← Back Off

Chapter Twenty Seven

Tidak

POV: Amanda Rigby

Aku mengajak Fandy makan siang setelah meeting. “Fan. Makan?” Dia melihat jam dan berkata, “Nggak bisa.” Aku menunggu alasan. Tidak ada.

Dulu dia akan menjelaskan dengan siapa, ke mana, dan kapan selesai. Sekarang dia hanya punya rencana, dan rencana itu bukan urusanku.

Aku berkata, “Next time.” Fandy menjawab, “Boleh,” lalu pergi. Penolakan kecil itu menunjukkan perubahan lebih jelas daripada apa pun.

Aku sedikit sedih, tetapi juga lega. Fandy punya hidup yang tidak menungguku.

Keisha bertanya apakah aku akan mengajak lagi. Aku bilang mungkin, tetapi bukan besok. Aku tidak mau mengejar dengan cara lama.

Saat tim lembur, aku mengumpulkan pesanan makan dalam grup. Fandy memesan nasi goreng tanpa acar. Aku hampir menambahkan telur karena tahu dia suka, lalu berhenti. Dia tidak memesan telur.

Ketika makanan datang dia berkata, “Nggak ada telur.” Aku menahan senyum. “Kamu nggak pesan.” Fandy mengangguk dan menerima setengah telur dari Dimas.

Aku belajar mengenal seseorang tidak berarti harus mengantisipasi setiap kebutuhannya.

Menjelang pulang hujan deras. Aku membuka payung kecil. Fandy melihat dan bertanya sejak kapan aku membawa payung. Aku menjawab sekarang aku juga membawa charger.

“Perkembangan,” katanya. Aku tertawa.

Aku ingin menjelaskan bahwa aku belajar setelah dia pergi. Tidak. Perubahan bukan presentasi yang harus dinilai Fandy.

Seminggu kemudian aku mengajak seluruh tim makan bakso. Fandy ikut karena Dimas ikut. Aku tidak menganggap itu kemenangan.

Di meja dia mengambil sambal. Aku refleks mengingatkan pedas. Fandy berkata, “Aku tahu,” lalu mengambil sedikit. Aku membiarkannya.

Perhatian juga bisa berarti tidak mengambil alih.

Kalau Fandy mengatakan tidak, aku berhenti. Kalau suatu hari dia mengatakan iya, aku ingin itu benar-benar pilihannya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.

Menghormati batas terdengar sederhana sampai batas itu memisahkan kita dari sesuatu yang sangat kita inginkan. Kecewa bukan alasan untuk mendorong lebih keras. Tidak tetap tidak, bahkan ketika dulu aku terbiasa mendengar iya.