itu. Tapi benar. Dia tahu sekarang, setelah pergi mencari.
“Aku nggak mau Adrian. Aku mau kamu.”
“Aku dengar.”
“Terus kamu?”
Pertanyaan itu hampir membuatku menyerah. Aku masih mau dia. Itulah masalahnya.
“Aku sayang kamu.”
“Tapi?”
“Aku nggak bisa jadi pilihan yang kamu yakini setelah kamu perlu membuka pintu lain.”
“Aku nggak mencoba balik sama dia.”
“Aku tahu.”
“Lalu apa?”
“Kalau keberadaanku bikin kamu susah tahu apa yang sebenarnya kamu mau, aku nggak akan berdiri di tengah.”
Amanda menggeleng. “Jangan.”
Tenggorokanku sakit.
“Aku mundur.”
Kalimat itu keluar pelan.
“Dulu kamu bilang itu terus,” katanya. “Terus aku selalu narik kamu.”
“Aku tahu.”
“Aku tarik sekarang.”
Tangannya meraih tanganku. Aku membiarkannya menggenggam beberapa detik, lalu perlahan kulepaskan.
Amanda menangis tanpa suara.
“Aku nggak akan ke Adrian.”
“Itu keputusan kamu.”
“Bukan karena kamu larang.”
“Aku tahu.”
Aku tahu dia mencintaiku. Aku tahu dia menyesal. Aku tahu dia tidak bermaksud menghancurkan kami.
Mengetahui semua itu tetap tidak membuatku bisa tinggal.
Amanda mengambil tas.
Sebelum keluar dia berhenti. “Kalau nanti aku tetap pilih kamu?”
Aku tidak punya jawaban yang baik.
“Aku nggak minta kamu nunggu aku.”
Pintu tertutup.
Kali ini aku tidak mengejar.
Aku masuk ke ruang kerja dan membuka laci.
Kotak cincin masih di sana.
Hari itu aku kehilangan sesuatu yang belum pernah resmi kumiliki: masa depan yang sudah kuanggap pasti.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur reading
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu