Chapter Fourteen
Berubah
POV: Fandy Pramudia
Aku mengetahui Amanda bertemu Adrian bukan dari Amanda.
Rabu malam kami seharusnya makan bersama. Dua jam sebelumnya dia mengirim pesan.
Amanda: Ada urusan kantor. Besok aja ya?
Aku: Oke.
Tidak ada masalah.
Sampai setengah jam kemudian aku membuka media sosial dan melihat story seorang kenalan agency.
Kafe.
Beberapa orang.
Di belakang, agak buram, Amanda duduk berhadapan dengan Adrian.
Aku menatap foto itu cukup lama.
Mungkin memang urusan kantor.
Bahkan kemungkinan besar.
Aku menutup aplikasi.
Malamnya Amanda menelepon seperti biasa.
“Maaf ya batal.”
“Nggak apa-apa.”
“Besok aku traktir.”
“Boleh.”
Dia bercerita tentang klien.
Aku menunggu nama Adrian muncul.
Tidak.
Setelah telepon selesai, aku duduk sendirian di ruang tamu.
Cincin berada beberapa meter dariku.
Sabtu tinggal dua hari.
Besok malam Amanda datang membawa makanan sebagai ganti pembatalan.
Aku membantu membuka kotak.
Lalu bertanya, “Kemarin sama Adrian?”
Tangannya berhenti.
Hanya satu detik.
“Iya.”
“Urusan kantor?”
“Awalnya.”
Aku mengangguk. “Terus?”
“Ngobrol.”
“Kenapa nggak bilang?”
Amanda menatapku.
“Aku nggak kepikiran harus detail.”
Begitu kalimat itu keluar, wajahnya berubah sedikit.
“Aku lihat dari story orang,” kataku.
“Fan, bukan karena aku sembunyiin.”
“Aku nggak bilang kamu sembunyiin.”
“Tapi nadamu begitu.”
Aku menarik napas.
Ini yang kutakuti sejak awal. Begitu aku bertanya, semuanya terdengar seperti interogasi.
“Aku cuma tanya.”
Amanda duduk.
“Aku memang ketemu Adrian. Ada bahasan kerjaan, terus makan. Aku harusnya bilang.”
“Kenapa nggak?”
Dia diam.
Pertanyaan itu seharusnya mudah.
“Aku nggak tahu,” katanya akhirnya.
Aku mengangguk.
Jawaban itu lebih mengganggu daripada penjelasan apa pun.
Amanda meraih tanganku.
“Nggak ada apa-apa.”
Aku melihat jari-jarinya.
“Aku percaya.”
Wajahnya berubah lagi.
Hanya sedikit.
Aku tidak tahu artinya.
“Kamu marah?”
“Belum tahu.”
“Fan.”
“Aku serius. Aku perlu mikir dulu kenapa ini ganggu aku.”
Amanda melepaskan tanganku.
Kami tetap makan.
Tidak ada suara tinggi.
Tidak ada tuduhan.
Justru itu membuat meja terasa lebih panjang.
Setelah makan, Amanda mencuci piring meskipun biasanya dia akan menyuruhku.
Aku berdiri di pintu dapur.
“Biar aku.”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu tamu.”
Dia menoleh. “Aku sekarang tamu?”
Aku langsung menyesal memakai kata itu.
“Maksudku—”
“Aku tahu.”
Amanda kembali mencuci piring.
Kalimat kecil itu meninggalkan sesuatu yang tidak bisa langsung diperbaiki.
Malamnya dia tidur di apartemenku.
Aku berbaring membelakanginya lebih lama daripada biasanya.
Bukan karena ingin menghukum.
Aku hanya tidak tahu apakah kalau memeluknya sekarang aku sedang mengatakan semuanya baik-baik saja.
Padahal tidak.
Pagi hari aku bangun lebih dulu dan membuat kopi.
Amanda keluar kamar dengan rambut berantakan.
Dia melihat gelas di meja.
“Makasih.”
“Hm.”
Kebiasaan tetap berjalan bahkan ketika sesuatu di antara kami berubah.
Amanda minum setengah gelas lalu berdiri di dekat pintu.
“Besok jam tujuh, kan?”
Aku berhenti mengaduk kopi.
“Iya.”
Dia tersenyum kecil. “Aku penasaran.”
Aku tidak menjawab cepat.
Amanda mencium pipiku.
“Kerja yang benar.”
Pintu tertutup.
Aku berdiri sendirian.
Di kantor, aku mencoba bekerja seperti biasa.
Tidak berhasil.
Aku membuka desain yang sama tiga kali tanpa benar-benar membaca.
Dimas dari tim sebelah datang meminta pendapat tentang satu flow.
Biasanya aku bisa menjawab cepat.
Hari itu aku menatap layar terlalu lama.
“Lo sakit?” tanyanya.
“Nggak.”
“Berantem?”
Aku menoleh.
Dimas mengangkat tangan. “Tebak doang.”
Aku memberikan komentar tentang desainnya lalu menyuruhnya pergi.
Setelah dia keluar, aku melihat ponsel.
Tidak ada pesan Amanda.
Aneh bagaimana aku bisa terganggu ketika ponselnya terlalu sering menyala, lalu sekarang terganggu ketika ponselku tidak.
Aku membuka chat kami.
Pesan terakhirnya hanya foto kopi pagi.
Aku hampir mengetik:
Kamu masih chat sama Adrian?
Kuhapus sebelum selesai.
Pertanyaan itu bukan pertanyaan yang ingin kutanyakan.
Aku tidak ingin tahu berapa kali mereka chat.
Aku ingin tahu kenapa Amanda mulai memilih bagian mana dari hidupnya yang perlu kuceritakan dan mana yang tidak.
Selama ini kami tidak punya aturan harus melaporkan semua pertemuan.
Aku juga tidak pernah memberi daftar setiap orang yang kutemui.
Jadi secara teknis Amanda tidak melanggar aturan apa pun.
Tetapi hubungan bukan kontrak yang cuma rusak kalau satu pasal dilanggar.
Ada kebiasaan.
Ada pola.
Ada cara kami selama ini saling membiarkan masuk tanpa harus meminta.
Yang berubah bukan jumlah informasinya.
Yang berubah adalah aku baru tahu sesuatu karena melihatnya dari orang lain.
Siang hari Raka menelepon untuk membahas rencana besok.
“Gue datang jam berapa?”
“Nggak usah datang.”
“Gue mau lihat muka panik lo.”
“Jangan.”
Dia tertawa, lalu berhenti ketika mendengar nadaku.
“Masih soal mantannya?”
“Iya.”
“Lamaran?”
Aku melihat meja.
“Masih.”
“Yakin?”
Pertanyaan itu membuatku kesal.
“Kenapa semua orang nanya yakin?”
“Karena besok lo mau minta orang nikah sama lo.”
Aku diam.
Raka tidak memberi nasihat.
Dia hanya berkata, “Kalau jadi, gue dukung. Kalau batal, gue juga dukung. Tapi jangan lakukan cuma karena semua sudah dibayar.”
Setelah telepon berakhir, aku membuka email konfirmasi restoran.
Deposit tidak bisa dikembalikan kalau pembatalan kurang dari dua puluh empat jam.
Aku membaca aturan itu.
Lalu tertawa kecil.
Seolah uang deposit adalah hal yang perlu kupikirkan.
Aku menutup email.
Besok belum kubatalkan.
Besok juga belum benar-benar kupilih.
Di ruang kerja, cincin masih ada.
Aku membuka lemari.
Kotaknya berada tepat di tempat yang sama.
Tanganku menyentuh tepinya, tetapi tidak mengambil.
Ponselku berbunyi.
Raka: Besok jadi kan?
Aku menatap pesan itu.
Aku: Jadi.
Balasan datang.
Raka: Mantap.
Aku menyimpan ponsel.
Lalu membuka kalender.
Reservasi Sabtu masih aktif.
Aku tidak membatalkannya.
Belum.
Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak menatap jadwal itu sebagai sesuatu yang pasti akan terjadi.
Aku menutup kalender.
Kotak cincin tetap berada dalam gelap.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah reading
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu