← Back Off

Chapter Twenty Nine

Tidak Seperti Dulu

POV: Amanda Rigby

Aku mulai bercanda lagi dan membalas kritik Fandy seperti biasa, tetapi berhenti memakai sejarah kami sebagai jalan pintas.

Suatu siang aku mengajak seluruh tim makan. Dimas duduk di antara kami. Aku membuat lelucon dan Fandy tertawa. Refleksku langsung menoleh. Dia juga menatapku sepersekian detik.

Aku menolak memberi makna besar pada satu tawa.

Beberapa hari kemudian aku berkata, “Temenin aku beli dessert, yuk.” Fandy melihat jam. “Nggak. Ada call.” Aku membujuk sekali. Dia tetap tidak.

Aku berkata oke dan pergi sendiri. Dulu aku mungkin akan menarik lengannya. Dulu dia mungkin mengalah.

Cheat code lama tidak bekerja, dan seharusnya memang tidak.

Aku membeli dessert untuk diriku dan satu kotak untuk meja bersama, bukan khusus Fandy.

Sore hari Fandy datang dan bertanya apakah yang cokelat masih ada. Ketika dia bertanya enak, aku menjawab, “Lumayan.” Dia menatapku dan aku berkata, “Ketularan.”

Setiap kali aku tidak memaksa, Fandy terlihat sedikit lebih santai. Aku tidak menghitungnya sebagai poin.

Suatu malam kami lembur. Fandy berkata kopi ketigaku tidak akan membantu. Aku terkejut dia masih menghitung. Aku tidak menggodanya atau berkata dia masih perhatian.

Aku hanya mengambil air putih dan bertanya, “Puas?” Dia mengangguk.

Dulu perhatian Fandy kuanggap milikku. Sekarang aku membiarkan perhatian itu menjadi sekadar perhatian.

Dimas bercerita Fandy sekarang sering menjadi orang terakhir pulang. Aku hampir berkata dia memang begitu, lalu memilih mendengarkan.

Mengenal Fandy sekarang berarti menerima cerita orang lain tentangnya.

Sore lain jari kami hampir bersentuhan ketika bertukar file. Aku menarik tangan sedikit. Dulu aku akan sengaja menyentuh lagi untuk membuatnya salah tingkah.

Sekarang aku membiarkan ruang itu ada.

Kedekatan bukan permainan poin. Satu tawa bukan plus satu. Satu penolakan bukan minus satu.

Aku tidak tahu apakah Fandy akan jatuh cinta lagi. Tetapi untuk pertama kalinya aku menikmati mengenalnya tanpa bertanya kapan aku akan mendapatkannya kembali.

Bukan memenangkan Fandy. Mengenalnya.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.

Kalau setiap interaksi kuubah menjadi ukuran keberhasilan, aku akan kembali menjadikan Fandy tujuan yang harus dimenangkan. Aku ingin melihatnya sebagai manusia yang bebas memilih, bukan hadiah untuk versi diriku yang sudah berubah.