Chapter Twenty Eight
Bukan Hukuman
POV: Amanda Rigby
Setelah presentasi aku bertanya, “Fan. Kamu masih marah sama aku?” Fandy menjawab tidak tanpa perlu berpikir lama.
Jawaban tidak justru lebih menyakitkan. Selama empat belas bulan aku membayangkan jarak kami berasal dari marah yang belum selesai.
Ketika kutanya apakah dia sudah memaafkan, Fandy berkata, “Sudah lama.”
“Lalu kenapa rasanya kamu jauh sekali?”
Fandy menatapku dan menjawab, “Karena memaafkan kamu nggak berarti aku harus kembali jadi orang yang dulu.”
Aku mengaku kadang tidak tahu batas. Fandy berkata aku bisa bertanya. Kalau aku mengajak makan, dia bisa iya atau tidak. Kalau aku melewati batas, dia akan bilang.
Fandy lama mungkin menahan tidak nyaman sampai aku menyadari sendiri. Yang sekarang akan mengatakan tidak.
“Kamu berubah.” Fandy menjawab semua orang berubah. Ketika kubilang dia lebih mudah mengatakan tidak, dia hanya berkata, “Belajar.”
Aku bertanya apakah karena aku. Jawabannya, “Bukan cuma.” Aku menerima. Empat belas bulan hidupnya tidak berputar hanya pada breakup kami.
Ketika kubilang aku juga berubah, rasanya seperti sedang menjual diri. Fandy tersenyum dan berkata dia tahu karena sekarang aku membawa charger.
Aku tertawa. Untuk beberapa detik ruangan terasa ringan.
Aku mengatakan tidak akan meminta dia percaya aku berubah. Aku hanya ingin dia tahu aku mengerti bahwa maaf bukan utang akses.
Fandy berkata, “Bagus.” Kali ini kata itu tidak terasa seperti pintu tertutup.
Aku sadar dia bukan sedang menghukumku. Tidak ada ujian rahasia yang kalau kulewati akan otomatis mengembalikan hubungan.
Kalau perubahan hanya bertahan jika Fandy menjadi hadiah, berarti aku belum berubah.
Aku boleh berharap. Aku tidak boleh menagih.
Kami adalah dua orang dewasa yang bebas memilih seberapa dekat ingin berdiri. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar menerima itu.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
Aku boleh berharap, tetapi harapan tidak boleh berubah menjadi tagihan. Kalau Fandy mendekat, itu harus karena pilihannya sendiri, bukan karena aku menunjukkan penyesalan dengan cukup meyakinkan.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman reading
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu