← Back Off

Chapter Twenty Three

Terlambat

POV: Amanda Rigby

Aku menunggu lima hari sebelum pergi ke apartemen Fandy. Lima hari tidak mengubah apa pun. Aku tetap bangun memikirkannya dan hampir mengirim foto kopi sebelum ingat kami tidak lagi melakukan itu.

Jumat sore aku membawa paper bag berisi barangnya. Lift terbuka dan aku melihat kardus di koridor. Raka keluar membawa kotak lalu membeku.

“Fandy pindah?” Raka menjawab dia mendapat posisi baru dan sekalian pindah. “Kapan?” “Besok.” Selama aku sibuk mencari jawaban, hidup Fandy tetap bergerak.

Fandy berdiri di ruang tamu dengan kotak di tangan. “Hai,” kataku. “Hai.” Suara yang sama, tetapi bukan milikku lagi.

Apartemen yang dulu penuh jejakku terlihat setengah kosong. Mug kuning masih di rak. Aku meminta bicara. Raka pergi tanpa komentar.

“Aku sudah selesai sama Adrian.” Fandy mengangguk. Aku menjelaskan kami tidak pernah mencoba kembali. “Aku cuma akhirnya ngerti.”

“Aku sudah tahu jawabannya.” Fandy berkata, “Bagus.” Aku menelan ludah. “Jawabannya kamu.”

Aku ingin menemukan lega atau cinta di matanya. Yang ada hanya kelelahan. Ketika kubilang ingin memperbaiki kami, dia menjawab, “Kita sudah selesai.”

Aku berkata masih mencintainya. Dia menjawab, “Aku tahu.” Aku mengulang bahwa aku sudah tahu jawabannya. Fandy menatapku lama. “Bagus. Tapi aku nggak nunggu jawabannya, Manda.”

Kalimat itu terasa seperti pintu yang benar-benar ditutup. Aku tidak meminta dia langsung kembali, hanya kesempatan. Fandy menjawab dia belum punya kesempatan itu untuk diberikan.

Aku bertanya apakah dia pindah karena aku. Tidak. Tawaran kerja itu sudah dipikirkan beberapa bulan. Ada bagian hidup Fandy yang ternyata juga tidak kukenal.

“Kamu bakal baik-baik aja?” Fandy tersenyum kecil. “Iya.” Aku percaya. Itu bagian yang paling menyakitkan: Fandy akan baik-baik saja tanpa aku.

Di depan pintu aku berkata tidak akan mengganggunya. Kalau suatu hari dia mau bicara, aku masih ada. Aku tidak menunggu jawaban.

Besok Fandy akan pindah. Untuk pertama kalinya aku benar-benar tidak tahu kapan akan melihatnya lagi.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.

Aku ingin meminta Fandy menunggu sedikit lagi, tetapi langsung sadar betapa egoisnya permintaan itu. Dia sudah menunggu ketika aku belum tahu sedang membuatnya menunggu. Sekarang waktunya bukan lagi sesuatu yang bisa kuminta sesuka hati.