← Back Off

Chapter Two

Ukuran

POV: Fandy Pramudia

Kesalahan Amanda adalah menganggap aku tidak memperhatikan.

Bukan kesalahan besar. Lebih tepatnya kebiasaan.

Dia bisa menyebut sesuatu sambil lalu enam bulan lalu lalu terkejut ketika aku masih mengingatnya. Bisa bilang tidak suka satu jenis saus sekali dan kemudian menatapku seperti aku melakukan sulap ketika makanan pesanannya datang tanpa saus itu.

Aku tidak pernah merasa perlu menjelaskan bahwa mengingat Amanda tidak sulit.

Hari itu kami sedang menunggu meja restoran ketika dia tiba-tiba berhenti di depan toko perhiasan.

“Lihat.”

Aku mengikuti arah jarinya.

Sebuah cincin dengan batu sebesar sesuatu yang seharusnya dipasang di lampu gantung dipajang di etalase.

“Bagus,” kataku.

Amanda menoleh tajam. “Kamu bahkan belum lihat.”

“Aku lihat.”

“Bohong.”

Dia menarik tanganku masuk.

Lima menit kemudian aku duduk di kursi kecil sambil melihat seorang pegawai memasangkan cincin ke jari manis Amanda.

“Kebanyakan.”

Amanda mengangkat tangannya di depan wajahku. Batu besar itu menangkap cahaya dari segala arah.

“Bagus.”

“Jawaban cowok yang pengin cepat keluar.”

Aku tersenyum.

“Serius. Kalau aku pakai ini ke meeting, klien nggak dengar presentasiku. Fokusnya ke tangan.”

“Bisa jadi strategi.”

“Supaya?”

“Distraksi kalau presentasinya jelek.”

Mulut Amanda terbuka.

“Jahat.”

“Realistis.”

“Kenapa semua pembelaanmu realistis?”

“Karena benar.”

Amanda mendengus lalu meminta mencoba model lain.

Pegawai toko mengeluarkan cincin yang jauh lebih sederhana. Satu batu kecil, lingkar tipis, tanpa ornamen berlebihan.

Begitu dipasang, ekspresi Amanda berubah.

“Nah.”

“Kamu suka?”

“Kalau cincin, aku sukanya yang begini. Simpel. Nggak ribet. Bisa dipakai tiap hari.”

Aku melihat cincin itu, lalu label ukuran yang diletakkan pegawai di atas bantalan.

Aku mengingat angkanya.

Amanda melepas cincin dan menyerahkannya kembali.

“Meja kita kayaknya sudah siap. Ayo.”

Tanganku ditarik keluar sebelum aku sempat mengatakan apa pun.

Memang tidak ada yang perlu dikatakan.

Belum.

Tiga hari kemudian aku kembali sendirian.

Pegawai yang sama mengenaliku.

“Yang kemarin sama pasangannya, ya, Pak?”

“Iya.”

Ada rasa aneh mendengar kata pasangan dari orang asing. Bukan karena salah. Justru karena terdengar terlalu biasa untuk sesuatu yang sudah menjadi bagian terbesar hidupku selama tiga tahun empat bulan.

Aku menunjuk model yang pernah dicoba Amanda.

“Yang seperti itu.”

Pegawai tersebut menjelaskan bahan, kejernihan batu, potongan, sertifikat, dan banyak istilah yang sejujurnya tidak terlalu kupahami.

Aku mendengarkan.

Sesekali bertanya.

Lalu kembali ke satu hal yang kuketahui.

“Jangan terlalu ramai.”

“Baik.”

“Dia nggak suka.”

Pegawai itu tersenyum. “Yang kemarin memang kelihatannya lebih suka model clean.”

Aku mengangguk.

Kami memilih beberapa opsi.

Aku memotret tiga dan mengirimkannya ke Raka.

Yang tengah. Jangan sok kreatif. Ini cincin, bukan UI aplikasi.

Aku mengetik balasan.

Kenapa gue nanya lo.

Karena lo panik.

Nggak.

Lo chat gue jam kerja soal cincin.

Aku mematikan layar.

“Sudah ada tanggalnya, Pak?” tanya pegawai.

“Belum pasti.”

Padahal sebenarnya sudah.

Aku sudah menghubungi restoran rooftop tempat aku dan Amanda merayakan anniversary pertama. Bukan restoran mewah. Justru tempat kecil yang waktu itu dipilih Amanda karena katanya lampu kota terlihat bagus dari sana.

Dia pernah berkata ingin kembali.

Kami tidak pernah sempat.

Aku ingin membawanya ke sana dua minggu lagi.

Raka sudah tahu. Orang tua Amanda belum. Itu bagian yang masih harus kulakukan.

Aku melihat lagi cincin di depanku.

Aneh.

Benda sekecil itu bisa terasa seperti keputusan paling besar yang pernah kubuat.

Tapi keputusan itu sendiri tidak terasa berat.

Aku pernah berpikir lamaran seharusnya datang bersama semacam pencerahan. Momen ketika seseorang tiba-tiba tahu, dengan musik imajiner dan kepastian dramatis, bahwa inilah orangnya.

Tidak terjadi seperti itu.

Dengan Amanda, kepastian datang sedikit demi sedikit.

Saat dia pertama kali menarik kursi di sebelahku dalam meeting meskipun ada banyak tempat kosong.

Saat dia meminta nomor teleponku dan aku benar-benar mengira itu untuk urusan kerja.

Saat dia akhirnya berkata, dengan wajah frustrasi, “Fandy, aku lagi ngajak kamu kencan.”

Saat dia sakit dan tetap memaksa membalas surel kantor sampai aku mengambil laptopnya.

Saat kami bertengkar pertama kali dan dia kembali satu jam kemudian membawa dua es kopi karena katanya marah tidak berarti harus haus.

Saat dia mulai meninggalkan barang di apartemenku.

Saat aku menyadari satu hari yang buruk terasa lebih ringan kalau malamnya aku bisa mendengar suaranya.

Tidak ada satu momen besar.

Hanya ratusan momen kecil yang akhirnya mengarah ke satu kesimpulan.

Aku ingin hidupku terus seperti ini.

Dengan dia di dalamnya.

“Ukuran yang kemarin?” tanya pegawai.

Aku menyebut angkanya.

Dia memeriksa catatan lalu mengangguk.

“Betul.”

Amanda pasti akan menertawakanku kalau tahu aku mengingatnya hanya dengan melihat label selama beberapa detik.

Ponselku bergetar.

Amanda.

Kamu makan siang apa?

Pesan kedua masuk.

Kalau belum, jangan makan yang pedas. Kemarin perut kamu sakit.

Pesan ketiga.

Aku tahu kamu bakal bilang nggak sakit. Tetap jangan.

Aku mengetik.

Iya, Bu.

Balasan datang cepat.

Anak pintar ❤️

Aku mengunci ponsel.

“Pak?”

Pegawai itu menunjuk formulir pemesanan.

Aku membaca detailnya sekali lagi.

Model sederhana.

Ukuran tepat.

Tidak terlalu ramai.

Amanda.

Aku menandatangani.

“Untuk acara khusus?”

Aku memandang angka ukuran yang tercetak di salinan.

Tiga tahun empat bulan.

Rasanya sudah cukup lama untuk mengetahui jawabannya.

“Iya.”

Aku memasukkan salinan pesanan ke dompet.

“Buat lamaran.”

Mengatakannya keras-keras seharusnya membuatku gugup.

Anehnya tidak.

Aku justru teringat pertama kali Amanda datang ke apartemenku. Dia mengeluh tidak ada makanan, lalu membuka semua lemari dapur seperti rumahnya sendiri. Sebulan kemudian ada cereal favoritnya di sana. Dua bulan kemudian ada mug yang dia beli karena mug milikku katanya membosankan.

Sekarang mug itu selalu berada di rak paling depan.

Aku tidak tahu kapan ruang yang tadinya hanya milikku mulai punya bentuk dirinya.

Mungkin memang tidak ada tanggalnya.

Begitu juga keputusan ini.

Aku tidak bangun suatu pagi dan berpikir aku siap menikah. Aku hanya semakin sulit membayangkan keputusan besar tanpa otomatis memasukkan Amanda ke dalam perhitungannya.

Kalau pindah rumah, apakah jaraknya nyaman untuk kantornya?

Kalau mengambil proyek panjang, apakah waktuku dengannya akan terlalu sedikit?

Kalau suatu hari punya meja makan lebih besar, Amanda pasti akan menaruh bunga yang kemudian lupa dia ganti airnya.

Semua bayangan masa depan itu sudah memakai kata kami sebelum aku sadar.

Pegawai memberiku estimasi kapan cincin selesai.

Aku mencatatnya.

Dua hari sebelum tanggal yang kupilih.

Cukup.

Di luar toko, aku menelepon Raka.

“Jadi?”

“Sudah.”

“Yang tengah?”

“Iya.”

“Bagus. Setidaknya satu keputusan hidup lo benar karena dengar kakak.”

“Gue tutup.”

Raka tertawa. “Sudah ngomong sama Om?”

“Belum.”

“Nervous?”

“Sedikit.”

“Nah, itu baru manusia.”

Aku memandang orang-orang yang berjalan melewatiku.

“Amanda jangan sampai tahu.”

“Gue lebih takut sama lo daripada sama dia.”

“Itu bohong.”

“Betul.”

Aku menutup telepon sambil tersenyum.

Kemudian pesan Amanda masuk lagi.

Nanti malam jangan lupa aku ke tempat kamu.

Aku menjawab singkat.

Ingat.

Aku tidak mengatakan bahwa aku mengingat hampir semua hal tentangnya.

Tidak perlu.

Dua minggu lagi, kalau semuanya berjalan sesuai rencana, aku akan mengatakan hal yang jauh lebih penting.

Aku berharap Amanda bilang iya.

Dan untuk pertama kalinya sejak mulai merencanakan semuanya, aku tersenyum sendiri karena satu pikiran yang terasa terlalu pasti untuk dipertanyakan.

Tentu saja dia akan bilang iya.

Aku berjalan ke restoran sendirian dan memilih makanan yang tidak pedas, terutama karena aku tahu Amanda akan menanyakan itu nanti. Ketika pelayan meletakkan piring di depanku, aku memotret makanannya.

Bukti.

Aku mengirimkannya.

Balasan Amanda datang dengan stiker jempol dan satu kalimat.

Good boy.

Aku menggeleng.

Orang-orang mungkin membayangkan keputusan menikah lahir dari momen yang jauh lebih megah daripada ini. Dari perjalanan romantis, makan malam mahal, atau kesadaran dramatis setelah hampir kehilangan seseorang.

Bagiku tidak.

Aku ingin menikahi Amanda justru karena hal-hal seperti ini.

Karena dia akan mengomel soal makanan pedas ketika perutku sakit. Karena dia menelepon hanya untuk memastikan aku sudah sampai rumah. Karena aku selalu menyediakan charger dan dia selalu lupa mengembalikannya. Karena kami bisa berdebat dua puluh menit soal restoran lalu lima menit kemudian berbagi minuman yang sama.

Hidup bersamanya tidak terasa sempurna.

Terasa normal.

Dan aku menyukai normal itu.

Selesai makan, aku membuka dompet untuk membayar. Salinan pesanan cincin terlihat di belakang kartu.

Aku menyelipkannya lebih dalam.

Rahasia kecil.

Untuk dua minggu.

Setelah itu, kalau Amanda menjawab seperti yang kuyakini, tidak akan ada lagi alasan menyembunyikannya.

Aku bahkan sudah bisa membayangkan dia memukul lenganku karena berhasil membuatnya tidak curiga.

Pikiran itu membuatku tertawa sendiri.

Aku tidak tahu bahwa kepastian bisa terlihat sangat berbeda hanya dalam hitungan hari.