← Back Off

Chapter Sixteen

Kalau Sekarang

POV: Fandy Pramudia

Pintu lift terbuka. Beberapa menit kemudian Amanda masuk ke apartemenku. Aku menutup pintu.

“Dari mana?”

“Aku ketemu Adrian.”

“Kenapa?”

“Aku mau tahu dia pernah nyesel pergi atau nggak.”

Aku menatapnya. Di ruang kerja, beberapa meter dari kami, ada cincin yang seharusnya kubawa besok.

“Dia jawab?”

“Iya.”

“Kenapa kamu perlu tahu?”

Amanda memegang tali tasnya lebih erat. “Karena aku pengin tahu aku dulu cukup penting buat bikin dia nyesel.”

Jawaban itu jujur. Aku berharap dia berbohong. Mungkin akan lebih mudah marah.

“Kamu masih cinta dia?”

“Aku cinta kamu.”

“Itu bukan pertanyaanku.”

Dia diam. “Aku cinta kamu, Fan.”

“Aku tahu.”

Dan aku memang tahu. Itulah bagian yang paling sulit. Kalau dia tidak mencintaiku, semuanya akan sederhana.

Aku duduk di kursi seberang. Besok aku seharusnya meminta perempuan ini menjadi istriku. Aku perlu tahu apakah besok masih masuk akal.

“Kalau aku ngajak kamu menikah sekarang, kamu bisa bilang iya tanpa mikirin Adrian?”

Amanda membeku.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Empat.

Tidak ada jawaban.

Aku mengangguk kecil. “Oke.”

“Fan—aku mau nikah sama kamu.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

“Aku kaget. Kamu tiba-tiba nanya.”

“Besok atau tahun depan pertanyaannya tetap sama.”

Air matanya jatuh. Refleks pertamaku masih ingin mendekat. Aku tidak bergerak.

“Kalau kamu benar-benar ngajak, aku pasti—”

“Aku benar-benar nanya.”

Aku tidak mengatakan cincin sudah ada, restoran sudah dipesan, atau restu orang tuanya sudah kudapat. Kalau dia tahu sekarang, jawabannya tidak akan pernah terasa bersih lagi.

“Aku cuma butuh waktu buat ngerti kepala aku.”

“Berapa lama?”

“Aku nggak tahu.”

Aku berdiri. “Pulang dulu, Manda.”

“Aku nggak mau pulang begini.”

“Aku perlu sendiri.”

“Fan, please.”

“Aku nggak lagi menghukum kamu.”

“Rasanya begitu.”

“Aku tahu.”

Aku menyerahkan tasnya.

Di depan pintu dia berhenti. “Besok gimana?”

Besok. Rooftop. Bunga. Cincin.

“Aku kabarin.”

Amanda mengangguk kecil lalu keluar.

Aku tidak mengejar.

Di ruang kerja aku mengambil kotak cincin dan duduk. Untuk pertama kalinya sejak membelinya, aku tidak bisa membayangkan benda itu berada di jari Amanda.

Bukan karena aku berhenti mencintainya.

Karena kalau aku berlutut besok, aku akan selalu mengingat empat detik tadi.

Aku membuka kontak restoran. Jempolku berhenti di tombol telepon.