← Back Off

Chapter Seventeen

Dibatalkan

POV: Fandy Pramudia

Aku tidak tidur malam itu. Jam lima pagi aku masih duduk di ruang kerja dengan kotak cincin di meja.

Ponselku berisi pesan Amanda.

Amanda: Aku minta maaf.

Amanda: Aku nggak bermaksud bikin kamu mikir aku nggak pilih kamu.

Amanda: Please jawab.

Amanda: Aku cinta kamu.

Jam delapan aku menelepon restoran.

“Reservasi Fandy Pramudia, malam ini pukul tujuh?”

“Iya.”

“Ada yang ingin diubah?”

Aku melihat kotak cincin. “Dibatalkan saja.”

Petugas menjelaskan deposit tidak bisa dikembalikan. Aku bilang tidak masalah.

Dua bulan persiapan hilang dalam percakapan kurang dari dua menit.

Aku menghubungi florist. Bunganya belum dirangkai. Aku bilang tidak perlu.

Kemudian mengirim pesan kepada Raka.

Aku: Batal.

Raka: Gue ke tempat lo.

Aku: Jangan.

Raka: Gue nggak nanya.

Empat puluh menit kemudian dia datang. Aku menceritakan pertanyaan Adrian, pertemuan Amanda, pertanyaanku, dan empat detik itu.

“Dia bilang nggak?”

“Nggak.”

“Dia bilang iya?”

Aku menatapnya.

Raka duduk. “Lo mau putus?”

“Aku belum tahu. Gue cuma nggak bisa melamar dia malam ini.”

Raka melihat kotak cincin. “Amanda tahu?”

“Nggak.”

“Kasih tahu?”

Aku menggeleng. Kalau Amanda tahu ada cincin, restoran, bunga, dan restu orang tua, aku tidak akan pernah tahu apakah jawaban berikutnya datang dari cinta atau rasa bersalah.

Siang hari Amanda datang. Bel berbunyi tiga kali.

Amanda: Aku di depan.

Aku tidak membuka. Telepon masuk dan akhirnya kuangkat.

“Fan. Aku cuma mau ngomong.”

“Nanti.”

“Kenapa aku nggak boleh masuk?”

“Karena kalau aku lihat kamu nangis, aku bakal langsung sibuk bikin kamu berhenti nangis. Aku belum ngerti apa yang aku mau.”

Amanda diam. “Aku sudah tahu jawabannya.”

“Apa?”

“Aku pilih kamu.”

Aku menatap kotak cincin. Tiga kata yang kemarin mungkin membuatku menjadi orang paling bahagia di dunia. Sekarang datang setelah sesuatu terlanjur berubah.

“Aku dengar.”

“Buka pintunya.”

Aku tidak bergerak.

“Aku nggak akan ketemu Adrian lagi.”

“Ini bukan soal larangan. Kalau aku harus melarang kamu supaya merasa aman, kita punya masalah lain.”

“Aku minta maaf.”

“Aku tahu.”

“Please.”

“Pulang dulu, Manda.”

Beberapa menit kemudian suara lift terdengar.

Baru setelah itu aku membuka pintu. Di lantai ada paper bag kecil.

Di dalamnya ada kemeja yang seharusnya kupakai malam ini. Sudah disetrika. Ada sticky note.

Pakai malam ini. Jangan jelek-jelek.

Kemeja kugantung di lemari. Cincin kumasukkan ke laci paling belakang.

Pukul tujuh lewat lima aku duduk di apartemen dalam kaus lama.

Di tempat lain, meja rooftop yang kupesan mungkin sudah diberikan kepada orang lain.

Kalenderku kosong.