Chapter Twenty Five
Empat Belas Bulan
POV: Amanda Rigby
Empat belas bulan cukup lama untuk membuat kebiasaan berhenti terasa seperti luka. Aku sekarang selalu membawa charger sendiri, menulis tanpa daun bawang ketika memesan, dan menyimpan payung kecil di kantor.
Bukan karena ingin menggantikan Fandy. Aku akhirnya belajar mengurus hal-hal yang dulu tanpa sadar kubiarkan dia tangani.
Aku tidak menghubunginya selama empat belas bulan. Bukan karena berhenti mencintai. Aku pernah berjanji tidak akan mengganggu, dan akhirnya belajar bahwa mencintai seseorang tidak memberiku hak untuk terus mengetuk pintunya.
Aku bekerja, pindah agency, mulai berlari Minggu pagi bersama Keisha meskipun tetap membencinya, dan lebih sering mengunjungi orang tua. Hidup berjalan.
Adrian sesekali muncul di lingkaran profesional. Kami bisa menyapa tanpa sesuatu bergerak di dadaku. Masa lalu akhirnya berada di tempat yang benar.
Lalu Senin pagi creative director mengumumkan proyek fintech besar dan memperkenalkan tim partner yang akan bekerja bersama kami tiga bulan.
Pintu ruang meeting terbuka. Aku mengenali Fandy seketika.
Rambutnya sedikit lebih pendek. Kemejanya berbeda. Cara dia berjalan terasa lebih santai, seolah tidak lagi berusaha mengecilkan keberadaannya. Dia sedang tertawa dengan laki-laki di sebelahnya.
Matanya menemukan aku. Ada satu jeda kecil. Lalu dia tersenyum. “Hai, Manda.”
Aku memaksa tubuhku kembali bekerja. “Hai, Fan.”
Laki-laki di sebelahnya bernama Dimas. Rupanya mereka satu tim dan Fandy menjadi lead proyek. Lead. Aku teringat Fandy yang dulu selalu berkata tidak suka mengurus orang.
Meeting dimulai. Fandy profesional. Tidak dingin, tidak terlalu ramah. Ketika aku menyampaikan ide, dia menanggapi seperti orang lain. Ketika bercanda, dia tidak menghindari melihatku.
Itu justru lebih sulit. Aku pernah membayangkan reuni ini dengan Fandy marah, mengabaikanku, atau masih terlihat terluka. Aku tidak pernah membayangkan dia akan terlihat baik-baik saja.
Setelah meeting, Dimas mengajak semua orang makan siang. Aku hampir menolak, tetapi itu akan terlihat aneh.
Di restoran aku duduk tiga kursi dari Fandy. Dia berbicara lebih banyak daripada dulu. Bukan menjadi orang lain, hanya lebih nyaman mengambil ruang.
Seorang rekan bertanya bagaimana aku dan Fandy saling kenal. Aku belum sempat menjawab.
Fandy berkata ringan, “Teman lama.”
Dua kata itu masuk pelan tetapi dalam.
Aku tersenyum. “Iya. Lama banget.”
Fandy menatapku sepersekian detik, lalu percakapan bergerak.
Aku menerima definisinya. Tidak mengoreksi bahwa kami pernah pacaran, pernah hampir menikah tanpa aku tahu, pernah menjadi rumah satu sama lain.
Semua itu benar, tetapi bukan hakku untuk memaksanya menjadi identitas kami sekarang.
Ketika makan selesai, aku melihat Fandy mengeluarkan ponsel dan tertawa membaca pesan. Dulu aku pasti tahu siapa yang mengirim. Sekarang aku tidak tahu apa-apa.
Ada seluruh kehidupan Fandy yang terbentuk selama empat belas bulan tanpa aku.
Aneh, tetapi rasa sakitnya berbeda dari dulu. Tidak lagi seperti hukuman. Lebih seperti fakta.
Di lift kantor aku menatap pantulan sendiri. Aku masih mencintainya. Pengakuan itu tidak membuatku panik.
Aku juga tahu cinta itu tidak memberiku hak apa pun.
Kalau aku ingin mengenal Fandy lagi, aku harus mengenal lelaki yang berdiri di ruang meeting tadi, bukan mencoba menghidupkan lelaki yang kutinggalkan empat belas bulan lalu.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
Perubahan Fandy tidak terlihat seperti transformasi dramatis. Tidak ada orang baru yang sama sekali asing. Justru yang membuatku terpukul adalah aku masih mengenali semua bagian dasarnya, tetapi sekarang bagian-bagian itu berdiri tanpa bergantung padaku.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan reading
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu