← Back Off

Chapter Ten

Kebetulan Kedua

POV: Amanda Rigby

Adrian masih mengaduk es di gelas ketika dia berkata, “Kamu masih ingat tempat nasi goreng belakang kampus?”

Aku tertawa. “Yang bikin kita sakit perut?”

“Kamu yang sakit. Aku nggak.”

“Kamu dua hari nggak masuk.”

“Karena deadline.”

“Pembohong.”

Dia tertawa.

Makan siang yang awalnya kurencanakan satu jam sudah lewat satu jam dua puluh menit.

Aku melihat jam.

“Aku harus balik sebentar lagi.”

“Iya. Maaf. Kebanyakan nostalgia.”

Kata itu menggantung.

Nostalgia.

Setidaknya kami sama-sama tahu apa yang sedang terjadi.

Bukan sesuatu yang baru.

Justru sesuatu yang lama.

Adrian menyandarkan punggung.

“Aneh ya.”

“Apa?”

“Enam tahun.”

“Lama.”

“Tapi beberapa hal masih gampang diingat.”

Aku memainkan sedotan.

“Otak memang suka nyimpen sampah.”

“Jahat.”

“Realistis.”

Adrian tertawa. “Kamu sekarang pakai kata realistis?”

Aku berhenti.

Itu kata Fandy.

“Ketularan.”

“Pacarmu?”

“Iya.”

Adrian mengangguk.

Tidak ada perubahan ekspresi yang dramatis.

“Namanya?”

“Fandy.”

“Kerja apa?”

“Product Designer.”

“Sudah pernah bahas nikah?”

Pertanyaan itu membuatku mengangkat kepala.

“Kok langsung jauh?”

“Tiga tahun lebih. Wajar nanya.”

Aku tersenyum.

“Pernah. Maksudnya… sering bercanda.”

“Bercanda?”

“Ya bukan bercanda juga.”

Aku tiba-tiba merasa aneh menjelaskan hubunganku kepada Adrian.

“Kami serius.”

“Good.”

Dia mengatakannya tanpa nada lain.

Aku lega.

Entah kenapa aku tadi sempat takut percakapan ini akan berubah menjadi sesuatu yang tidak nyaman.

Adrian menunjuk gelasku.

“Kamu masih nggak bisa minum kopi setelah jam dua?”

Aku melihat jam. “Sekarang baru satu.”

“Dulu jam satu aja malamnya kamu chat sampai tiga karena nggak bisa tidur.”

Aku tertawa.

“Kamu masih ingat?”

“Sayangnya.”

Kenangan lain muncul.

Aku usia dua puluh satu tahun, menelepon Adrian tengah malam karena tidak bisa tidur. Dia mengeluh tetapi tetap menemani sampai aku mengantuk.

Rasanya seperti mengingat kehidupan orang lain yang kebetulan pernah menjadi milikku.

“Singapura gimana?” tanyaku.

Adrian menghela napas.

“Bagus. Capek. Banyak belajar.”

“Kenapa akhirnya pulang?”

Dia melihat ke luar jendela.

“Awalnya karena proyek. Terus bokap mulai sering sakit. Lama-lama gue mikir, gue sebenarnya ngejar apa di sana?”

Aku diam.

“Jadi pulang.”

“Nggak nyesel?”

“Belum.”

“Baru tiga minggu.”

“Makanya belum.”

Kami tertawa.

Percakapan bergeser ke orang tua, teman lama, dosen yang masih kami ingat, dan tempat-tempat yang sudah tutup.

Tidak ada flirting.

Tidak ada sentuhan.

Tidak ada satu kalimat pun yang bisa kutunjuk dan sebut salah.

Itulah yang membuatnya mudah.

Ketika akhirnya kami berdiri, Adrian berkata, “Thanks sudah mau ketemu.”

“Kenapa ngomongnya kayak aku susah diajak?”

“Dulu sih gampang.”

“Sekarang juga gampang.”

Kalimat itu keluar sebelum kupikirkan.

Adrian tersenyum kecil.

“Good to know.”

Aku langsung merasa ada sesuatu yang bergeser, sangat kecil.

“Maksudku kalau jadwal kosong.”

“Aku tahu.”

Dia tidak memperpanjang.

Kami berpisah di depan restoran.

Di taksi kembali ke kantor, aku membuka chat Fandy.

Selesai makan.

Fandy membalas beberapa menit kemudian.

Enak?

Aku: Enak. Tempat lama dekat kampus.

Fandy: Oh.

Aku menunggu.

Tidak ada pertanyaan lain.

Aku mengetik.

Nanti malam aku cerita.

Fandy: Oke.

Aku menatap layar.

Kepercayaan yang dia berikan masih sama.

Aku ingin menjaganya.

Aku sungguh ingin.

Di kantor, Keisha melihatku datang.

“Gimana?”

“Normal.”

“Normal gimana?”

“Makan. Ngobrol. Pulang.”

“Terus?”

“Nggak ada terus.”

Keisha mengangguk, tetapi tidak terlihat sepenuhnya yakin.

“Kei.”

“Apa?”

“Aku sama Fandy baik-baik aja.”

“Gue tahu.”

“Terus jangan lihat aku kayak gitu.”

“Gue nggak lihat apa-apa.”

Aku mendengus dan duduk.

Ponselku bergetar.

Adrian: Ternyata ngobrol satu jam nggak cukup buat enam tahun.

Aku membaca pesan itu.

Ada emoji tertawa di belakangnya.

Aku bisa membalas dengan emoji yang sama.

Bisa berhenti di sana.

Aku mengetik.

Makanya jangan kebanyakan cerita soal dosen.

Adrian: Minggu depan lanjut?

Aku berhenti.

Jumat depan kalenderku cukup kosong.

Aku belum menjawab.

Bukan karena merasa tidak boleh.

Aku hanya mendengar suara Keisha di kepala.

Jangan bikin hal normal jadi aneh.

Aku meletakkan ponsel.

Malamnya aku bertemu Fandy.

Dia mengenakan kemeja yang kubelikan.

Aku langsung tersenyum.

“Dipakai.”

“Katanya kapan-kapan.”

“Bagus banget.”

Aku merapikan kerahnya meskipun tidak perlu.

Fandy mencium keningku.

“Makan?”

“Makan.”

Kami berjalan menuju restoran sambil bergandengan tangan.

Aku menceritakan makan siang dengan Adrian.

Fandy mendengarkan.

Aku cerita soal kampus, soal nasi goreng, soal Adrian pulang karena ayahnya.

Aku tidak menceritakan pesan terakhir.

Bukan sengaja menyembunyikan.

Aku sendiri belum menjawab.

“Kedengarannya seru,” kata Fandy.

“Lumayan.”

Dia menoleh.

Aku baru sadar memakai kata itu.

“Kenapa?”

“Nggak.”

Kami terus berjalan.

Malam itu, setelah Fandy pulang, aku membuka lagi pesan Adrian.

Minggu depan lanjut?

Aku mengetik.

Boleh. Nanti kabarin aja.

Pesan terkirim.

Aku menatapnya.

Pertemuan pertama adalah kebetulan.

Pertemuan kedua adalah makan siang yang diketahui Fandy.

Pertemuan berikutnya sekarang sudah menjadi sesuatu yang kupilih sendiri.

Tetap tidak salah.

Setidaknya belum.

Yang tidak kusadari adalah batas jarang dilewati dengan satu langkah besar.

Biasanya kita mendekatinya sedikit demi sedikit sambil terus mengatakan bahwa posisi kita masih aman.

Keesokan harinya Adrian mengirim foto menu lama restoran yang sempat kami bahas.

Adrian: Mereka masih jual es teh absurd ini.

Aku tertawa di meja.

Keisha mendengar.

“Apa?”

“Nggak.”

“Adrian?”

Aku menatapnya. “Kok tahu?”

“Fandy kalau bikin lo ketawa, lo langsung cerita. Kalau lo bilang nggak, berarti bukan Fandy.”

Aku tidak suka betapa masuk akalnya kalimat itu.

“Cuma foto.”

“Gue nggak larang.”

“Nada kamu.”

Keisha memutar kursinya menghadapku.

“Manda, gue nggak mikir lo mau selingkuh.”

“Ya memang nggak.”

“Gue tahu. Tapi lo suka nostalgia. Lo nyimpen tiket konser sepuluh tahun lalu.”

“Itu kenang-kenangan.”

“Nah.”

Aku menutup chat.

“Adrian juga kenang-kenangan?”

Keisha mengangkat bahu. “Itu yang cuma lo bisa jawab.”

Aku kesal sepanjang sepuluh menit berikutnya.

Bukan pada Keisha.

Pada pertanyaannya.

Adrian bukan benda yang kusimpan di laci. Dia orang. Orang yang pernah kucintai. Orang yang sekarang kembali sebagai versi yang sudah enam tahun tidak kukenal.

Apa salahnya ingin tahu dia menjadi siapa?

Jawabannya terasa jelas.

Tidak ada.

Siang itu Fandy mengirim link apartemen.

Fandy: Dapurnya besar.

Aku langsung membuka.

Unit dua kamar. Jendela besar. Dapur yang memang jauh lebih baik daripada miliknya.

Aku: MAHAL.

Fandy: Makanya lihat doang.

Aku: Balkon bagus.

Fandy: Katanya kalau balkon bagus bakal duduk.

Aku tersenyum.

Dia ingat percakapan itu.

Aku: Kita survey iseng kapan-kapan.

Fandy: Boleh.

Kata kita membuat sesuatu di dadaku kembali tenang.

Masa depanku tidak membingungkan.

Aku tahu dengan siapa aku membayangkannya.

Adrian tidak mengubah itu.

Jadi kenapa aku harus takut bertemu lagi?

Logikaku terasa rapi.

Terlalu rapi.

Jumat berikutnya belum datang, tetapi percakapan kami terus sesekali muncul. Tidak intens. Satu pesan pagi, dua pesan malam. Foto gedung. Cerita klien. Keluhan tentang macet Jakarta yang katanya lebih buruk.

Aku tidak menyembunyikan ponsel dari Fandy.

Tidak menghapus apa pun.

Tidak berbohong.

Kalau Fandy bertanya, aku akan jawab.

Masalahnya, Fandy tidak bertanya.

Suatu malam aku berada di apartemennya ketika Adrian mengirim voice note tentang restoran yang ingin dicoba.

Aku memakai earphone.

Fandy sedang membaca.

Setelah voice note selesai, aku baru sadar satu hal.

Kenapa aku memakai earphone?

Aku selalu memakai earphone kalau mendengar voice note di dekat orang lain.

Itu normal.

Tapi untuk pertama kalinya aku mulai memeriksa apakah hal normal yang kulakukan memiliki alasan lain.

“Fan.”

“Hm?”

“Kamu percaya aku, kan?”

Fandy menurunkan bukunya.

“Kenapa nanya lagi?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Amanda.”

Aku menatapnya.

Dia menunggu.

Aku akhirnya tersenyum. “Cuma pengin dengar.”

Fandy menghela napas kecil.

“Iya.”

“Iya apa?”

“Percaya.”

Aku mendekat dan mencium pipinya.

“Makasih.”

“Aneh.”

“Biarin.”

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Ponselku masih berada di tangan.

Voice note Adrian belum kubalas.

Aku menaruh ponsel terbalik di meja.

Fandy tidak memperhatikan.

Aku memperhatikan.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar aku mulai terlalu sadar pada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah perlu kupikirkan.

Mungkin itu seharusnya menjadi peringatan.

Tapi saat itu aku justru menganggap kesadaranku sebagai bukti bahwa aku masih memegang kendali.

Aku salah.