← Back Off

Chapter Eleven

Dua Bulan

POV: Fandy Pramudia

Raka menelepon ketika aku sedang memilih dua buket bunga yang menurutku hampir identik.

“Yang kiri.”

“Kenapa?”

“Yang kanan kayak bunga meja resepsionis.”

Aku menyerah dan menunjuk buket kiri kepada florist. “Yang ini. Diambil Sabtu sore.”

Keluar dari toko, aku membuka catatan di ponsel. Restoran sudah dibayar depositnya. Meja rooftop sudah dikonfirmasi. Bunga selesai. Kemeja sudah ada. Restu Papa dan Mama Amanda sudah kudapat dua minggu lalu.

Cincin ada di lemari ruang kerja.

Dua bulan persiapan tinggal menunggu empat hari.

Ponselku berbunyi. Amanda mengirim foto makan siang: pasta, es teh, dan ujung tangan laki-laki di sisi meja. Jam tangannya kukenal.

Adrian.

Amanda: Sayurnya dikit. Jangan ceramah.

Aku: Tetap akan ceramah.

Amanda: Block.

Aku tertawa kecil.

Amanda sudah bilang akan makan dengan Adrian. Tidak ada rahasia. Mereka punya sejarah, tetapi sejarah bukan kejahatan.

Aku percaya Amanda.

Malamnya aku pulang dan menemukan sepatu Amanda dekat pintu apartemen. Dia berdiri di depan kulkas sambil membaca ponsel dan tersenyum sebelum sadar aku datang.

“Hai.”

“Hai.”

Dia menaruh ponsel di counter.

Sambil menunggu aku memasak, Amanda bercerita bahwa dia dan Adrian sempat berjalan melewati kampus lama. Toko fotokopi sudah berubah jadi minimarket. Warung nasi goreng masih ada. Gedung tempat mereka pernah dimarahi satpam juga masih berdiri.

Aku mendengarkan.

Tidak ada yang salah dengan cerita itu. Tetapi untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat ada versi Amanda sebelum aku. Ada jalan, makanan, kebiasaan, dan lelucon yang dibangun bersama orang lain.

Ponselnya bergetar.

Amanda tersenyum.

“Adrian?”

“Iya. Nih.”

Dia menunjukkan foto gedung tua.

“Katanya dulu aku maksa masuk karena lihat mural.”

“Berhasil?”

“Nggak.”

“Berarti dari dulu suka bikin masalah.”

“Fitnah.”

Kami makan. Amanda mengambil telur dari piringku seperti biasa.

Setelah itu kami pindah ke sofa. Kakinya naik ke pahaku. Aku membuka laptop sementara dia menonton video.

Ponselnya menyala lagi.

Beberapa menit kemudian menyala sekali lagi.

Aku menutup laptop.

Amanda menoleh. “Sudah?”

“Besok aja.”

Dia menyandarkan kepala ke bahuku.

“Kamu aneh.”

“Aneh gimana?”

“Lebih diam.”

“Capek.”

“Kerjaan?”

Aku bisa mengatakan nama Adrian saat itu. Tidak sebagai tuduhan. Cuma sebagai pengakuan bahwa aku sedang tidak nyaman.

Kemudian aku teringat kotak cincin di ruang kerja.

Empat hari lagi.

Aku tidak mau menciptakan pertengkaran dari rasa yang bahkan belum kupahami sendiri.

“Iya. Kerjaan.”

Amanda memandangku beberapa detik, lalu kembali bersandar.

Menjelang tidur, dia masuk kamar mandi. Ponselnya tertinggal di kasur.

Layar menyala.

Nama Adrian muncul.

Aku sengaja memalingkan mata sebelum membaca preview.

Gerakan itu membuatku kesal. Selama tiga tahun aku tidak pernah perlu menghindari layar ponsel Amanda.

Amanda keluar sambil mengeringkan wajah.

“Fan. Sabtu jadi, kan?”

“Jadi.”

“Ke mana?”

“Rahasia.”

“Aku harus dandan cantik?”

“Biasanya nggak cantik?”

Dia membeku. “Wah.”

“Tidur.”

“Ulang.”

“Nggak.”

Amanda naik ke kasur dan mencubit pipiku. Aku menangkap tangannya. Dia tertawa lalu mencium pipiku.

Untuk beberapa menit semua kegelisahan terasa bodoh.

Pagi berikutnya aku membuka lemari ruang kerja dan mengambil kotak cincin. Batu kecil itu menangkap cahaya dari jendela.

Aku membayangkan jari Amanda.

Kemudian teringat senyumnya ketika membaca pesan Adrian.

Aku menutup kotak.

“Bodoh,” gumamku.

Amanda tidak melakukan apa-apa.

Aku menyimpan cincin kembali.

Sore sebelum pulang, aku sempat membuka chat Amanda dan menggulir beberapa hari ke belakang. Bukan mencari bukti. Justru aku ingin memastikan tidak sedang menciptakan masalah sendiri.

Isinya membosankan dalam cara yang menenangkan.

Foto sarapan. Keluhan soal klien. Permintaan agar aku membawa blazer yang tertinggal di mobil. Voice note tiga puluh detik tentang AC kantor yang terlalu dingin.

Aku berhenti di foto makan siang bersama Adrian.

Tidak ada caption aneh.

Tidak ada yang disembunyikan.

Aku mengunci ponsel.

Malam berikutnya Amanda datang lagi, kali ini membawa bakmi. Dia menaruh ponselnya di meja dan tidak menyentuhnya selama kami makan.

“Nggak dicek?” tanyaku tanpa berpikir.

Amanda menatapku. “Apa?”

“Ponsel.”

“Nanti.”

Aku langsung merasa bodoh.

Pertanyaanku terdengar seperti pemeriksaan.

Amanda tidak mempermasalahkan. Dia malah menggeser kotak dessert ke arahku.

“Yang cokelat buat kamu.”

“Kenapa?”

“Karena yang strawberry punyaku.”

“Berarti bukan buat aku.”

“Pintar.”

Aku tertawa.

Setelah makan dia tertidur di sofa. Ponselnya hampir jatuh dari tangannya. Aku mengambil dan meletakkannya di meja.

Layar menyala.

Bukan Adrian.

Peringatan baterai rendah.

Aku mengambil charger dan memasangnya.

Gerakan otomatis yang sudah kulakukan ratusan kali.

Aku berdiri sebentar dengan kabel di tangan.

Inilah hidup kami selama ini. Hal-hal kecil yang dilakukan tanpa perlu dibicarakan. Aku tahu baterainya sering mati. Dia tahu aku tidak suka dessert terlalu manis. Tidak ada yang menghitung siapa memberi lebih banyak.

Aku tidak ingin nama Adrian mengubah semua itu menjadi sesuatu yang harus diperiksa.

Ketika Amanda terbangun, dia melihat ponselnya sedang mengisi daya.

“Thank you.”

“Hm.”

Dia mencium pipiku.

Aku memutuskan sekali lagi bahwa kalau ada sesuatu yang memang perlu dibicarakan, aku akan bicara.

Bukan malam ini.

Bukan berdasarkan notifikasi yang bahkan tidak kubaca.

Di kantor Raka menelepon. Setelah mendengar ceritaku, dia berkata, “Kalau sampai lo bahas ini sama gue, berarti ada yang ganggu.”

“Dia nggak ngapa-ngapain.”

“Gue nggak bilang dia ngapa-ngapain. Ngomong sama dia.”

Aku belum menjawab ketika ponselku berbunyi.

Amanda: Sabtu jangan batal ya. Aku sudah nolak kerjaan buat kamu.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Aku: Nggak batal.

Emoji hati muncul.

Aku memandang kalender di monitor.

Sabtu, pukul tujuh malam.

Reservasi masih di sana.

Aku tidak mengubah apa pun.