← Back Off

Chapter Thirty One

Tidak Ada Utang

POV: Fandy Pramudia

Aku tahu Amanda sedang berusaha tidak membuat usahanya terlihat seperti usaha. Dia tidak lagi mencari alasan duduk di sebelahku, tidak menambahkan makanan yang tidak kupesan, dan tidak mengubah setiap percakapan menjadi pembicaraan tentang kami.

Suatu sore prototype untuk presentasi klien tidak bisa dibuka. Amanda mengetahui masalah itu dari Dimas. Tanpa membuat dirinya menjadi pahlawan, dia menghubungi engineer agency-nya. Empat puluh menit kemudian prototype berjalan.

Aku menemukannya di pantry. “Makasih.”

“Sama-sama.”

“Aku traktir makan.”

“Nggak usah.”

“Kamu bantu.”

“Karena proyek kita sama.”

“Tetap.”

Amanda mengangkat bahu. “Nggak semuanya harus dibayar balik.”

Kalimat itu membuatku diam. Dulu dia akan bercanda bantuan harus dibayar kopi, makan, atau pelukan. Sekarang dia mengambil air lalu pergi tanpa menunggu apa pun.

Dimas masuk. “Mantan lo baik juga.”

Aku menatapnya. “Jangan bahas.”

Malam itu tim makan bersama. Amanda duduk jauh dariku. Seorang laki-laki dari tim klien meminta nomor pribadinya dan Amanda memberikannya.

Rasa cemburu datang cepat dan tidak masuk akal.

Amanda bukan pacarku. Aku tidak punya hak.

Setelah dia pulang, Dimas bertanya, “Lo masih sayang?”

“Pertanyaan lo kurang kerjaan.”

“Berarti iya.”

Aku tidak menjawab.

Di rumah aku membuka laci untuk mencari dokumen. Kotak cincin masih berada di belakang. Aku tidak menyentuhnya.

Empat belas bulan tidak menghapus tiga tahun empat bulan. Aku hanya belajar tidak mengikuti setiap perasaan.

Amanda tidak berutang kepadaku apa pun. Aku juga tidak berutang kesempatan kedua.

Tetapi kalimatnya terus kembali.

Nggak semuanya harus dibayar balik.

Kalau semua kebaikannya bukan strategi, aku harus menghadapi kemungkinan yang lebih sulit.

Dia memang berubah.

Dan aku masih belum tahu apa yang harus kulakukan dengan bagian diriku yang mulai ingin mendekat lagi.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.

Aku pernah mengira cara paling aman adalah menjaga semuanya sederhana: kerja adalah kerja, Amanda adalah masa lalu, dan perasaan tidak harus diikuti. Tetapi semakin Amanda berhenti meminta, semakin sulit bagiku memakai pertahanan lama. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu, namun aku juga tidak bisa terus menyebut semua kebaikannya strategi. Kalau aku mendekat, itu harus karena aku memilih, bukan karena rasa bersalah atau nostalgia.