← Back Off

Chapter Five

Aku Mundur

POV: Amanda Rigby

“Thai.”

“Jepang.”

“Thai.”

“Jepang.”

Aku menatap Fandy dari seberang meja. Dia menatap balik.

“Kamu kemarin makan ramen,” kataku.

“Kamu kemarin makan tom yum.”

“Itu beda.”

“Bedanya?”

“Aku yang pengin.”

Fandy mengangguk pelan. “Argumen yang kuat.”

Aku menyilangkan tangan. Hari Sabtu kami sudah habis hampir dua puluh menit hanya untuk menentukan makan siang. Padahal ada sedikitnya tiga puluh restoran di gedung ini.

“Thai,” ulangku.

“Jepang.”

Aku menyipitkan mata. Fandy bertahan sekitar empat detik, lalu kedua tangannya terangkat.

“Oke. Aku mundur.”

“Yes!”

Aku langsung berdiri, berjalan mengitari meja, lalu mencium pipinya.

“Pacarku memang paling pengertian.”

“Pacarmu lapar.”

“Tom yum lima menit lagi.”

“Katanya tadi belum pesan.”

Aku membeku. Fandy memandangku.

Aku tersenyum selebar mungkin. “Surprise?”

Dia menghela napas.

Aku menarik tangannya. “Ayo.”

“Kamu memang dari awal nggak kasih pilihan, ya?”

“Ada.”

“Apa?”

“Thai atau nggak makan.”

Fandy tertawa kecil dan membiarkanku menyeretnya menuju eskalator.

Restoran yang kupilih ternyata penuh. Fandy berhenti di depan daftar tunggu.

“Empat puluh menit.”

Aku pura-pura tidak melihat.

“Amanda.”

“Hm?”

“Empat puluh menit.”

“Waktu berlalu cepat kalau sama orang tersayang.”

“Kita bisa makan Jepang sekarang.”

Aku menatapnya.

Fandy menghela napas. “Duduk sana.”

Aku tersenyum menang.

Kami duduk di bangku dekat restoran sambil menunggu nomor dipanggil. Fandy membuka ponsel. Aku menyandarkan dagu di bahunya.

“Kamu kerja?”

“Bales chat Raka.”

“Ngomongin apa?”

“Rahasia negara.”

“Boleh lihat?”

“Nggak.”

Aku mencoba merebut ponselnya. Fandy mengangkat tangan tinggi-tinggi.

“Curang. Kamu lebih tinggi.”

“Observasi bagus.”

“Ada cewek?”

“Banyak.”

Aku berhenti. Fandy menatapku. Sudut bibirnya bergerak.

Aku memukul lengannya.

“Jangan bercanda begitu.”

“Kamu yang tanya.”

“Jawaban yang benar itu nggak ada.”

“Nggak ada.”

“Nah.”

Aku kembali bersandar.

Aku tidak benar-benar cemburu. Bukan karena menganggap Fandy tidak mungkin menarik perhatian perempuan lain. Aku hanya tidak pernah merasa harus waspada.

Fandy tidak pernah memberiku alasan.

Ponselnya bisa tergeletak di meja berjam-jam. Aku tahu password-nya karena dia pernah menyuruhku membuka maps. Dia tahu password-ku karena aku sering menyuruhnya membalas pesan ketika tanganku penuh.

Bukan berarti kami saling memeriksa.

Kami cuma tidak punya sesuatu yang perlu disembunyikan.

Nomor antrean kami dipanggil.

Begitu makanan datang, Fandy mengambil satu sendok tom yum.

Aku menatapnya penuh kemenangan.

“Enak, kan?”

“Lumayan.”

“Bilang enak.”

“Lumayan.”

“Kamu keras kepala.”

Fandy meletakkan sendok. “Yang maksa makan Thai siapa?”

“Itu beda.”

“Bedanya?”

“Aku lucu.”

Dia tertawa.

Aku mengambil udang dari mangkuknya.

“Eh.”

“Pajak pacar.”

“Kamu sudah punya.”

“Punyamu kelihatan lebih enak.”

“Menunya sama.”

“Punya orang memang selalu lebih menarik.”

Fandy menggeleng.

Kalimat itu berlalu begitu saja.

Setelah makan kami berjalan tanpa tujuan. Aku masuk ke toko pakaian. Fandy menunggu sambil memegang tas. Aku mencoba dua blazer dan keluar dari fitting room.

“Yang mana?”

“Yang pertama.”

“Kenapa?”

“Lebih cocok.”

“Cocok gimana?”

Fandy berpikir. “Lebih Amanda.”

Aku tertawa. “Itu jawaban apaan?”

“Nggak tahu istilah fashion.”

Aku membeli blazer pertama. Keluar dari toko, Fandy mengambil paper bag tanpa diminta.

“Fan.”

“Hm?”

“Kamu sadar nggak sih kamu selalu ngalah?”

“Nggak selalu.”

“Selalu.”

“Tadi aku pilih blazer pertama.”

“Itu bukan ngalah.”

“Kemarin film yang kita tonton pilihanku.”

“Karena pilihanku sudah nggak tayang.”

“Berarti tetap pilihanku.”

Aku berjalan mundur di depannya.

“Kalau kita beda pendapat soal hal serius gimana?”

“Dibicarakan.”

“Kalau nggak ketemu?”

“Cari tengah.”

“Kalau nggak ada tengah?”

Fandy menatapku beberapa detik. “Lihat masalahnya.”

“Terus?”

“Putuskan mana yang lebih penting.”

Aku berhenti berjalan mundur.

“Kalau dua-duanya penting?”

“Kenapa interogasinya makin susah?”

Aku tertawa. “Penasaran.”

Fandy menarik lenganku karena aku hampir menabrak orang.

“Jalan lihat depan.”

Aku otomatis menggandeng tangannya.

“Jawab dulu.”

“Kalau dua-duanya penting, ya salah satu harus mengalah.”

“Siapa?”

“Nggak harus orang yang sama.”

Aku mengayunkan tangan kami.

“Tapi biasanya kamu.”

“Karena biasanya yang kita debatkan makan apa.”

“Dan aku punya taste lebih bagus.”

“Debatable.”

Kami berhenti di toko buku. Satu jam kemudian aku keluar membawa dua novel, sementara Fandy membeli satu buku desain yang sejak tadi dia bilang tidak butuh.

“Kamu beli juga.”

“Diskon.”

“Alasan.”

“Fakta.”

Di parkiran, aku baru sadar sudah hampir sore.

“Capek?”

Fandy menggeleng.

Aku berdiri di depannya lalu merapikan kerah kausnya yang sebenarnya sudah rapi.

“Aku sayang kamu.”

Dia menatapku seperti menunggu kelanjutannya.

“Kenapa?”

“Nggak boleh tiba-tiba?”

“Boleh.”

“Terus balas.”

“Aku juga.”

“Kurang romantis.”

“Aku sayang kamu juga.”

Aku tersenyum. “Bagus.”

Aku memeluknya di tengah parkiran.

Fandy agak kaku satu detik, seperti biasa setiap kali aku memulai kontak fisik di tempat umum, lalu lengannya melingkari punggungku.

Aku masih menyukai fakta bahwa setelah tiga tahun, aku bisa membuatnya sedikit salah tingkah hanya dengan mencium pipi atau memeluknya tiba-tiba.

“Orang lihat,” bisiknya.

“Biar.”

“Amanda.”

“Sebentar.”

Dia menyerah.

Lagi.

Di mobil, aku membuka salah satu novel baru dan membaca sinopsisnya keras-keras.

“Tokohnya mantan ketemu lagi setelah sepuluh tahun,” kataku.

“Terus?”

“Kayaknya balikan.”

“Belum baca sudah tahu?”

“Romance.”

“Bisa nggak balikan.”

“Kalau nggak balikan pembacanya ngamuk.”

Fandy tersenyum.

“Menurut kamu mantan bisa balikan?”

“Bisa.”

Aku menoleh. “Serius?”

“Kenapa nggak?”

“Kalau sudah putus kan ada alasan.”

“Kalau alasannya berubah?”

Aku memikirkan itu.

“Berarti mungkin.”

“Ya.”

“Kalau aku sama kamu putus?”

Fandy melirikku.

“Kenapa kita putus?”

“Hipotetis.”

“Nggak suka pertanyaan hipotetis yang informasinya kurang.”

Aku tertawa. “Product Designer banget.”

“Kasih konteks.”

“Misalnya kita beda sesuatu yang penting.”

“Seperti?”

“Entahlah.”

“Berarti belum bisa jawab.”

Aku memukul lengannya pelan.

“Garing.”

Dia tertawa.

Percakapan itu hilang beberapa menit kemudian, terkubur oleh obrolan lain yang tidak penting.

Kami berhenti membeli kopi. Aku memesan minuman yang sama seperti biasanya dan, seperti biasanya juga, baru sadar dompetku berada di dasar tas setelah kasir menyebut total.

Fandy sudah menempelkan kartunya.

“Aku bayar.”

“Nanti.”

“Kamu selalu bilang nanti.”

“Berarti konsisten.”

Aku akhirnya mentransfer uang kepadanya saat duduk. Fandy melihat notifikasi dan mengembalikannya.

“Kenapa dikembaliin?”

“Kopi doang.”

“Prinsip.”

“Kamu tadi ambil udangku.”

“Itu pajak.”

“Ini pajak.”

Aku mendecak.

Hal-hal seperti itu terjadi terus. Dia membayar kopi. Aku membelikan kaus karena melihat sesuatu yang cocok untuknya. Dia mengisi bensin ketika meminjam mobilku. Aku mengirim makanan ke kantornya kalau tahu dia lembur.

Tidak pernah ada hitungan yang benar-benar seimbang.

Kami hanya terus memberi sampai lupa siapa memulai.

Malamnya, ketika Fandy mengantarku pulang, aku baru sadar paper bag berisi blazer tertinggal di bagasi.

Aku menelepon sebelum dia terlalu jauh.

“Fan! Blazer aku.”

“Ada.”

“Besok bawain?”

“Aku ada urusan besok.”

“Senin?”

“Iya.”

“Jangan lupa.”

“Nggak.”

Aku tersenyum.

Tentu saja dia tidak akan lupa.

Fandy hampir tidak pernah lupa sesuatu tentangku.

“Love you.”

“Love you too.”

Aku menutup telepon.

Beberapa menit kemudian dia mengirim foto paper bag itu sudah diletakkan di kursi depan.

Bukti barang aman, tulisnya.

Aku membalas dengan emoji cium.

Aku masuk kamar, menaruh dua novel baru di meja, lalu memikirkan pertanyaan konyol di mobil tadi.

Kalau aku dan Fandy putus.

Sulit membayangkannya.

Bukan karena kami tidak pernah bertengkar. Kami pernah. Pernah saling diam setengah hari. Pernah sama-sama keras kepala. Pernah aku pulang sambil marah dan Fandy tidak mengejarku karena menurutnya aku memang minta waktu sendiri.

Tetapi selalu ada hari berikutnya.

Selalu ada percakapan.

Selalu ada jalan pulang.

Mungkin itu sebabnya aku begitu santai menganggap Fandy selalu mengalah.

Aku maju.

Fandy mengikutiku.

Aku menarik.

Dia mengalah.

Dan setiap kali dia menyerah dalam pertengkaran kecil, aku menganggapnya kemenangan.

Aku tidak pernah bertanya apakah semua pengalahannya benar-benar ringan baginya.

Aku juga tidak pernah membayangkan ada batas yang suatu hari tidak mau dia lewati.

Saat itu aku belum tahu bahwa suatu hari Fandy akan mengatakan kalimat yang sama kepadaku.

Aku mundur.

Bukan tentang makan siang.

Bukan sambil tersenyum.

Bukan karena dia membiarkanku menang.

Dan ketika hari itu datang, aku akan memberikan apa saja supaya dia memilih bertahan dan berdebat denganku sekali lagi.