Chapter Thirty Six
Aku Tahu
POV: Amanda Rigby
Dua hari setelah ciuman itu, Fandy tidak menghindariku. Jumat sore aku akhirnya memintanya bicara.
“Aku nggak mau nanya ciuman kemarin artinya apa. Aku juga nggak mau minta status. Aku cuma mau jujur supaya kali ini aku nggak bikin sesuatu jadi rahasia sampai membesar.”
“Aku masih cinta kamu.” Fandy tidak bergerak. “Aku tahu.”
Aku menarik napas. “Kamu masih cinta aku?”
Ruangan sunyi. Fandy diam. Satu detik. Dua. Tiga. Tubuhku mengingat empat detik milikku dulu ketika dia bertanya apakah aku bisa menerima lamaran tanpa memikirkan Adrian.
Sekarang posisi kami terbalik. Ada rasa sakit, tetapi untuk pertama kalinya aku memahami keraguan seseorang bukan selalu penghinaan terhadap orang yang menunggu.
Aku mengangguk. “Nggak apa-apa. Kamu nggak harus jawab sekarang.”
Fandy mencoba bicara. Aku menghentikannya. “Aku dulu minta waktu ketika kamu butuh kepastian. Kalau sekarang kamu yang butuh waktu, aku nggak akan menghukum kamu karena itu.”
Di dekat pintu Fandy berkata, “Aku nggak tahu jawabannya sesederhana iya atau nggak.” Aku menjawab, “Berarti jangan sederhanakan.”
Di toilet aku menangis, bukan karena ditolak, tetapi karena baru sekarang memahami diamku dulu dari sisi orang yang menunggu.
Diam tidak selalu berarti tidak cinta. Aku mencintai Fandy ketika aku diam. Dan mungkin Fandy masih mencintaiku sekarang ketika dia juga tidak bisa menjawab.
Malamnya Fandy mengirim pesan.
Fandy: Sudah sampai?
Aku: Sudah.
Fandy: Good night.
Aku: Good night.
Tidak ada confession. Tidak ada jawaban. Aku sudah mengatakan kebenaranku. Sekarang aku harus membiarkan Fandy memiliki kebenarannya sendiri.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
Aku tetap menjalani hari-hari berikutnya tanpa mencoba mencuri jawaban dari gestur kecil. Kalau Fandy mengirim pesan, aku membalas. Kalau tidak, aku tidak menciptakan alasan. Menunggu ternyata bisa dilakukan tanpa berhenti hidup. Aku baru memahami bahwa memberi waktu kepada seseorang bukan berarti menghapus kebutuhan diri sendiri. Aku masih boleh sedih, masih boleh berharap, dan tetap menghormati prosesnya.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu reading
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu