← Back Off

Chapter Six

Tiga Tahun Empat Bulan

POV: Amanda Rigby

Aku baru sadar hari itu tepat tiga tahun empat bulan sejak Fandy dan aku resmi pacaran karena aplikasi kalender mengingatkanku.

Bukan anniversary besar. Cuma notifikasi lama yang entah kenapa masih aktif.

Aku memotretnya dan mengirim ke Fandy.

Tiga tahun empat bulan. Selamat sudah tahan.

Balasannya datang lima menit kemudian.

Terima kasih atas evaluasi kinerjanya.

Aku tertawa di meja kerja.

Keisha melongok. “Kenapa?”

“Fandy.”

“Sudah kuduga. Kalau senyummu kayak orang kurang pintar biasanya Fandy.”

Aku melempar sticky note ke arahnya.

Sore itu aku mampir ke apartemen Fandy. Dia masih bekerja ketika aku datang, jadi aku membuka kulkas dan memutuskan membuat makan malam.

Kesalahan pertama.

“Fan.”

“Hm?”

“Minyaknya yang mana?”

Fandy muncul dari ruang kerja. Dia melihat wajan, telur, dua mangkuk, dan ekspresiku.

“Aku mau masak.”

Dia menatap langit-langit seolah meminta kekuatan.

“Jangan lebay.”

“Aku nggak ngomong apa-apa.”

“Mukamu ngomong.”

Fandy mengambil botol minyak dari lemari tepat di depanku.

“Oh.”

“Kamu tinggal di sini separuh minggu.”

“Bukan berarti aku hafal inventaris dapur.”

“Skincare kamu hafal.”

“Itu kebutuhan primer.”

Aku mendorongnya keluar. “Pergi. Aku mau bikin surprise.”

“Aku sudah lihat.”

“Pura-pura belum.”

Empat puluh menit kemudian kami makan nasi, telur, dan tumis sayur yang terlalu asin.

Fandy tetap menghabiskan semuanya.

“Asin, kan?”

“Sedikit.”

“Bohong.”

“Lumayan.”

“Lumayan itu kode kamu buat jelek.”

“Nggak.”

“Tom yum waktu itu kamu bilang lumayan.”

“Enak.”

“Sekarang baru ngaku?”

Fandy tertawa.

Aku menyandarkan dagu di tangan. “Tahu nggak hari ini apa?”

“Rabu.”

Aku menendang kakinya di bawah meja.

“Tiga tahun empat bulan.”

“Oh.”

“Oh doang?”

“Aku sudah bales chat.”

“Harusnya kamu bilang, ‘Tiga tahun empat bulan paling indah dalam hidupku, Amanda.’”

“Panjang.”

“Coba.”

Fandy menatapku. “Tiga tahun empat bulan.”

“Terus?”

“Lumayan.”

Aku melempar tisu. Dia tertawa.

Setelah makan aku mencuci piring karena merasa bersalah sudah membuat dapur seperti lokasi eksperimen. Fandy mengeringkannya.

“Dulu kamu lebih romantis,” kataku.

“Kapan?”

“Awal pacaran.”

“Aku?”

Aku berpikir. Sebenarnya tidak juga.

Fandy bahkan pernah membawaku kencan kedua ke kedai kopi yang tutup satu jam setelah kami datang karena dia salah membaca jam operasional.

Aku tertawa sendiri.

“Apa?”

“Aku ingat kencan kedua.”

Fandy mengerang pelan. “Jangan.”

“Kita diusir.”

“Bukan diusir.”

“Lampunya dimatiin.”

“Karena tutup.”

“Aku pikir kamu sengaja pilih tempat sepi.”

“Aku salah lihat jam.”

“Aku tahu sekarang.”

Satu kenangan memancing yang lain.

Pertama kali Fandy bertemu Keisha dan mengira dia tidak menyukainya karena Keisha terus menatap. Pertama kali aku menginap di apartemen ini dan menemukan kulkas berisi air mineral, telur, dan saus. Pertengkaran pertama kami karena Fandy menghilang enam jam saat sibuk bekerja tanpa memberi kabar.

“Aku kira kamu marah,” katanya.

“Aku memang marah.”

“Kamu datang bawa kopi.”

“Marah nggak berarti harus haus.”

Fandy tersenyum.

Aku menyandarkan punggung ke kitchen counter.

“Kamu pernah bosan nggak sama aku?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Fandy yang sedang menaruh piring berhenti.

“Pernah.”

Aku langsung berdiri tegak. “Hah?”

“Pernah.”

“Kok jawabannya cepat banget?”

“Kamu tanya.”

“Aku berharap kamu bohong sedikit.”

Fandy menutup lemari.

“Aku pernah bosan.”

Aku menatapnya dengan ekspresi terluka yang sengaja kulebihkan.

Dia berjalan mendekat.

“Sama hidupnya.”

Aku masih diam.

“Bukan sama kamu.”

“Bedanya?”

“Kadang kerjaan capek. Macet. Rutinitas sama. Weekend juga pengin tidur.”

“Terus aku?”

“Kamu bagian yang bikin rutinitasnya nggak terlalu jelek.”

Aku menatapnya.

“Fan.”

“Hm?”

“Itu romantis.”

“Jangan dibesar-besarkan.”

Aku memeluk pinggangnya. Dia mengusap punggungku.

Tiga tahun empat bulan.

Kami sudah melewati fase ketika setiap pertemuan harus menjadi kencan. Kadang aku datang hanya untuk tidur. Kadang Fandy menjemputku lalu kami sama-sama terlalu lelah untuk bicara.

Kami pernah bertengkar soal waktu, pekerjaanku yang sering masuk akhir pekan, kebiasaan Fandy memendam sesuatu sampai aku harus menebak, dan caraku mengambil keputusan kecil untuk kami berdua tanpa bertanya.

Tidak semua selesai dalam satu malam.

Tetapi selalu selesai.

“Kalau nanti kita sudah sepuluh tahun, kamu masih mau dengar aku ngomel soal klien?”

“Kalau kamu masih kerja di tempat yang sama sepuluh tahun lagi, aku yang suruh resign.”

Aku tertawa. “Lima belas tahun?”

“Boleh.”

“Dua puluh?”

“Pendengaranku mungkin sudah turun.”

Aku mencubit pinggangnya.

Fandy menangkap tanganku.

“Aku serius. Kamu nggak takut kita bosan?”

Dia berpikir lebih lama kali ini.

“Bosan pasti pernah.”

Jawabannya terlalu praktis sampai aku mendengus.

Fandy melanjutkan, “Tapi kalau bosan berarti selesai, orang nggak akan punya apa-apa yang bertahan lama.”

Aku diam.

“Wah.”

“Apa?”

“Product Designer bisa bijak juga.”

“Keluar.”

Aku tertawa dan memeluknya lebih erat.

Malam itu kami membuka album foto lama. Ada foto pertama kami setelah resmi pacaran. Fandy terlihat kaku sementara aku menempel terlalu dekat.

“Aku lebih muda,” kataku.

“Jelas.”

“Lebih cantik?”

Fandy menatap foto lalu menatapku.

“Pertanyaan jebakan.”

“Jawab.”

“Kamu sekarang cantik.”

“Berarti dulu nggak?”

“Amanda.”

Aku tertawa sampai perutku sakit.

Aku menemukan screenshot chat ketika aku pertama kali mengajaknya kencan.

Sabtu kamu kosong?

Siang kosong. Ada apa?

Makan yuk.

Sama tim?

SAMA AKU.

Aku hampir jatuh dari sofa.

“Ya ampun, kamu bego banget.”

“Aku kira networking.”

“Networking apaan pakai emoji hati?”

“Kamu pakai emoji hati ke semua orang.”

“Itu beda.”

“Bedanya?”

“Aku yang kirim.”

Fandy menatapku.

Aku sadar kalimat itu familiar lalu tertawa lebih keras.

Menjelang tengah malam aku bersandar di dadanya sambil masih menggulir foto.

Tidak ada candlelight dinner. Tidak ada hadiah. Tidak ada perayaan.

Hanya dua orang yang mengingat bagaimana mereka sampai di sini.

Aku meletakkan ponsel.

“Happy tiga tahun empat bulan.”

Fandy mencium keningku.

“Happy tiga tahun empat bulan.”

Akhirnya.

Aku tersenyum puas.

“Aku pikir dulu kamu bakal bosan sama aku dalam tiga bulan.”

“Kenapa?”

“Kamu pendiam. Aku berisik.”

“Masih.”

“Terus kenapa tahan?”

Fandy memandangku lama, lalu mengangkat bahu kecil.

“Nyaman.”

Aku mencibir. “Romantis banget.”

“Kan tadi sudah.”

“Tunjangan romantis sehari cuma satu?”

“Iya.”

Aku tertawa.

Tapi kata nyaman tinggal lebih lama di kepalaku daripada pujian mana pun.

Aku juga nyaman.

Terlalu nyaman, mungkin.

Aku percaya kami sudah melewati bagian sulit dari sebuah hubungan. Kami sudah mengenal sisi menyebalkan masing-masing dan tetap tinggal. Sudah pernah bosan dan tetap pulang. Sudah pernah marah dan tetap bicara.

Aku pikir itu berarti kami aman.

Aku belum mengerti bahwa hubungan tidak menjadi kebal hanya karena sudah bertahan lama.

Kadang sesuatu tidak hancur karena cintanya habis.

Kadang cinta masih ada dalam jumlah yang sama.

Yang berubah cuma satu hal kecil.

Keraguan.

Sebelum tidur aku mengambil foto kami yang baru. Tidak bagus. Rambutku berantakan, Fandy setengah menutup mata, dan cahaya ruang tamu membuat semuanya kekuningan.

Aku tetap menjadikannya wallpaper.

“Kenapa yang itu?” tanyanya.

“Realistis.”

Fandy menatapku.

Aku tertawa karena berhasil memakai kata favoritnya.

“Biar nanti kalau kita tua, aku punya bukti kamu pernah punya rambut banyak.”

“Keluar.”

Aku semakin tertawa.

Fandy mencoba mengambil ponselku. Aku menjauh, lalu kami berakhir berebut di sofa seperti dua orang yang usianya seharusnya sudah terlalu dewasa untuk itu.

Aku menang karena menggigit tangannya.

“Curang.”

“Strategi.”

“Brutal.”

“Efektif.”

Setelah kami tenang, aku memandangi foto itu lagi.

“Aku suka kita yang sekarang.”

Fandy menoleh.

“Maksudnya?”

“Dulu seru. Tapi dulu aku masih sering mikir kamu suka aku sebesar aku suka kamu atau nggak.”

“Kamu nanya tiap minggu.”

“Karena kamu susah dibaca.”

“Sekarang?”

“Sekarang nggak perlu.”

Aku mengatakan itu tanpa berpikir.

Fandy tidak langsung menjawab.

Aku menoleh.

Dia cuma tersenyum kecil lalu mengusap rambutku.

Kepercayaan kadang tumbuh begitu pelan sampai kita lupa bentuknya ketika belum ada.

Aku sudah lupa bagaimana rasanya meragukan Fandy.

Aku sudah lupa bagaimana rasanya bertanya apakah besok dia masih akan memilih hubungan ini.

Mungkin itu alasan aku bisa begitu santai.

Aku menganggap rasa aman sebagai sesuatu yang sudah kami menangkan sekali untuk selamanya.

Padahal rasa aman juga sesuatu yang harus dijaga.

Bukan cuma diterima.

Pagi berikutnya, sebelum berangkat, Fandy memberiku kotak makan berisi sisa masakanku.

Aku menatapnya.

“Kamu serius suruh aku makan ini lagi?”

“Kamu yang masak.”

“Buang aja.”

“Sayang.”

Aku tertawa. “Kamu benar-benar calon suami hemat.”

Fandy berhenti sepersekian detik.

Aku tidak melihatnya karena sedang memasukkan kotak ke tas.

Kalimat itu bagiku cuma bercanda.

Baginya, tanpa kuketahui, kata calon sudah hampir menjadi rencana.