Chapter Thirty
Orang yang Tidak Kuketahui
POV: Amanda Rigby
Dimas mengundang tim proyek ke makan malam ulang tahunnya. Aku hampir menolak ketika melihat nama Fandy di grup, lalu sadar menolak hanya karena dia ada berarti hidupku masih berputar di sekitarnya.
Aku datang. Fandy sudah duduk bersama teman-temannya, mengenakan kaus gelap dan tertawa lebih keras daripada yang biasa kuingat.
Malam itu aku melihat Fandy di luar pekerjaan untuk pertama kalinya sejak reuni.
Dia punya inside jokes yang tidak kupahami. Dimas menyebut perjalanan ke Bandung dan semua orang tertawa karena Fandy pernah salah masuk kamar hotel. Aku bahkan tidak tahu dia pergi ke Bandung.
Seorang perempuan bernama Tara memukul bahunya ketika dia menggodanya. Tubuhku bereaksi sebelum pikiranku: cemburu.
Aku menunduk dan minum. Aku tidak bertanya siapa Tara, tidak mencari cincin di jarinya, dan tidak memperhatikan terlalu lama.
Setelah makan, kelompok pindah ke area luar. Aku berdiri dekat pagar ketika Fandy datang mengambil udara.
“Capek?” tanyanya. “Sedikit.”
Fandy berkata aku biasanya sudah pulang jam segini. Aku bertanya apakah dia masih ingat. Ada jeda kecil sebelum dia menjawab, “Kebiasaan lama.”
Aku tidak menarik kalimat itu menjadi sesuatu yang lebih besar.
“Kamu kelihatan senang,” kataku. Fandy menjawab, “Aku memang senang.”
Jawabannya sederhana. Aku berkata, “Bagus,” dan kali ini benar-benar berarti itu.
Fandy berkata aku juga berbeda. Ketika kutanya apakah lebih tua, dia tertawa. “Lebih tenang.” Aku menjawab, “Belajar.”
Dimas memanggilnya. Sebelum kembali Fandy berkata jangan pulang sendiri terlalu malam. Aku hampir mengingatkan bahwa dulu dia yang selalu memastikan. Aku tidak.
Aku berkata sudah memesan mobil. Fandy mengangguk dan pergi.
Aku memandang punggungnya. Fandy masih mengingat beberapa hal tentangku. Aku masih mengingat banyak hal tentangnya. Tetapi ingatan bukan kedekatan.
Malam itu membuktikan ada kehidupan Fandy yang tidak kuketahui: teman, perjalanan, lelucon, kebiasaan baru, bahkan cara dia tertawa.
Di mobil pulang aku merasakan penasaran yang berbeda dari rasa penasaranku kepada Adrian.
Bukan penasaran pada kemungkinan yang tidak terjadi. Aku ingin tahu siapa Fandy sekarang tanpa berharap jawabannya mengembalikan sesuatu.
Aku tidak ingin membuka pintu lama. Aku ingin mengetuk pintu baru dan menerima kalau pemiliknya memilih tidak membuka.
Brand-new Fandy bukan orang asing. Fondasinya masih kukenal, tetapi hidup di atas fondasi itu sudah bertambah tanpa aku.
Untuk pertama kalinya sejak reuni, aku merasa siap benar-benar mulai dari nol.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
Rasa ingin tahu kali ini tidak memintaku membandingkan dua kehidupan. Ia hanya meminta aku memperhatikan orang yang berdiri di depanku sekarang. Perbedaannya kecil, tetapi mungkin itulah yang membuatnya sehat.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui reading
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu