← Back Off

Chapter Thirty Three

Tertawa Lagi

POV: Fandy Pramudia

Aku seharusnya tahu hari itu buruk ketika Dimas datang membawa dua laptop dan berkata, “Jangan marah.”

Klien mengubah requirement besar dua jam sebelum review. Amanda datang untuk sinkronisasi konten dan melihat papan penuh coretan.

“Wah.”

“Jangan.”

“Aku belum ngomong.”

“Mukamu ngomong.”

Dia berhenti. Aku juga. Kalimat lama.

Kami bekerja hampir satu jam. Ketika selesai, Dimas masuk.

“Gila. Kalian kalau kerja bareng kayak pasangan tua.”

Ruangan sunyi.

Amanda mengangkat tangan. “Nggak apa-apa. Pasangan tua biasanya punya aset. Kami cuma punya revisi.”

Aku tidak siap.

Tawa keluar begitu saja.

Bukan senyum kecil. Aku benar-benar tertawa.

Amanda menatapku. Ekspresinya berubah. Aku tahu kenapa.

Sudah lama sekali aku tidak tertawa seperti itu karena dia.

Amanda menambahkan, “Dan trauma deadline.”

Aku tertawa lagi.

Ketika tenang, mata kami bertemu. Untuk sepersekian detik tiga tahun empat bulan terasa sangat dekat.

Aku yang memutus kontak mata.

“Lanjut kerja.”

Amanda tidak mengomentari tawaku. Tidak menjadikannya bukti. Aku bersyukur.

Malamnya Dimas berkata, “Lo kalau sama dia beda.”

“Dimas.”

“Oke.”

Di mobil aku memikirkan Amanda yang sekarang. Dia tidak lagi mendorong ketika aku bilang tidak. Tidak menggunakan keluarga atau teman untuk mendekat. Tidak pernah bertanya apakah aku punya perempuan lain.

Dia memberi ruang.

Justru ruang itu membuatku bisa melihatnya.

Di rumah ada pesan grup.

Amanda: Besok jangan pasang muka pembunuh klien.

Aku: Tergantung revisinya.

Amanda: Berarti salah klien.

Aku tersenyum.

Aku masih takut.

Bukan takut Adrian kembali. Adrian sudah tidak relevan.

Aku takut aku bisa jatuh cinta lagi sebelum benar-benar siap percaya.

Jatuh cinta ternyata mungkin bagian yang mudah.

Yang sulit adalah mengetahui apakah kali ini aku bisa tetap berdiri ketika perasaan itu meminta sesuatu yang lebih besar.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.

Orang yang pernah kita cintai tidak berubah menjadi netral hanya karena hubungan selesai. Aku boleh tertawa karena Amanda. Aku boleh rindu. Aku bahkan mungkin boleh jatuh cinta lagi. Tetapi tidak satu pun otomatis berarti aku siap menyerahkan kepercayaan yang sama. Perasaan bisa kembali lebih cepat daripada keberanian. Itulah yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya daripada ketika kami pertama kali jatuh cinta.