Chapter Twelve
Seandainya
POV: Amanda Rigby
Aku datang ke kafe dengan keyakinan bahwa makan siang dengan Adrian akan membuat semuanya kembali biasa.
Dia sudah duduk dekat jendela. Di depannya ada dua gelas.
“Es teh?”
“Tanpa lemon.”
Aku menarik kursi. “Kamu masih ingat?”
“Beberapa hal susah dilupain.”
Kami mulai dari pekerjaan. Proyek Adrian, klienku, harga sewa kantor, lalu macet Jakarta.
Aman.
Normal.
Sampai dia menyebut dua teman kuliah kami yang baru menikah setelah bertahun-tahun putus nyambung.
“Kadang orang memang muter dulu,” kata Adrian.
Aku menatapnya.
Dia langsung menggeleng. “Bukan ngomongin kita.”
“Aku nggak bilang.”
“Mukamu.”
“Jangan mulai.”
Makanan datang. Aku membuka ponsel.
Fandy: Jangan lupa Sabtu jam tujuh.
Aku tersenyum.
Aku: Iya.
“Kamu bahagia?” tanya Adrian.
Aku mengangkat kepala. “Apa?”
“Sama Fandy.”
“Iya.”
Jawabannya keluar tanpa berpikir.
Adrian mengangguk. “Bagus.”
Tidak ada rayuan. Tidak ada usaha menjatuhkan Fandy. Justru itu yang membuatku santai.
Aku balik bertanya tentang Singapura. Adrian bercerita tentang pekerjaan pertamanya, apartemen kecil, dan ayahnya yang sempat masuk rumah sakit.
“Kenapa akhirnya balik?”
“Capek.”
“Kerja?”
“Semuanya.”
Dia memutar gelas. “Awalnya gue pikir kalau pulang berarti gue gagal. Terus bokap sakit. Gue baru sadar gue tahu kondisi proyek kantor lebih detail daripada kondisi orang rumah.”
“Jadi pulang?”
“Iya.”
“Permanen?”
“Permanen.”
Satu kata itu masuk terlalu dalam.
Enam tahun lalu, kalau Adrian mengucapkannya, mungkin hidupku berubah. Aku mungkin tidak pernah bertemu Fandy.
Pikiran itu datang cepat.
Aku langsung menolaknya.
Terlambat enam tahun.
Tidak relevan.
Setelah makanan habis, Adrian memesan kopi. Aku tidak.
Dia tertawa. “Masih nggak bisa kopi siang?”
“Kalau mau aku telepon jam dua pagi karena insomnia, silakan.”
“Dulu juga begitu.”
“Kamu masih ingat?”
“Dulu hidup gue banyak isinya lo.”
Tanganku berhenti.
Adrian terlihat sadar kalimatnya terdengar terlalu dekat. “Sorry.”
“Nggak apa-apa.”
Seharusnya aku mengubah topik.
Sebaliknya aku bertanya, “Dulu kamu marah banget sama aku, ya?”
“Lo juga.”
“Aku pikir kamu egois.”
“Gue pikir lo egois.”
“Fair.”
Enam tahun membuat luka lama tidak lagi tajam.
“Aku pikir kalau kamu cinta, kamu bakal tinggal.”
Adrian mengangguk. “Gue pikir kalau lo cinta, lo bakal ikut.”
“Kita bodoh.”
“Kita muda.”
“Beda tipis.”
Dia tertawa.
Lalu berkata, “Lucu ya. Kita putus bukan karena berhenti sayang.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu benar. Karena benar, aku tidak langsung tahu harus menjawab apa.
“Kita sudah beda sekarang,” kataku.
“Iya.”
“Aku sama Fandy.”
“Gue tahu.”
“Aku serius sama dia.”
“Gue tahu, Manda.”
Adrian melihat jalan di luar jendela.
Kemudian bertanya pelan, “Kalau waktu itu gue milih tinggal, menurut lo kita masih bersama?”
Suara di kafe seperti mundur.
Aku membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
Bukan iya. Bukan tidak. Hanya terlalu banyak kemungkinan yang selama enam tahun tidak pernah kubutuhkan.
Adrian menggeleng kecil. “Sorry. Nggak usah dijawab.”
“Kenapa tanya?”
“Sejak ketemu lo lagi, gue kepikiran.”
“Aku sama Fandy,” kataku lagi.
“Iya.”
“Aku nggak akan—”
“Gue nggak minta apa-apa.”
Kami berpisah di depan kafe tanpa pelukan.
Di taksi aku membuka chat Fandy. Ada foto blazer milikku yang tertinggal di mobilnya.
Fandy: Besok aku bawain.
Aku: Makasih ❤️
Aku ingin mengetik: Adrian tadi nanya sesuatu yang aneh.
Tidak jadi.
Di kantor, Keisha melihat wajahku dan langsung menarik kursi.
Aku menceritakan pertanyaan Adrian.
“Terus lo jawab?”
“Nggak.”
“Mau jawab?”
“Nggak tahu.”
Aku cepat menambahkan, “Bukan berarti aku mau balik. Aku cinta Fandy.”
Keisha meletakkan garpu. “Gue nggak bilang lo nggak cinta.”
“Terus ngomong sesuatu.”
“Kalau pertanyaan itu nggak penting, kenapa lo segelisah ini?”
Aku diam.
“Kalau ternyata penting, yang perlu lo pikirin bukan jawabannya. Tapi kenapa lo perlu tahu.”
Menjelang sore Fandy mengirim foto kemeja yang kubelikan.
Fandy: Sabtu ini?
Aku: Pakai.
Fandy: Oke.
Aku menekan tombol telepon.
Dia mengangkat setelah dua dering.
“Kenapa?”
“Love you.”
Ada jeda pendek.
“Love you too.”
Aku tersenyum. “Sudah.”
“Telepon cuma buat itu?”
“Iya.”
“Aneh.”
“Biarin.”
Panggilan berakhir.
Aku mencintai Fandy. Itu jelas.
Yang tidak jelas adalah kenapa satu pertanyaan mustahil dari enam tahun lalu masih menunggu jawaban di kepalaku.
Sebelum pulang, Keisha menghentikanku di dekat lift.
“Lo mau cerita ke Fandy?”
Aku menatap angka lantai yang bergerak.
“Cerita apa?”
“Pertanyaannya.”
“Aku nggak tahu.”
“Kenapa?”
Aku menghela napas. “Karena kalau aku cerita, kedengarannya kayak ada sesuatu. Padahal nggak ada.”
Keisha tidak langsung menjawab.
“Dan kalau lo nggak cerita?”
Aku menatapnya.
“Itu juga bikin sesuatu?”
Pintu lift terbuka.
Aku masuk tanpa jawaban.
Di perjalanan pulang, aku mencoba membayangkan percakapan dengan Fandy.
Adrian nanya kalau dulu dia tinggal, kami masih bersama atau nggak.
Lalu apa?
Fandy mungkin akan mengangkat alis dan bertanya aku jawab apa.
Aku akan bilang tidak tahu.
Setelah itu aku harus menjelaskan kenapa tidak tahu.
Bagian itulah yang tidak ingin kuhadapi.
Bukan karena aku ingin Adrian.
Aku tidak ingin.
Kalau Adrian mengajakku kembali hari ini, jawabanku akan tidak.
Aku yakin.
Tetapi pertanyaannya bukan tentang hari ini.
Pertanyaannya tentang perempuan berusia dua puluh tiga tahun yang pernah berdiri di bandara dan berharap Adrian memilih tinggal.
Perempuan itu masih ada sebagai ingatan.
Dan ternyata dia masih ingin tahu apakah dulu dia cukup penting.
Ketika sampai rumah, aku membuka pintu apartemen dan melihat blazer yang Fandy bilang akan dibawanya besok tidak ada di sana.
Tentu saja tidak ada.
Dia belum datang.
Aku tertawa kecil pada diri sendiri.
Aku sedang mencari kehadiran Fandy di benda-benda yang bahkan belum sampai.
Aku membuka chat kami.
Jempolku menekan kolom pesan.
Aku ketik:
Aku ketemu Adrian tadi.
Kuhapus.
Aku ketik lagi:
Dia nanya hal aneh.
Kuhapus lagi.
Akhirnya aku hanya mengirim:
Jangan lupa blazer besok.
Balasan Fandy datang beberapa menit kemudian.
Fandy: Siap, Bos.
Aku meletakkan ponsel di meja.
Pertanyaan Adrian masih belum punya jawaban.
Sekarang ada pertanyaan kedua yang ikut tinggal bersamanya.
Kenapa aku belum menceritakannya kepada Fandy?
Aku membuka laptop dan mencoba bekerja.
Lima menit kemudian kalimat Adrian kembali.
Kalau waktu itu gue milih tinggal, menurut lo kita masih bersama?
Aku tidak punya jawabannya.
Masalahnya, aku mulai ingin punya.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya reading
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu