← Back Off

Chapter Twenty One

Jawaban yang Kucari

POV: Amanda Rigby

Hari ketiga setelah Fandy pergi, aku akhirnya membalas pesan Adrian dan mengajaknya bertemu. Kami memilih kafe yang tidak punya sejarah untuk kami. Aku tidak ingin kampus lama atau restoran lama ikut bicara.

Adrian langsung tahu sesuatu terjadi. Ketika kubilang aku dan Fandy putus, wajahnya tidak menunjukkan kemenangan. “Karena gue?” Aku menjawab, “Karena aku.”

Aku menceritakan pertanyaan Fandy, diamku, dan keputusannya mundur. Adrian meminta maaf. Aku menolak. Kedatangannya memang pemicu, tetapi keputusan-keputusan yang membuat hubungan kami retak adalah milikku.

Secara teori sekarang tidak ada penghalang. Aku lajang. Adrian sudah pulang permanen. Kami sama-sama tahu perpisahan dulu meninggalkan penyesalan. Ini seharusnya kesempatan yang selama beberapa minggu membuatku penasaran.

Aku mencoba membayangkan pulang bersama Adrian. Yang muncul justru apartemen Fandy, charger di mobil, mug kuning, dan suaranya ketika berkata, “Aku tahu.”

Adrian berkata, “Kalau lo mau coba lagi…” tetapi berhenti karena ekspresiku sudah menjawab. Aku berkata, “Aku nggak bisa. Aku nggak datang ke sini buat balik sama kamu.”

Aku akhirnya mengerti bahwa aku datang untuk memastikan apakah setelah semua penghalang hilang, aku masih ingin kehidupan yang dulu tidak jadi kumiliki. Jawabannya tidak.

Ketika Adrian bertanya kenapa aku perlu tahu apakah dia menyesal, aku mengaku: “Aku pengin tahu aku cukup penting sampai kamu nyesel pergi.”

Aku menangis. “Aku sudah punya orang yang memilih aku setiap hari, tapi aku masih pergi cari validasi dari orang yang enam tahun lalu nggak memilih tinggal.”

Adrian tidak membelaku. “Gue memang nyesel. Tapi penyesalan gue bukan alasan buat lo menghancurkan hidup lo sekarang.”

Untuk pertama kalinya semua pertanyaan kehilangan daya. Kalau Adrian tinggal, mungkin kami bersama. Kalau aku ikut, mungkin kami menikah. Tetapi hidupku bukan dibangun dari mungkin itu.

Di luar kafe Adrian berkata, “Kejar yang memang lo mau.” Aku bertanya kalau Fandy tidak mau dikejar. Adrian menjawab, “Itu hak dia.”

Di taksi aku mengetik kepada Fandy: Aku sudah tahu jawabannya. Lalu kuhapus. Dia sudah pernah mendengar itu. Yang harus kuterima adalah pilihanku mungkin datang terlalu terlambat.

Malam itu nama Adrian tidak lagi terasa seperti pintu. Hanya bagian masa lalu yang akhirnya bisa kututup. Masalahnya, pintu menuju Fandy sudah tertutup dari sisi lain.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.

Aku tidak datang kepada Adrian untuk meminta dia memperbaiki apa yang rusak. Semakin lama kami bicara, semakin jelas bahwa jawaban yang kucari tidak pernah benar-benar berada padanya. Jawaban itu ada pada apa yang kurasakan ketika semua kemungkinan akhirnya terbuka dan aku tetap tidak ingin melangkah ke arahnya.