← Back Off

Chapter Four

Keluarga

POV: Fandy Pramudia

Ayah Amanda memanggilku ketika Amanda sedang membantu ibunya membawa piring ke dapur.

“Fandy.”

“Iya, Om?”

“Duduk sebentar.”

Nada itu membuat punggungku otomatis lebih tegak.

Makan malam keluarga Rigby selalu ramai. Amanda dan ibunya bisa membicarakan tiga topik sekaligus, sementara ayahnya biasanya mendengarkan dari ujung meja dan menyelipkan komentar pada saat yang tepat.

Aku sudah cukup sering datang sampai tidak lagi merasa sebagai tamu.

Tetapi malam itu berbeda.

Ada kotak cincin yang belum selesai dibuat, reservasi yang sudah dikonfirmasi, dan satu percakapan yang harus kulakukan.

Ayah Amanda menuangkan teh ke gelasku.

“Kamu ada yang mau dibicarakan?”

Aku terdiam.

Seharusnya aku yang mencari kesempatan. Ternyata kelihatan juga.

“Ada, Om.”

Beliau menunggu.

Aku mengeluarkan napas pelan.

“Saya ada rencana melamar Amanda.”

Tidak ada musik. Tidak ada pidato panjang.

Hanya suara sendok dari dapur dan televisi yang terlalu kecil untuk didengar.

Ayah Amanda menatapku cukup lama.

“Kapan?”

“Dua minggu lagi.”

“Dia tahu?”

“Belum.”

Untuk pertama kalinya beliau tersenyum.

“Pantes.”

Aku ikut tersenyum kecil.

Kemudian wajahnya kembali serius.

“Kamu yakin?”

“Iya.”

Jawabanku keluar sebelum pertanyaannya selesai menetap di udara.

Tidak perlu kupikirkan.

Beliau mengangguk.

“Kenapa?”

Pertanyaan itu justru membuatku berpikir.

“Kenapa yakin?”

“Iya.”

Aku menatap teh di gelas.

Ada banyak jawaban yang bisa diberikan. Karena aku mencintainya. Karena kami sudah bersama cukup lama. Karena umur kami sudah masuk usia yang dianggap pantas menikah.

Semua benar.

Tapi bukan itu.

“Saya bisa bikin rencana hidup sendiri,” kataku akhirnya. “Tapi beberapa tahun terakhir, setiap bikin rencana, saya otomatis mikirin Amanda ada di mana.”

Ayahnya diam.

“Saya nggak merasa hidup saya berhenti kalau dia nggak ada. Cuma… kalau ada pilihan buat menjalani semuanya sama dia, saya pilih itu.”

Beliau mengangguk pelan.

“Bagus.”

Aku menunggu.

“Kalau jawabannya karena kamu nggak bisa hidup tanpa dia, saya suruh pulang.”

Aku tertawa kecil.

“Kenapa?”

“Berat jadi alasan orang lain hidup.”

Aku memahami maksudnya.

Beliau menyandarkan tubuh.

“Kalau Amanda bilang iya, kalian yang akan menjalani. Bukan kami.”

“Saya tahu.”

“Jangan datang minta izin buat memiliki anak saya.”

Aku sedikit tercekat.

Beliau melanjutkan, “Kalau kamu datang minta restu untuk membangun keluarga sama dia, itu baru saya kasih.”

Aku menundukkan kepala.

“Kalau begitu, saya minta restunya, Om.”

Tangannya menepuk bahuku.

“Dikasih.”

Aku baru sempat bernapas lega ketika pintu dapur terbuka.

Amanda muncul membawa semangkuk buah.

“Kalian ngomongin apa?”

Aku mengambil satu potong semangka.

“Kamu.”

Matanya membesar. “Aku kenapa?”

Ayahnya mengambil teh.

“Banyak masalahnya.”

“Papa!”

Aku tertawa.

Amanda langsung duduk di sebelahku.

“Jangan percaya Papa. Waktu kecil aku anak baik.”

“Umur enam tahun kabur dari rumah karena nggak dibeliin sepeda,” kata ayahnya.

“Itu bukan kabur. Aku ke rumah Tante.”

“Tanpa bilang.”

“Rumahnya sebelah!”

Aku mendengarkan Amanda membela riwayat kriminal masa kecilnya.

Tangannya tanpa sadar mengambil garpu dari tanganku lalu menusuk buah dari piringku, padahal mangkuk besar ada di depannya.

Kebiasaan.

Aku membiarkannya.

Ibunya kembali dari dapur dan bertanya kenapa kami tertawa. Ayah Amanda menceritakan soal sepeda. Amanda protes lagi.

Aku melihat mereka.

Dua minggu lagi, kalau semuanya berjalan sesuai rencana, aku akan meminta izin kepada perempuan yang sedang berdebat soal definisi kabur dari rumah itu untuk menjadi keluargaku.

Pikiran itu terasa aneh sekaligus wajar.

Setelah makan, Amanda membantu ibunya membereskan meja. Aku menawarkan bantuan, tetapi diusir ke ruang tamu.

Ayahnya duduk di sebelahku lagi.

“Cincinnya sudah?”

“Sudah pesan.”

“Dia pilih sendiri?”

“Hampir.”

Beliau mengangkat alis.

Aku menjelaskan kejadian di toko perhiasan.

Ayah Amanda tertawa.

“Kamu memang dari dulu begitu?”

“Gimana?”

“Diam-diam nyatet.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Bagus,” katanya. “Amanda butuh orang yang ingat. Dia sendiri sering lupa.”

Dari dapur terdengar suara Amanda.

“Aku dengar!”

Ayahnya tertawa lebih keras.

Dalam perjalanan pulang, Amanda memegang lenganku sambil menatap keluar jendela.

“Papa ngomong apa tadi?”

“Katanya kamu banyak masalah.”

“Selain fitnah itu.”

“Nggak ada.”

“Bohong.”

“Kenapa?”

“Papa kalau ngobrol serius mukanya beda.”

Aku menahan senyum.

“Berarti kamu harus tanya Papa.”

“Aku tanya nanti.”

“Silakan.”

Amanda menyipitkan mata.

“Jangan-jangan kalian bahas hadiah ulang tahunku.”

“Ulang tahunmu masih lama.”

“Bisa persiapan.”

“Percaya diri.”

“Memang.”

Dia menyerah beberapa menit kemudian dan mulai bercerita soal ibunya yang ingin mengganti sofa.

Aku mengemudi sambil sesekali menjawab.

Di lampu merah, ponselku bergetar.

Pesan dari ayah Amanda.

Semoga lancar. Jangan terlalu tegang.

Aku membaca lalu mengunci layar sebelum Amanda sempat melihat.

“Siapa?”

“Om.”

“Papa?”

“Iya.”

“Apa?”

“Rahasia.”

Amanda langsung tegak. “Fandy.”

Aku tertawa.

“Serius. Kalian komplotan sekarang?”

“Sepertinya.”

Dia mengancam akan menelepon ayahnya saat itu juga.

Aku mengambil ponselnya dan menaruhnya di dashboard.

“Besok.”

“Kenapa besok?”

“Sekarang malam.”

“Papa belum tidur.”

“Jangan ganggu.”

Amanda mendengus, tetapi membiarkan.

Ketika kami sampai di apartemennya, dia belum langsung turun.

“Fan.”

“Hm?”

“Kamu beneran akur sama keluargaku, kan?”

Aku menoleh.

Pertanyaan itu lebih serius daripada nada suaranya.

“Iya.”

“Kadang Mama terlalu banyak tanya.”

“Aku tahu.”

“Papa kelihatannya galak.”

“Aku tahu.”

“Terus mereka suka ikut campur.”

“Kamu juga.”

Amanda memukul lenganku.

Aku menangkap tangannya sebelum pukulan kedua.

Dia tertawa.

“Aku cuma nggak mau kamu datang karena aku lalu merasa harus tahan sama semuanya.”

“Aku nggak tahan.”

Dia berhenti.

“Aku nyaman.”

Ekspresinya melunak.

“Bagus.”

Aku mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.

Amanda membungkuk dan mencium pipiku.

“Pulang hati-hati.”

“Iya.”

“Chat.”

“Iya.”

“Jangan lupa.”

“Amanda.”

“Iya, iya.”

Dia turun, lalu masih melambaikan tangan sebelum masuk lobi.

Aku menunggu sampai dia benar-benar menghilang di balik pintu.

Baru setelah itu aku mengambil ponsel dan membalas pesan ayahnya.

Terima kasih, Om.

Aku menatap layar beberapa saat.

Satu langkah selesai.

Cincin akan siap minggu depan. Restoran sudah dipesan. Raka sudah diminta kosongkan malam itu meskipun dia mengeluh tugasnya cuma menjadi orang yang tahu rahasia.

Semuanya bergerak ke arah yang kupilih.

Aku menyalakan mobil.

Untuk pertama kalinya malam itu rasa gugup benar-benar muncul.

Bukan karena takut Amanda akan menolak.

Aku bahkan belum bisa membayangkan itu.

Aku gugup karena sebentar lagi sesuatu yang selama ini hanya ada di kepalaku akan menjadi nyata.

Aku membayangkan tangannya.

Cincin sederhana yang dia suka.

Wajahnya ketika sadar.

Lalu, mungkin, air mata yang akan dia bantah sebagai air mata.

Aku tersenyum sendiri.

Dua minggu.

Aku cuma perlu menyimpan rahasia ini dua minggu lagi.

Aku belum tahu dua minggu ternyata cukup panjang untuk mengubah sesuatu yang selama tiga tahun tidak pernah kuragukan.

Di perjalanan pulang, aku sempat berhenti di minimarket karena Amanda mengirim pesan lagi.

Kalau lewat minimarket beli plester jerawat dong. Besok aku ambil.

Aku menatap rak skincare selama hampir lima menit sampai akhirnya menelepon video.

“Yang mana?”

Wajah Amanda muncul memenuhi layar. Rambutnya sudah diikat asal.

“Yang kotaknya biru.”

“Ada tiga biru.”

“Yang ada bintangnya.”

“Dua.”

“Balik kameranya.”

Aku menurut.

“Nah, kiri.”

Aku mengambil kotak yang dia tunjuk.

“Terima kasih, calon suami idaman.”

Tanganku berhenti sepersekian detik.

Amanda tidak menyadarinya.

Dia sudah sibuk berkata, “Eh, sekalian kalau ada cokelat yang almond—”

“Kamu bilang diet.”

“Besok.”

“Kemarin juga besok.”

“Fandy.”

Aku memasukkan cokelat ke keranjang.

Amanda tersenyum puas.

“Love you.”

“Iya.”

Dia menatapku.

Aku sengaja diam.

“Balas.”

Aku tertawa. “Love you too.”

“Nah.”

Panggilan berakhir.

Aku berdiri di lorong minimarket sambil memegang plester jerawat dan cokelat almond.

Calon suami idaman.

Amanda sering melempar kata-kata seperti itu tanpa beban. Calon suami. Kalau nanti menikah. Rumah kita. Anak kita nanti jangan begini. Semua masih berupa lelucon yang aman karena masa depan selalu terasa jauh.

Bagiku, jaraknya tinggal dua minggu.

Aku membayar belanjaan dan meletakkan kantongnya di kursi penumpang.

Mungkin setelah lamaran nanti tidak banyak yang berubah. Amanda tetap akan lupa membeli barangnya sendiri. Aku tetap akan disuruh mampir minimarket. Dia tetap akan mengambil makanan dari piringku setelah bersikeras tidak lapar.

Aku justru berharap begitu.

Aku tidak ingin pernikahan mengubah kami menjadi dua orang yang tiba-tiba harus terlihat lebih dewasa.

Aku hanya ingin semua hal kecil yang sudah kami punya mendapat waktu lebih panjang.

Bertahun-tahun.

Kalau bisa, seumur hidup.

Dan malam itu, dengan restu ayahnya sudah kudapat dan rencana lamaran hampir selesai, keinginan itu terasa bukan lagi seperti khayalan.

Terasa seperti sesuatu yang tinggal kutunggu waktunya.