← Back Off

Chapter One

Seperti Biasa

POV: Amanda Rigby

Jam di sudut layar laptop menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh tujuh ketika aku akhirnya menekan tombol kirim.

Aku menatap tulisan Sent selama tiga detik penuh, memastikan surel itu benar-benar pergi dan tidak kembali membawa revisi kelima.

Lalu aku menjatuhkan kepala ke meja.

“Selesai?”

Keisha muncul dari balik monitor di meja sebelah.

“Jangan ngomong sama aku.”

“Berarti belum.”

“Sudah. Makanya jangan ngomong sama aku. Aku sedang menikmati rasanya menjadi manusia bebas.”

Keisha melirik jam. “Bebas apanya? Sudah mau jam sembilan.”

Aku meraih ponsel.

Tiga persen.

Bagus. Konsisten.

Ada empat pesan dari Fandy.

19.02 — Masih lama?

19.17 — Aku jalan.

20.05 — Di bawah.

20.31 — Jangan buru-buru. Selesaiin dulu.

Aku langsung duduk tegak.

“Kenapa?” tanya Keisha.

“Fandy di bawah. Dari jam delapan.”

Keisha memasukkan laptop ke tas. “Amanda, itu pacarmu. Bukan driver ojol yang argo tunggunya jalan.”

Tetap saja aku buru-buru membereskan meja. Aku membalas dengan tiga tanda seru, lalu berlari kecil menuju lift.

Pintu lift terbuka di lobi dan aku langsung menemukannya di sofa dekat pintu masuk. Kemeja kerjanya masih rapi, meski lengan sudah digulung sampai siku. Laptop bag berada di lantai. Sebuah paper bag cokelat tergeletak di sebelahnya.

“Fan.”

Fandy mengangkat kepala.

“Kamu dari kapan?”

“Delapan lewat.”

“Kok nggak bilang?”

“Aku bilang.”

“Maksudku kenapa nggak bilang kalau sudah sampai dari tadi?”

Fandy berdiri dan mengambil tasku.

“Kalau bilang, kerjaanmu selesai lebih cepat?”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya.

“Nggak.”

“Ya sudah.”

Menyebalkan.

Aku mengikuti langkahnya menuju parkiran sambil mengintip paper bag.

“Apaan?”

“Makan.”

“Buat aku?”

“Buat satpam.”

Aku mencubit lengannya.

Fandy terkekeh.

“Kamu sudah makan?”

“Sudah.”

“Beneran?”

“Iya.”

“Makan apa?”

Dia berhenti di depan mobil. “Aku perlu kasih bukti transaksi?”

“Kalau perlu.”

“Ayam.”

“Ayam apa?”

“Ayam yang sudah mati.”

“Fandy!”

Dia membuka pintu penumpang untukku.

Begitu duduk, aroma makanan dari paper bag langsung menyerang. Nasi ayam langgananku. Sambal dipisah. Tidak ada daun bawang.

“Kamu tadi ke tempat yang dekat kantorku?”

“Iya.”

“Jauh dari kantor kamu.”

“Sekalian.”

“Sekalian apa?”

“Jemput kamu.”

Aku diam sebentar. Fandy menyalakan mesin seolah jawaban itu tidak punya efek apa pun.

Baru dua suapan, layar ponselku menyala.

Satu persen.

Aku mencari power bank yang sudah pasti tertinggal di meja kerja.

Sebuah kabel jatuh ke pangkuanku.

“Kamu bawa charger lagi?”

“Kamu tiga persen.”

“Kok tahu?”

“Jam tujuh tadi dua belas persen.”

“Kapan aku bilang?”

“Tadi kamu kirim screenshot revisi.”

Aku mencoba mengingat. Di screenshot itu memang ada status baterai.

“Kamu serem, tahu nggak?”

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian.”

“Sudah telanjur diterima.”

Aku tertawa.

Mobil keluar dari parkiran. Aku mulai menceritakan hari terburuk dalam sejarah pekerjaan kreatif.

“Jam sebelas mereka bilang konsep ketiga sudah final.”

“Hm.”

“Jam dua mereka minta warnanya diganti.”

“Hm.”

“Jam empat mereka bilang konsep pertama sebenarnya lebih punya soul.”

Fandy melirikku. “Soul-nya baru ketemu jam empat?”

“Nah! Itu dia!”

Aku terus bicara tentang klien, creative director yang menghilang, Keisha yang hampir melempar mouse, dan kopi kantor yang rasanya seperti air cucian gelas.

Fandy tidak banyak menyela. Dia memang begitu. Kalau aku bercerita, dia mendengarkan sampai habis, lalu memilih satu bagian untuk dikomentari.

“Besok masih revisi?”

“Katanya final.”

“Katanya?”

Aku menunjuknya dengan garpu plastik. “Jangan bawa energi negatif.”

“Realistis.”

“Negatif.”

“Realistis.”

Di lampu merah aku menyandarkan kepala ke bahunya. Posisi itu tidak nyaman, tetapi Fandy sedikit memiringkan tubuh supaya kepalaku tidak tergelincir.

Ada bekas tinta tipis di jari telunjuknya.

“Kamu gambar manual lagi?”

“Coret-coret.”

“Project baru?”

“Iya.”

“Kamu belum cerita.”

“Kamu juga belum berhenti cerita.”

Aku mencubit pahanya.

Fandy tertawa.

Tiga tahun lebih bersama membuat diam tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus diisi. Dulu aku mengira kalau dua orang berhenti bicara saat berkencan, berarti mereka mulai bosan.

Dengan Fandy, diam cuma berarti kami sedang diam.

“Aku tidur di tempatmu malam ini, ya?”

“Baju kerja?”

“Ada.”

“Skincare?”

“Ada.”

“Laptop?”

Aku menunjuk tas yang dibawanya.

“Berarti sebenarnya kamu sudah rencana.”

“Aku perempuan penuh persiapan.”

Fandy melirik charger yang masih terpasang.

“Penuh.”

“Diam.”

Aku melihat lampu gedung lewat di jendela dan teringat Keisha menerima undangan pernikahan ketiga bulan ini.

“Fan.”

“Hm?”

“Kalau nanti kita nikah, kamu bakal begini terus?”

“Begini gimana?”

“Jemput aku. Bawain makan. Bawa charger karena pacarmu nggak bisa menjaga baterai ponselnya sendiri.”

“Kalau bateraimu nanti tetap tiga persen, ya bawa.”

Aku tertawa. “Serius.”

Fandy melirikku sebentar.

“Harusnya.”

Jawabannya begitu sederhana sampai aku tidak memikirkannya lagi.

Aku kembali bercerita tentang undangan pernikahan, gaun yang mungkin kupakai, dan kenapa semua venue sekarang memakai bunga kering.

Fandy mendengarkan.

Sesekali mengangguk.

Sesekali tersenyum.

Seperti biasa.

Di apartemennya, aku langsung menuju kamar sambil membawa kotak makanan kosong. Fandy mengingatkanku membuangnya. Aku bilang tahu, lalu hampir meninggalkannya di meja.

Dia mengambilnya tanpa komentar.

“Eh, aku mau buang.”

“Sudah.”

Aku memeluk pinggangnya dari belakang.

“Pacarku baik banget.”

“Karena buang sampah?”

“Standarku rendah.”

“Kelihatan.”

Aku mencubitnya.

Setelah mandi aku memakai kaus Fandy dan merebut sisi kasur yang selalu kurebut. Dia masih bekerja sebentar dengan tablet di tangan.

“Aku nggak ngerti kenapa kamu bisa kerja tanpa musik.”

“Aku nggak ngerti kenapa kamu bisa kerja pakai lagu yang sama dua puluh kali.”

“Itu namanya mood.”

“Itu namanya penyiksaan.”

Aku merebut bantalnya.

Dia mengambil bantal lain.

Tidak adil bertengkar dengan orang yang tidak mau bertengkar.

Aku memandangi profilnya beberapa saat.

“Besok kamu sibuk?”

“Siang ada urusan.”

“Apa?”

“Keluar sebentar.”

“Rahasia?”

Fandy menoleh. “Kenapa?”

“Jawabannya mencurigakan.”

“Beli sabun.”

“Bohong.”

“Kalau sudah tahu, kenapa tanya?”

Aku tertawa dan tidak mengejarnya lagi.

Aku tidak tahu bahwa beberapa hari terakhir dia memang mulai menyimpan sesuatu dariku. Bukan kebohongan yang menyakitkan. Justru sesuatu yang seharusnya membuatku paling bahagia.

Fandy meletakkan tablet dan mematikan lampu.

Aku bergeser mendekat sampai dahiku menyentuh bahunya.

“Fan.”

“Hm?”

“Makasih sudah jemput.”

Tangannya menyentuh rambutku sekali.

“Iya.”

Aku menutup mata.

Karena semuanya terasa begitu biasa, aku tidak pernah terpikir ada hal-hal yang sedang berubah tanpa sepengetahuanku.

Aku tidak tahu bahwa Fandy sudah mulai menghitung masa depan dalam bentuk yang lebih konkret daripada kata nanti.

Aku tidak tahu pertanyaan isengku di mobil bukan lagi sesuatu yang abstrak baginya.

Malam itu aku cuma tahu aku lelah, kenyang, baterai ponselku kembali terisi, dan orang yang paling ingin kutemui setelah hari yang buruk tidur di sebelahku.

Bagiku, itu sudah cukup.

Aku belum tahu betapa mahalnya sesuatu yang terasa seperti biasa.

Sebelum tidur, ponselku yang sudah terisi tiga puluh persen bergetar di meja samping kasur. Keisha mengirim foto dirinya di lift dengan tulisan bahwa dia akhirnya sampai rumah.

Aku membalas cepat.

Selamat. Besok kalau klien revisi lagi kita pura-pura pindah negara.

Fandy, yang rupanya belum benar-benar tidur, bertanya, “Keisha?”

“Iya.”

“Masih ngomongin kerjaan?”

“Ngomongin kabur dari kerjaan.”

“Lebih sehat.”

Aku menaruh ponsel lalu kembali mendekat. “Kalau aku beneran pindah negara gimana?”

“Negara mana?”

“Belum tahu. Pokoknya jauh.”

“Visa dulu.”

Aku mendongak. “Kok responsnya administratif?”

“Biar realistis.”

“Terus kamu?”

“Apa?”

“Kalau aku pindah?”

Fandy membuka mata dan menatapku seperti sedang menilai apakah pertanyaanku serius.

“Kalau kamu memang harus pindah karena sesuatu yang penting, ya dibicarakan.”

“Bukan itu. Maksudku kamu ikut nggak?”

“Kalau hidup bisa dipindah semudah koper, ikut.”

Aku tersenyum.

“Kalau nggak?”

“Cari cara.”

Jawaban itu juga kulewatkan begitu saja.

Aku memang sering begitu. Melempar pertanyaan tentang masa depan seperti melempar koin ke kolam, hanya untuk mendengar bunyinya jatuh. Fandy selalu menjawab dengan tenang, dan ketenangannya membuat semua kemungkinan terasa aman.

Aku meraih tangannya di bawah selimut.

Jari-jarinya langsung menutup di antara jariku.

Tidak ada janji besar malam itu.

Tidak ada kalimat selamanya.

Hanya genggaman yang sudah terlalu kukenal dan keyakinan bodoh bahwa besok, lusa, bulan depan, bahkan bertahun-tahun lagi, aku tinggal mengulurkan tangan dan Fandy akan selalu ada di tempat yang sama.