Chapter Thirteen
Hapus
POV: Amanda Rigby
Pesan Adrian masuk ketika aku sedang duduk di sebelah Fandy.
Kami menunggu film dimulai. Lampu bioskop belum padam dan Fandy sedang berusaha membuka bungkus permen.
Adrian: Sorry soal pertanyaan tadi. Gue nggak seharusnya nanya.
Aku membaca cepat lalu mengunci layar.
“Siapa?” tanya Fandy.
“Teman.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Fandy akhirnya berhasil membuka bungkus. “Mau?”
Aku mengambil satu.
Lampu padam.
Aku tidak ingat sepuluh menit pertama film.
Satu kata tadi terus berputar.
Teman.
Adrian memang teman lama. Secara teknis aku tidak berbohong.
Kalau jawaban itu tidak bermasalah, kenapa aku terus membela diri di dalam kepala?
Setelah film, Fandy membahas ending sambil berjalan ke parkiran.
“Kamu capek?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Pulang?”
“Nggak. Aku mau sama kamu.”
Dia mengubah arah mobil dan mengajakku mencari dessert.
Di kedai, Fandy menukar piringku karena ada retak kecil di pinggir. Gerakan sederhana. Dia bahkan tidak sadar melakukannya.
Aku melihat tangannya.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Dari tadi aneh.”
“Filmnya bikin pusing.”
“Film romantis bikin pusing?”
“Bisa.”
Fandy mengangkat alis tetapi tidak mengejar.
Di apartemennya aku masuk kamar mandi membawa ponsel.
Aku membuka chat Adrian.
Pesan yang sama masih ada di atas percakapan.
Aku: Nggak apa-apa. Cuma kaget.
Adrian: Gue nggak mau bikin hubungan lo jadi aneh.
Aku: Nggak aneh.
Adrian: Good.
Seharusnya selesai.
Aku menatap percakapan itu.
Kalau Fandy melihatnya, tidak ada perselingkuhan. Tidak ada ajakan kembali. Tidak ada satu kalimat pun yang bisa disebut pengkhianatan.
Justru pikiran itu membuat tanganku dingin.
Kenapa aku memikirkan apakah Fandy akan melihat?
Dia tidak pernah memeriksa ponselku.
Aku menekan lama pesan Adrian tentang pertanyaan itu.
Menu muncul.
Copy.
Forward.
Delete.
Jempolku berhenti.
Aku bisa keluar dari chat.
Aku bisa membiarkannya.
Aku bisa menceritakan semuanya kepada Fandy begitu keluar dari kamar mandi.
Sebaliknya aku menekan Delete.
Konfirmasi muncul.
Aku menatap bayanganku di cermin.
Wajah yang sama.
Hubungan yang sama.
Tidak ada yang berubah hanya karena satu pesan hilang.
Aku menekan konfirmasi.
Pesan itu lenyap.
Perutku langsung terasa kosong.
Di luar kamar mandi Fandy sedang merapikan bantal sofa.
“Lama.”
“Skincare.”
Dia mengangguk.
Aku berjalan mendekat dan memeluknya.
“Manda?”
“Aku sayang kamu.”
Tangannya melingkari punggungku.
“Aku juga.”
Aku memejamkan mata.
Di tanganku, ponsel terasa berat.
Sebelum tidur aku sempat membuka catatan di ponsel dan menulis satu kalimat: Cerita ke Fandy besok.
Aku menatapnya.
Tidak ada alasan untuk membuat reminder untuk kejujuran.
Fakta bahwa aku merasa perlu menulisnya justru membuatku semakin tidak nyaman.
Aku mematikan layar tanpa menghapus catatan.
Besok pagi, ketika alarm berbunyi, kalimat itu masih ada di notification center.
Aku swipe ke kiri.
Bukan menghapus catatan.
Hanya menyingkirkan pengingat dari layar.
Perbedaannya tipis.
Aku tahu itu.
Keesokan harinya Keisha bertanya kenapa aku kelihatan kurang tidur.
Aku hampir menceritakan pesan yang kuhapus.
Tidak jadi.
Sebaliknya aku bilang pekerjaan sedang banyak.
Itu kebohongan kedua yang bentuknya sangat kecil.
Siang hari Adrian mengirim foto hujan dari jendela kantornya.
Aku membiarkan pesan itu hampir dua jam.
Kemudian membalas.
Aku: Jakarta menyambut kepulangan lo.
Adrian mengirim emoji tertawa.
Pesan itu kubiarkan.
Aku merasa sedikit lega, seolah dengan tidak menghapus percakapan biasa aku sudah mengembalikan semuanya ke jalur benar.
Malamnya Fandy menelepon.
“Besok bisa ketemu?”
“Bisa.”
“Makan?”
“Boleh.”
“Aku jemput.”
“Oke.”
Aku hampir berkata ada yang perlu aku ceritakan.
Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah.
Tidak keluar.
Aku berpikir akan menceritakannya kalau memang ada sesuatu yang perlu diceritakan.
Masalahnya, standar sesuatu itu mulai kutentukan sendiri.
Malam berikutnya aku bertemu Fandy untuk makan seperti rencana.
Dia membawa blazerku.
“Terima kasih.”
“Bayar.”
“Berapa?”
“Udang.”
Aku memutar mata lalu memindahkan satu udang dari piringku ke piringnya.
Percakapan kami ringan. Pekerjaan. Raka. Restoran yang terlalu ramai. Tidak ada Adrian.
Setiap beberapa menit aku merasa ada celah yang bisa kupakai untuk bicara.
Aku tidak mengambilnya.
Fandy tidak terlihat curiga.
Justru itu yang membuatku semakin tidak nyaman.
Ketika kami berjalan ke parkiran, dia menggenggam tanganku.
Gerakan biasa.
Aku menatap tangan kami.
Fandy menoleh. “Kenapa?”
“Nggak.”
Aku membalas genggamannya.
Di mobil, ponselku bergetar di dalam tas.
Aku tahu kemungkinan besar Adrian.
Aku tidak mengambilnya.
Fandy sedang fokus menyetir.
Tidak ada satu pun gerakannya yang menunjukkan dia sedang mengawasiku.
Aku seharusnya merasa aman.
Yang kurasakan justru malu.
Setelah sampai rumah, aku baru membuka ponsel.
Benar.
Adrian: Besok ada waktu? Mau nanya soal satu project.
Aku membaca dua kali.
Pertanyaan tentang proyek seharusnya tidak berbahaya.
Aku membalas.
Aku: Siang bisa.
Begitu pesan terkirim, aku melihat chat Fandy tepat di bawahnya.
Fandy: Sudah masuk?
Aku: Sudah.
Fandy: Good night.
Aku: Good night ❤️
Dua percakapan itu berada berdampingan di layar.
Satu sepenuhnya terbuka.
Satu punya bagian yang sudah kuhapus.
Aku akhirnya mengerti kenapa rasa bersalah tidak pergi.
Masalahnya bukan isi pesan yang kuhapus.
Masalahnya aku sengaja mengatur apa yang boleh diketahui Fandy supaya aku tidak perlu menghadapi percakapan yang tidak nyaman.
Aku meletakkan ponsel.
Besok, pikirku.
Besok aku akan cerita.
Aku bahkan mempercayai janji itu ketika membuatnya.
Tetapi janji yang hanya dibuat kepada diri sendiri ternyata sangat mudah dipindahkan.
Setelah telepon berakhir, aku membuka chat Adrian.
Di antara pesan-pesan biasa ada ruang yang hanya kuketahui karena aku sendiri yang membuatnya.
Aku tidak perlu membaca apa pun untuk mengingat kalimat yang sudah hilang.
Kalau dulu gue tinggal, kita masih bersama?
Aku mengunci layar.
Fandy tidak akan pernah tahu pesan itu pernah ada.
Untuk pertama kalinya selama tiga tahun empat bulan, aku punya rahasia darinya.
Kecil.
Tetapi sengaja.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus reading
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu