← Back Off

Chapter Seven

Cincin

POV: Fandy Pramudia

Kotaknya lebih kecil daripada yang kubayangkan.

Aku membukanya di dalam mobil karena tidak sabar menunggu sampai rumah.

Cincin itu berada di tengah bantalan hitam. Sederhana. Lingkar tipis dengan satu batu yang tidak terlalu besar.

Persis seperti yang Amanda pilih ketika dia mengira kami cuma sedang membuang waktu di toko perhiasan.

Aku menatapnya cukup lama.

Kemudian ponselku bergetar.

Raka.

Sudah?

Aku memotret kotaknya.

Tiga titik muncul hampir seketika.

Wah. Adik gue akhirnya dewasa.

Aku mengetik.

Gue batal.

Telepon masuk.

Aku mengangkat.

“Jangan bercanda soal begitu, goblok.”

Aku tertawa. “Kenapa?”

“Gue sudah susah-susah kosongin jadwal.”

“Tugas lo apa memang?”

“Support moral.”

“Nggak butuh.”

“Makanya lo butuh.”

Aku menutup kotak cincin.

“Restoran sudah confirm?”

“Sudah.”

“Om Tante?”

“Sudah.”

“Terus kurang apa?”

Aku berpikir.

“Nggak ada.”

Raka diam sebentar.

“Nervous?”

“Sedikit.”

“Bagus.”

“Kenapa semua orang senang gue nervous?”

“Bukti lo manusia.”

Raka tertawa.

“Fandy.”

“Hm?”

“Dia bakal senang.”

Aku melihat kotak di tanganku.

“Iya.”

“Percaya diri banget.”

“Kalau nggak yakin, gue nggak akan beli.”

Sulit membayangkan Amanda menjawab tidak.

Bukan karena aku merasa berhak atas jawabannya.

Kami sudah membicarakan pernikahan berkali-kali, meskipun selalu dalam bentuk nanti. Apartemen. Anak. Keluarga. Bahkan soal apakah kami perlu pesta besar.

Amanda selalu mengeluh dia ingin pernikahan kecil tapi ibunya pasti mengundang semua orang yang pernah dikenalnya.

Aku tidak sedang mengejutkannya dengan ide menikah.

Aku cuma mengejutkannya dengan kapan.

Setelah telepon berakhir, aku menyimpan kotak itu di kompartemen tas yang jarang kubuka.

Di kantor, aku gagal fokus hampir setengah jam.

Dimas dari tim sebelah berhenti di mejaku.

“Kenapa?”

“Apa?”

“Lo senyum sendiri.”

“Nggak.”

“Serem.”

Aku kembali melihat layar.

“Kerja.”

Dimas tertawa lalu pergi.

Aku membuka kalender.

Sabtu depan.

Delapan hari.

Reservasi pukul tujuh malam.

Aku sudah meminta meja di sudut yang menghadap kota. Tidak ada dekorasi khusus. Tidak ada tulisan besar. Tidak ada fotografer tersembunyi.

Amanda ekspresif, tetapi dia tidak suka momen pribadi menjadi tontonan.

Aku tahu karena dua tahun lalu kami melihat proposal di pusat perbelanjaan dengan puluhan orang berkerumun.

Amanda berbisik kepadaku, “Kalau kamu suatu hari begini, aku kabur.”

Aku menjawab akan mengingatnya.

Aku memang ingat.

Sore harinya Amanda menelepon.

“Kamu pulang jam berapa?”

“Enam mungkin.”

“Aku ke sana.”

“Kenapa?”

“Kenapa harus ada alasan?”

“Nggak.”

“Aku bawa makan.”

Aku langsung melihat tas yang berisi cincin.

“Jam berapa?”

“Setengah tujuh?”

“Chat sebelum naik.”

Amanda diam.

“Kenapa?”

“Biar aku turun.”

“Kenapa turun?”

Aku mencari alasan.

“Paket.”

“Kamu bisa ambil paket setelah aku naik.”

Aku menutup mata.

“Pokoknya chat.”

“Kamu aneh.”

“Memang.”

“Ya sudah.”

Begitu telepon berakhir, aku membawa tas ke mobil.

Cincin itu pindah ke bagasi, di bawah kotak perkakas yang Amanda tidak akan sentuh kecuali dunia berakhir.

Setengah tujuh, pesan masuk.

Aku di lobby.

Aku turun.

Amanda berdiri membawa dua kantong makanan dan satu paper bag.

“Kamu beneran turun.”

“Iya.”

“Paketnya mana?”

“Sudah diambil.”

Dia menyipitkan mata.

Aku mengambil kantong makanan.

“Apaan?”

“Bakmi.”

“Yang satu?”

“Dessert.”

“Paper bag?”

Amanda memeluknya ke dada.

“Rahasia.”

Sekarang giliranku menatap curiga.

Dia tertawa.

Di apartemen, Amanda mengeluarkan sebuah kemeja dari paper bag.

“Buat kamu.”

“Kenapa?”

“Lihat terus waktu kemarin.”

Aku mengingatnya. Kami melewati toko dan aku sempat melihat display beberapa detik.

“Kamu tahu?”

“Aku memperhatikan.”

Aku menatapnya.

Amanda menyeringai.

Lucu.

Aku sedang menyembunyikan cincin karena memperhatikan cincin yang dia suka.

Dia membelikanku kemeja karena memperhatikan sesuatu yang kulihat.

Mungkin kami berdua sudah terlalu lama mengamati satu sama lain.

“Coba.”

“Sekarang?”

“Iya.”

Aku mengganti kemeja.

Amanda langsung mendekat dan merapikan kerahnya.

“Bagus.”

“Lumayan.”

Dia memukul dadaku.

“Kalau nggak suka bilang.”

“Suka.”

“Beneran?”

“Iya.”

Amanda tersenyum.

Malam berjalan seperti biasa.

Kami makan di depan televisi. Amanda memilih acara yang bahkan tidak dia tonton karena sibuk membaca komentar di ponselnya. Dia menyandarkan kaki di pahaku.

Aku sesekali melihatnya.

Delapan hari.

“Apa?” tanyanya tiba-tiba.

“Nggak.”

“Kamu lihat-lihat.”

“Boleh.”

“Cantik?”

Aku menatap televisi.

“Lumayan.”

Amanda melempar bantal.

Aku tertawa.

Setelah dia tertidur, aku turun ke parkiran.

Aku mengambil kotak cincin dari bagasi dan membawanya ke atas setelah yakin Amanda benar-benar tidur.

Aku menyimpannya di kotak dokumen lama di bagian atas lemari ruang kerja.

Aku berdiri di depan lemari cukup lama.

Delapan hari.

Aku membayangkan rooftop.

Amanda mungkin akan curiga karena aku mengajaknya ke tempat anniversary pertama.

Mungkin dia akan tahu sebelum aku sempat mengeluarkan cincin.

Mungkin dia menangis.

Mungkin aku yang terlalu gugup sampai lupa kalimat yang sudah kupikirkan.

Aku belum menyiapkan pidato.

Tidak ingin.

Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya.

Bahwa hidup dengannya sudah menjadi sesuatu yang kulakukan tanpa harus berpikir.

Bahwa aku ingin bangun di tempat yang sama.

Pulang ke tempat yang sama.

Berdebat soal makan siang selama puluhan tahun kalau perlu.

Aku menutup lemari.

Saat kembali ke kamar, Amanda tidur miring dengan separuh selimut jatuh ke lantai.

Aku mengambil selimut dan menutup tubuhnya.

Dia bergerak sedikit.

“Fan?”

“Hm.”

“Kamu dari mana?”

“Minum.”

Amanda mengulurkan tangan tanpa membuka mata.

Aku mendekat.

Tangannya menemukan pergelangan tanganku lalu menariknya ke kasur.

“Tidur.”

“Iya.”

Aku berbaring.

Amanda langsung mendekat dan kembali tidur.

Aku menatap langit-langit.

Ada cincin beberapa meter dari kami.

Satu kotak kecil yang, dalam delapan hari, seharusnya berpindah dari lemari ke tangannya.

Aku membayangkan pagi setelahnya.

Amanda mungkin akan memotret tangannya dari lima sudut berbeda. Keisha akan menelepon. Ibunya akan pura-pura kaget meskipun sudah tahu.

Raka pasti mengirim pesan yang menyebalkan.

Aku bahkan membayangkan hal-hal setelah itu.

Mencari tempat tinggal.

Membicarakan tanggal.

Berdebat soal jumlah tamu.

Semua terasa dekat.

Nyata.

Aku memiringkan kepala melihat Amanda.

Dia tidur tanpa tahu bahwa hampir semua orang terdekatnya menyimpan rahasia yang sama.

Aku tersenyum.

Mungkin memang begini rasanya ketika sebuah keputusan sudah selesai dibuat.

Tidak ada pertanyaan lagi.

Tinggal menunggu waktunya.

Aku tidak tahu delapan hari ternyata cukup panjang untuk membuat pertanyaan yang tidak pernah ada mulai muncul.

Pagi berikutnya aku bangun lebih dulu.

Amanda masih tidur dengan satu tangan di atas bantal kosong di sisiku.

Aku membuat kopi dan membuka kalender di meja makan.

Ada beberapa hal kecil yang belum selesai.

Memastikan reservasi.

Mengambil kemeja dari laundry.

Membeli bunga atau tidak.

Bagian terakhir membuatku berhenti.

Amanda suka bunga, tetapi selalu mengeluh sayang kalau akhirnya layu. Mungkin satu buket kecil cukup.

Aku menulis catatan di ponsel.

Bunga kecil. Bukan mawar merah.

Kemudian kuhapus lagi.

Terlalu seperti checklist pekerjaan.

Aku tertawa sendiri.

Amanda keluar dari kamar beberapa menit kemudian dengan rambut berantakan.

“Kopi?”

Aku menggeser cangkirnya.

Dia duduk, minum, lalu memejamkan mata seperti baru kembali hidup.

“Sabtu depan jangan bikin rencana,” kataku.

Amanda membuka satu mata.

“Kenapa?”

“Makan.”

“Di mana?”

“Belum tahu.”

“Bohong.”

“Kenapa?”

“Kalau belum tahu, kamu nggak akan booking kalender aku seminggu sebelumnya.”

Aku mengangkat cangkir.

“Pokoknya kosong.”

Amanda menyipitkan mata.

“Date?”

“Iya.”

“Dress code?”

“Biasa.”

“Biasa versi kamu itu apa?”

“Baju.”

Dia menendang kakiku di bawah meja.

“Fine. Aku kosongin.”

Semudah itu.

Amanda mengambil ponselnya dan benar-benar memblokir Sabtu malam.

Aku melihatnya melakukan itu.

Satu kotak waktu di kalender.

Satu malam yang sudah kupenuhi dengan rencana yang belum dia tahu.

Dia lalu mulai membicarakan pekerjaan lagi, seolah Sabtu depan tidak berbeda dari date kami yang lain.

Aku mendengarkan sambil memegang kopi.

Tujuh hari.

Aku hampir ingin mempercepat waktu.

Kalau aku tahu apa yang akan terjadi sebelum malam itu tiba, mungkin justru aku akan meminta waktu berhenti di pagi tersebut.

Sebelum berangkat kerja, Amanda mencium pipiku di depan pintu.

“Jangan lupa kemeja baru dipakai kapan-kapan.”

“Sabtu?”

Dia tersenyum. “Boleh.”

Aku mengangguk.

Bagus.

Tanpa sengaja dia baru memilih kemeja yang akan kupakai saat melamarnya.

Pintu lift menutup di depannya.

Aku berdiri beberapa detik dengan tangan masih di gagang pintu apartemen.

Kemudian aku tertawa pelan.

Semua bagian kecilnya seperti jatuh ke tempat yang tepat.

Kemeja dari Amanda.

Tempat anniversary pertama.

Cincin yang dia pilih tanpa tahu sedang memilih.

Aku tidak percaya pada pertanda.

Tetapi pagi itu, semuanya terasa terlalu pas untuk tidak membuatku bahagia.