Chapter Twenty Two
Sekarang Aku Tahu
POV: Amanda Rigby
Aku bertemu Adrian sekali lagi seminggu kemudian dengan kotak berisi tiket konser, foto, kartu ulang tahun, dan gantungan kunci dari hubungan kami dulu.
Kami melihat foto usia dua puluh dua. Adrian berkata, “Gue sayang banget sama lo waktu itu.” Aku menjawab, “Aku juga.” Mengakui cinta yang pernah ada sekarang tidak lagi terasa seperti ancaman.
Adrian berkata, “Lo nggak datang ke gue karena mau kembali. Lo datang karena mau tahu apa dulu kita seharusnya nggak berakhir.” Air mataku memenuhi mata.
“Sekarang lo sudah tahu.” Aku mengangguk. Ketika dia bertanya jawabannya apa, aku berkata, “Nggak penting.” Tidak ada cara mengetahui alternate timeline lebih baik atau buruk.
Yang penting adalah hidup yang benar-benar terjadi. Di hidup itu aku bertemu Fandy, mencintainya, membuat kesalahan, dan kehilangan dia.
Kami membagi barang-barang lama sambil bercanda. Tidak ada pelukan dramatis. Ketika kotak kosong, rasanya ringan.
Adrian bertanya apakah aku akan mencari Fandy. Aku menjawab iya, tetapi hanya ketika bisa datang tanpa merasa Fandy wajib menerima karena aku sudah menyesal.
Aku tidak membutuhkan Adrian mendapat pasangan baru agar kisah kami selesai. Dia juga tidak membutuhkan aku. Itu tanda paling jelas bahwa kami memang sudah menjadi masa lalu.
Sebelum berpisah kami berjabat tangan. Adrian bercanda agar lain kali kami bertemu jangan sambil menghancurkan hubungan orang. Aku memukul lengannya. Dia menjawab, “Realistis.”
Di rumah aku melipat kaus Fandy yang masih ada dan memasukkannya ke paper bag bersama barang miliknya. Bukan trik untuk menemuinya. Barang itu memang harus kembali.
Keisha menelepon. Aku berkata, “Aku kehilangan orang yang benar-benar aku mau karena sibuk mencari jawaban tentang orang yang sebenarnya sudah selesai.”
Untuk pertama kalinya aku tidak ingin seseorang mengurangi rasa sakitku. Aku perlu merasakannya sebagai konsekuensi, bukan hukuman.
Fandy pernah memberikan kepastian penuh. Aku membalasnya dengan keraguan. Kalau aku mendekatinya lagi, aku harus datang tanpa tuntutan.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
Menutup masa lalu ternyata tidak terasa seperti membakar semuanya. Justru sebaliknya. Aku bisa mengakui bahwa kami pernah bahagia tanpa menjadikan kebahagiaan itu alasan untuk kembali. Kenangan tidak harus dimusnahkan supaya berhenti menguasai arah hidup.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu reading
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu