Chapter Twenty Six
Teman Lama
POV: Amanda Rigby
Ruangan meeting terasa berbeda ketika aku tahu Fandy sudah tidak datang sebagai seseorang yang pernah menjadi milikku. Dia duduk bersama Dimas, tertawa, lalu menyapaku biasa. Aku membalas dengan nada yang sama.
Setelah presentasi, tim pergi makan. Seorang anggota baru bertanya bagaimana kami kenal. Fandy menjawab ringan, “Teman lama.” Aku sempat merasakan dua kata itu seperti tekanan kecil di dada, lalu tersenyum. “Iya. Lama banget.”
Aku tidak mengatakan mantan. Tidak mengatakan tiga tahun empat bulan. Tidak mengatakan hampir ada lamaran. Semua itu benar, tetapi bukan hakku untuk memaksa Fandy membawa sejarah kami ke setiap ruangan.
Selama makan aku melihat dia menyela Dimas, bercanda dengan anggota tim lain, dan menolak ide tanpa terlalu banyak meminta maaf. Fandy yang dulu kutahu kompeten, tetapi sering mengecilkan suaranya. Yang sekarang tidak.
Dimas bercerita tentang perjalanan mereka ke Yogyakarta. Katanya Fandy menjadi orang paling cerewet soal jadwal pagi. Aku tertawa karena dulu Fandy paling sulit dibangunkan saat weekend.
“Lo sekarang morning person?” tanyaku. Fandy tersenyum. “Terpaksa.” Ketika Dimas bertanya apakah dulu tidak, Fandy menjawab sendiri, “Parah.”
Aku membiarkan dia memiliki ceritanya sendiri. Ada versi Fandy yang tidak kukenal, dan itu bukan penghinaan terhadap kedekatan kami dulu.
Di lobi Fandy menunjuk kartu aksesku yang hampir tertinggal. “Punya kamu.” Dulu dia mungkin akan mengambilkan. Sekarang dia hanya menunjukkan. Aku mengambilnya dan berkata terima kasih.
Perbedaan kecil seperti itu mengajarkanku lebih banyak daripada percakapan besar. Fandy masih memperhatikan, tetapi tidak otomatis mengambil tanggung jawab atas hal-hal kecilku.
Jumat ada kopi bersama tim. Aku duduk jauh darinya. Ketika orang lain bercerita soal kebiasaan Fandy membuat daftar, aku hampir menyela bahwa dia memang selalu begitu. Aku menahan diri.
Aku bukan kurator kehidupan Fandy. Orang-orang ini mengenalnya dari pengalaman mereka sendiri.
Sebelum pulang dia berkata, “Hati-hati.” Aku menjawab, “Kamu juga.” Tidak ada tambahan, dan aku tidak memaksa menciptakan tambahan.
Di mobil aku sadar kalau ingin berada di hidup Fandy lagi, aku harus menemukan tempat baru. Posisi lama sudah tidak ada.
Untuk sekarang, tempatku hanya teman lama.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
Sejarah kami tetap nyata, tetapi sejarah bukan kartu akses. Aku harus membiarkan Fandy memiliki hidup yang tidak membutuhkan keteranganku. Semakin aku menerima itu, semakin ringan rasanya berada di dekatnya tanpa terus mencoba membuktikan bahwa dulu aku penting.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama reading
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu