← Back Off

Chapter Eighteen

Aku Cinta Kamu

POV: Amanda Rigby

Sabtu malam seharusnya aku bersama Fandy. Dia hanya bilang jam tujuh dan menyuruhku kosong.

Sekarang pukul tujuh lewat dua puluh dan aku duduk di kamar sendiri.

Keisha datang membawa makanan yang tidak kusentuh. Aku menceritakan pertanyaan Fandy tentang menikah dan diamku.

“Empat detik,” kataku.

“Jangan hitung.”

“Aku mau nikah sama dia. Kenapa aku nggak langsung jawab?”

Keisha tidak memberiku jawaban.

Dua hari kemudian Fandy akhirnya setuju bertemu.

Apartemennya masih sama. Sandalku masih dekat rak. Mug kuningku masih ada. Semua bukti bahwa aku pernah punya tempat di hidupnya masih ada.

Fandy duduk di kursi seberang, bukan di sampingku.

“Aku sudah nggak ketemu Adrian. Aku sudah bilang ke dia aku nggak mau lanjut bahas apa pun.”

“Oke.”

“Fan, jangan cuma oke.”

“Kamu mau aku bilang apa?”

“Bahwa kita bisa benerin ini.”

Fandy menatapku lama. “Aku nggak tahu.”

“Aku tahu aku salah.”

“Salahnya apa?”

Aku berhenti. “Aku penasaran kalau dulu kami nggak putus.”

“Sekarang sudah tahu?”

“Iya.”

“Apa?”

“Aku mau kamu. Aku cinta kamu.”

Fandy menutup mata sebentar. “Aku tahu.”

“Terus kenapa?”

“Karena ternyata itu belum cukup. Aku nggak pernah ragu kamu cinta aku. Tapi waktu masa lalu kamu datang, kamu perlu cari tahu apakah hidup kamu seharusnya ada di sana.”

“Aku sudah tahu sekarang.”

“Iya.”

“Kenapa itu nggak cukup?”

Fandy diam.

“Aku salah. Tapi aku nggak selingkuh.”

“Aku nggak bilang kamu selingkuh.”

“Aku nggak pernah cium dia. Nggak pernah bilang mau balik.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa rasanya aku dihukum?”

Wajah Fandy berubah.

“Aku nggak menghukum kamu.”

“Kamu menjauh.”

“Karena aku sakit.”

Aku berhenti. Itu pertama kalinya dia mengatakannya. Bukan marah. Sakit.

Air mataku jatuh. Fandy refleks bergerak ke arahku lalu berhenti.

“Aku minta maaf. Aku bisa perbaiki.”

“Mungkin.”

Aku benci kata itu. Dulu masa depan kami selalu memakai nanti. Sekarang semuanya menjadi mungkin.

“Aku pilih kamu.”

“Aku dengar.”

“Percaya aku.”

Wajahnya runtuh sedikit. “Aku pengin.”

Dua kata itu menghancurkanku lebih dari penolakan.

Fandy akhirnya memelukku. Aku mencengkeram kausnya.

Pelukannya bukan janji bahwa semuanya baik-baik saja. Pelukan seseorang yang masih menyayangiku dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan rasa sayang itu.

Ketika kami melepaskan diri, Fandy berkata pelan, “Kita perlu berhenti dulu.”

“Berhenti apa?”

Fandy tidak langsung menjawab.