Chapter Thirty Seven
Yang Lama
POV: Fandy Pramudia
Kotak cincin lama masih berada di laci. Aku menemukannya ketika mencari paspor.
Cincin itu tidak berubah. Aku yang berubah.
Dulu benda ini adalah masa depan, lalu bukti kegagalan, lalu sesuatu yang tidak ingin kusentuh.
Raka datang dan melihat kotak. Aku bilang ingin menjualnya.
“Karena Amanda?” tanyanya. Aku menjawab, “Justru bukan.”
Aku pernah berpikir kalau suatu hari kami kembali, cincin itu masih bisa dipakai. Sekarang aku tidak mau.
Cincin itu kubeli sebagai Fandy yang selalu mengalah dan sebagai lelaki yang percaya kepastian kami tidak mungkin berubah.
Aku tidak membenci orang itu. Dia mencintai Amanda sungguh-sungguh. Tapi aku tidak ingin kembali menjadi dia.
“Gue masih sayang Amanda,” kataku. Raka menjawab, “Gue tahu. Lo subtle kayak kebakaran.”
Ketika Raka mengingatkan bahwa sayang berarti perasaan masih ada, aku menjawab, “Sayang sama siap kembali itu beda.”
Perasaanku bukan masalah utama. Aku bisa mencintai Amanda lagi. Mungkin sudah. Yang belum kembali adalah rasa aman ketika membayangkan menyerahkan masa depan kepadanya.
Amanda sekarang berbeda. Dia menghormati tidak, tidak menuntut balasan, dan tidak menggunakan penyesalan sebagai mata uang.
Tapi kepercayaan bukan tombol yang kembali menyala hanya karena bukti mulai terkumpul.
Senin siang aku membawa cincin itu ke toko. Ketika kotak berpindah tangan, aku menunggu rasa kehilangan. Tidak datang. Yang datang justru lega.
Menjual cincin bukan menolak Amanda. Aku sedang menutup hubungan pertama kami.
Kalau suatu hari aku memilihnya lagi, aku ingin keputusan baru, risiko baru, dan kepercayaan yang dibangun baru.
Malam itu aku membuka chat Amanda.
Aku: Besok setelah meeting ada waktu?
Amanda: Ada.
Aku: Kopi?
Amanda: Boleh.
Ini pertama kalinya sejak reuni aku yang mengajak. Aku belum tahu akan mengatakan apa. Aku hanya tahu aku sudah selesai membawa cincin lama ke masa depan yang belum diputuskan.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
Aku tidak ingin cincin lama menjadi shortcut menuju janji lama. Benda itu milik dua orang yang pernah gagal menjaga sesuatu yang mereka kira tidak mungkin hilang. Menjualnya terasa seperti mengakui hubungan pertama kami selesai tanpa mengatakan semua cintanya sia-sia. Justru karena cinta itu pernah nyata, aku ingin hubungan berikutnya—kalau ada—lahir dari keputusan baru, bukan nostalgia.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama reading
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu