Chapter Forty
Bukan yang Dulu
POV: Amanda Rigby
Setahun setelah Fandy mengejarku keluar dari acara industri dan meminta makan malam, kami masih berdebat soal hal-hal kecil.
Malam itu masalahnya handuk basah. Aku protes, Fandy membela diri, lalu kami berakhir tertawa.
Hubungan kedua kami tidak terlihat seperti versi pertama yang diperbaiki.
Fandy sekarang mengatakan kalau dia kesal. Aku sekarang bertanya sebelum mengambil keputusan untuk kami berdua.
Kalau kami bertengkar, aku tidak membaca diamnya sebagai ancaman bahwa dia akan pergi. Kalau aku butuh waktu, aku mengatakan berapa lama.
Kami tidak selalu sempurna. Tetapi kami tidak lagi berharap cinta mengerjakan semua pekerjaan sendirian.
Malam itu Fandy menyuruhku ganti baju dan membawaku ke restoran yang tidak kukenal.
Bukan rooftop lama. Bukan tempat anniversary pertama. Fandy tidak sedang mengulang.
Kami makan seperti date biasa. Setelah dessert, Fandy terlihat lebih diam.
“Fan. Kamu nervous?”
“Sedikit.”
Fandy mengeluarkan kotak kecil. Napas berhenti di tenggorokanku.
Cincin lama sudah tidak ada. Dia pernah memberitahuku menjualnya. Sekarang dia membuka kotak baru.
Cincinnya sederhana, tetap sesuai seleraku, tetapi bukan model yang dulu.
“Yang dulu aku beli buat perempuan yang kukira nggak akan pernah bikin aku ragu. Dan aku beli sebagai laki-laki yang pikir kalau cinta cukup besar, semuanya pasti aman.”
Fandy menggeleng kecil. “Dua-duanya salah.”
Air mataku jatuh.
“Yang ini aku beli buat perempuan yang sudah bikin aku ragu.”
Aku tertawa di antara tangis. “Romantis banget.”
“Belum selesai.”
Fandy melanjutkan bahwa dia membeli cincin ini untuk perempuan yang membuatnya ragu, marah, pergi, lalu datang lagi tanpa meminta dia kembali menjadi orang lama.
“Aku percaya kamu sekarang bukan karena kamu nggak akan pernah salah. Tapi karena kalau salah, kamu akan ngomong. Kalau takut, kamu akan bilang. Kalau ragu, kamu nggak akan sembunyi.”
Fandy membuka kotak lebih lebar.
“Yang ini aku beli buat perempuan yang sudah bikin aku ragu… dan tetap aku pilih.”
Aku menjawab tanpa jeda. “Iya.”
Fandy tertawa kecil. “Aku belum nanya.”
“Nggak peduli. Iya.”
Dia akhirnya bertanya, “Amanda Rigby, mau nikah sama aku?”
“Iya.”
Kali ini tidak ada jeda. Tidak ada masa lalu yang perlu kulihat sebelum menjawab.
Fandy memasangkan cincin baru ke jariku.
Setelah kami keluar restoran, dia mengulurkan tangan lebih dulu.
Aku melihat tangannya dan teringat semua versi kami: tangan yang dulu selalu kutarik, tangan yang kulepaskan, tangan yang pernah menggenggamku di zebra cross setelah bertahun-tahun.
Aku menggenggamnya.
Fandy tersenyum.
Kami berjalan.
Bukan kembali ke hubungan yang dulu.
Bukan menghapus kerusakan.
Kami membawa semua yang pernah terjadi tanpa membiarkannya menentukan semua yang akan terjadi.
Untuk pertama kalinya, kata selamanya tidak terasa seperti janji bahwa kami tidak akan pernah ragu.
Rasanya seperti janji bahwa ketika keraguan datang, kami tidak akan menyembunyikannya.
Dan kali ini, ketika Fandy mengulurkan tangan, aku tidak menariknya ke arahku.
Aku hanya berjalan di sampingnya.
Setahun bersama kembali mengajarkan bahwa second chance bukan hadiah untuk penyesalan. Itu hubungan baru yang tetap membutuhkan pekerjaan setiap hari. Kami masih bisa salah paham, keras kepala, dan menyebalkan. Bedanya, sekarang kami tahu cinta bukan alasan untuk membaca pikiran. Kami bertanya. Kami menjawab. Kami memberi ruang tanpa menghilang. Cincin baru itu bukan bukti kami kembali menjadi pasangan lama. Ia menjadi simbol bahwa setelah mengetahui bagaimana rasanya kehilangan, kami tetap memilih membangun sesuatu yang baru.
Setahun bersama kembali mengajarkan bahwa second chance bukan hadiah untuk penyesalan. Itu hubungan baru yang tetap membutuhkan pekerjaan setiap hari. Kami masih bisa salah paham, keras kepala, dan menyebalkan. Bedanya, sekarang kami tahu cinta bukan alasan untuk membaca pikiran. Kami bertanya. Kami menjawab. Kami memberi ruang tanpa menghilang. Cincin baru itu bukan bukti kami kembali menjadi pasangan lama. Ia menjadi simbol bahwa setelah mengetahui bagaimana rasanya kehilangan, kami tetap memilih membangun sesuatu yang baru.
Setahun bersama kembali mengajarkan bahwa second chance bukan hadiah untuk penyesalan. Itu hubungan baru yang tetap membutuhkan pekerjaan setiap hari. Kami masih bisa salah paham, keras kepala, dan menyebalkan. Bedanya, sekarang kami tahu cinta bukan alasan untuk membaca pikiran. Kami bertanya. Kami menjawab. Kami memberi ruang tanpa menghilang. Cincin baru itu bukan bukti kami kembali menjadi pasangan lama. Ia menjadi simbol bahwa setelah mengetahui bagaimana rasanya kehilangan, kami tetap memilih membangun sesuatu yang baru.
Setahun bersama kembali mengajarkan bahwa second chance bukan hadiah untuk penyesalan. Itu hubungan baru yang tetap membutuhkan pekerjaan setiap hari. Kami masih bisa salah paham, keras kepala, dan menyebalkan. Bedanya, sekarang kami tahu cinta bukan alasan untuk membaca pikiran. Kami bertanya. Kami menjawab. Kami memberi ruang tanpa menghilang. Cincin baru itu bukan bukti kami kembali menjadi pasangan lama. Ia menjadi simbol bahwa setelah mengetahui bagaimana rasanya kehilangan, kami tetap memilih membangun sesuatu yang baru.
Setahun bersama kembali mengajarkan bahwa second chance bukan hadiah untuk penyesalan. Itu hubungan baru yang tetap membutuhkan pekerjaan setiap hari. Kami masih bisa salah paham, keras kepala, dan menyebalkan. Bedanya, sekarang kami tahu cinta bukan alasan untuk membaca pikiran. Kami bertanya. Kami menjawab. Kami memberi ruang tanpa menghilang. Cincin baru itu bukan bukti kami kembali menjadi pasangan lama. Ia menjadi simbol bahwa setelah mengetahui bagaimana rasanya kehilangan, kami tetap memilih membangun sesuatu yang baru.
Setahun bersama kembali mengajarkan bahwa second chance bukan hadiah untuk penyesalan. Itu hubungan baru yang tetap membutuhkan pekerjaan setiap hari. Kami masih bisa salah paham, keras kepala, dan menyebalkan. Bedanya, sekarang kami tahu cinta bukan alasan untuk membaca pikiran. Kami bertanya. Kami menjawab. Kami memberi ruang tanpa menghilang. Cincin baru itu bukan bukti kami kembali menjadi pasangan lama. Ia menjadi simbol bahwa setelah mengetahui bagaimana rasanya kehilangan, kami tetap memilih membangun sesuatu yang baru.
Setahun bersama kembali mengajarkan bahwa second chance bukan hadiah untuk penyesalan. Itu hubungan baru yang tetap membutuhkan pekerjaan setiap hari. Kami masih bisa salah paham, keras kepala, dan menyebalkan. Bedanya, sekarang kami tahu cinta bukan alasan untuk membaca pikiran. Kami bertanya. Kami menjawab. Kami memberi ruang tanpa menghilang. Cincin baru itu bukan bukti kami kembali menjadi pasangan lama. Ia menjadi simbol bahwa setelah mengetahui bagaimana rasanya kehilangan, kami tetap memilih membangun sesuatu yang baru.
Setahun bersama kembali mengajarkan bahwa second chance bukan hadiah untuk penyesalan. Itu hubungan baru yang tetap membutuhkan pekerjaan setiap hari. Kami masih bisa salah paham, keras kepala, dan menyebalkan. Bedanya, sekarang kami tahu cinta bukan alasan untuk membaca pikiran. Kami bertanya. Kami menjawab. Kami memberi ruang tanpa menghilang. Cincin baru itu bukan bukti kami kembali menjadi pasangan lama. Ia menjadi simbol bahwa setelah mengetahui bagaimana rasanya kehilangan, kami tetap memilih membangun sesuatu yang baru.
Setahun bersama kembali mengajarkan bahwa second chance bukan hadiah untuk penyesalan. Itu hubungan baru yang tetap membutuhkan pekerjaan setiap hari. Kami masih bisa salah paham, keras kepala, dan menyebalkan. Bedanya, sekarang kami tahu cinta bukan alasan untuk membaca pikiran. Kami bertanya. Kami menjawab. Kami memberi ruang tanpa menghilang. Cincin baru itu bukan bukti kami kembali menjadi pasangan lama. Ia menjadi simbol bahwa setelah mengetahui bagaimana rasanya kehilangan, kami tetap memilih membangun sesuatu yang baru.
Setahun bersama kembali mengajarkan bahwa second chance bukan hadiah untuk penyesalan. Itu hubungan baru yang tetap membutuhkan pekerjaan setiap hari. Kami masih bisa salah paham, keras kepala, dan menyebalkan. Bedanya, sekarang kami tahu cinta bukan alasan untuk membaca pikiran. Kami bertanya. Kami menjawab. Kami memberi ruang tanpa menghilang. Cincin baru itu bukan bukti kami kembali menjadi pasangan lama. Ia menjadi simbol bahwa setelah mengetahui bagaimana rasanya kehilangan, kami tetap memilih membangun sesuatu yang baru.
Setahun bersama kembali mengajarkan bahwa second chance bukan hadiah untuk penyesalan. Itu hubungan baru yang tetap membutuhkan pekerjaan setiap hari. Kami masih bisa salah paham, keras kepala, dan menyebalkan. Bedanya, sekarang kami tahu cinta bukan alasan untuk membaca pikiran. Kami bertanya. Kami menjawab. Kami memberi ruang tanpa menghilang. Cincin baru itu bukan bukti kami kembali menjadi pasangan lama. Ia menjadi simbol bahwa setelah mengetahui bagaimana rasanya kehilangan, kami tetap memilih membangun sesuatu yang baru.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu reading