Chapter Three
Tempatku
POV: Amanda Rigby
Aku punya masalah dengan apartemen Fandy.
Secara teknis, aku tidak tinggal di sini.
Secara faktual, separuh barangku sudah melakukan kudeta.
Masalah itu kusadari pada Jumat malam ketika aku berdiri di depan lemari kamar mandi dengan wajah masih penuh makeup dan tidak bisa menemukan cleansing balm.
“Fan!”
“Hm?”
“Skincare aku mana?”
“Rak kedua.”
Aku membuka rak kedua.
Benar.
Di sebelah alat cukurnya ada pembersih wajah, toner, serum, pelembap, sunscreen, dan tiga benda lain yang bahkan aku sendiri kadang lupa urutannya.
“Kok pindah?”
“Kamu taruh di wastafel semua.”
“Terus?”
“Basah.”
“Kan wastafel memang tempat basah.”
Tidak ada jawaban.
Aku membersihkan wajah sambil memperhatikan kamar mandi kecil itu. Sikat gigiku ada di gelas yang sama dengan miliknya. Handuk kecil warna krem yang kubeli dua bulan lalu tergantung di belakang pintu. Bahkan ada ikat rambutku di gagang lemari.
Aku tidak ingat kapan barang-barang itu berhenti kubawa pulang.
Setelah selesai, aku masuk kamar dengan kaus Fandy yang kupakai sebagai baju tidur.
Dia sedang bersandar di kepala tempat tidur, membaca sesuatu di tablet.
Aku membuka lemari.
Ada enam potong bajuku di sana.
Aku tahu enam karena malam itu aku sedang berusaha memasukkan yang ketujuh.
“Geser.”
Fandy tidak mengangkat kepala. “Apa?”
“Bajumu.”
“Kenapa?”
“Nggak muat.”
“Lemari bagian kanan.”
“Penuh.”
“Bagian bawah.”
“Sepatu kamu.”
Fandy akhirnya menoleh.
Aku berdiri dengan hanger di tangan seperti korban krisis properti.
“Lemari kamu kekecilan.”
“Punya aku cukup.”
“Ya karena bajumu warnanya cuma hitam, putih, abu-abu.”
“Ada biru.”
“Satu.”
“Berarti bukan cuma tiga warna.”
Aku mendorong gantungan pakaiannya ke samping.
Tidak membantu.
“Serius. Kalau barangku tambah lagi, nggak muat.”
“Ya nanti cari yang lebih besar.”
Aku menoleh.
“Lemarinya?”
Fandy akhirnya mengangkat kepala.
Tatapannya bertahan sedikit lebih lama daripada biasanya.
“Tempatnya.”
Tanganku berhenti di pintu lemari.
“Oh.”
Dia kembali melihat tabletnya seolah baru saja mengatakan kami perlu membeli sabun.
Aku naik ke tempat tidur dan merebut tablet itu.
“Kamu barusan ngajak aku tinggal bareng?”
“Nggak.”
“Fandy.”
“Aku bilang nanti.”
“Kapan nanti?”
Dia menarik kembali tabletnya.
“Nanti.”
“Definisi nanti.”
“Bukan sekarang.”
Aku menyipitkan mata. “Kamu ngeselin.”
“Sudah tiga tahun baru sadar?”
Aku menjatuhkan diri ke sampingnya.
Beberapa detik kemudian tangannya mencari tanganku di atas kasur.
Aku langsung menggenggamnya.
“Kalau kita cari tempat lebih besar,” kataku, “aku mau dapur yang bener.”
“Dapur ini bener.”
“Dua orang masuk langsung macet.”
“Kamu masak setahun tiga kali.”
“Prinsip.”
“Untuk apa dapur besar?”
“Estetika.”
Fandy mengangguk seolah akhirnya memahami logika yang sangat ilmiah.
Aku bangkit lagi.
“Terus dua kamar.”
“Kenapa dua?”
“Satu buat kerja.”
“Kita dua-duanya kerja dari rumah kadang.”
“Makanya.”
“Terus?”
“Balkon.”
“Kamu nggak pernah duduk di balkon.”
“Kalau balkonnya bagus aku duduk.”
Fandy meletakkan tablet.
“Budget?”
Aku tertawa. “Kita lagi berkhayal, kamu sudah buka budget.”
“Biar tahu khayalannya masuk akal atau nggak.”
Aku memukul bantal ke lengannya.
Dia menangkapnya.
Anehnya, setelah itu kami benar-benar membuka aplikasi properti.
Awalnya cuma bercanda.
Lalu Fandy memasukkan beberapa filter.
Aku menunjuk apartemen dengan jendela besar. Dia menolak karena terlalu jauh dari kantorku. Aku menolak satu pilihan karena dapurnya seperti lemari. Dia mengingatkan bahwa aku jarang memasak.
“Kamu nggak mendukung cita-citaku.”
“Cita-cita apa?”
“Jadi istri yang masak.”
“Kamu pernah bikin telur sampai alarm asap bunyi.”
“Itu satu kali.”
“Dua.”
“Yang kedua alarmnya sensitif.”
Fandy tertawa.
Aku merebut ponselnya dan mencari sendiri.
Ada sesuatu yang menyenangkan dari membicarakan tempat tinggal bersama tanpa menjadikannya percakapan serius. Kami tidak membicarakan tanggal. Tidak membahas siapa membayar apa. Tidak ada kalimat resmi bahwa kami akan pindah bersama.
Tetapi kata kita muncul terus.
Kita butuh parkir.
Kita jangan terlalu jauh dari orang tuaku.
Kita cari yang dekat minimarket.
Kita butuh ruang kerja.
Kita.
Aku baru menyadarinya ketika Fandy pergi mengambil air.
Aku melihat layar ponselnya yang masih terbuka pada foto ruang tamu kosong.
Untuk sesaat aku membayangkan sofa kami di sana.
Mug-ku di dapur.
Sepatunya dekat pintu.
Tanaman yang mungkin kubeli dan hampir pasti dia yang akhirnya merawat.
Aku tersenyum sendiri.
Fandy kembali membawa dua gelas.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Kamu senyum.”
“Boleh.”
Dia menyerahkan air.
Aku menarik ujung kausnya supaya dia duduk dekatku.
“Fan.”
“Hm?”
“Kamu serius nggak sih soal tempat lebih besar?”
Dia tidak langsung menjawab.
“Kalau nanti memang perlu, serius.”
“Perlu kapan?”
“Kalau barangmu sudah menguasai seratus persen lemari.”
“Berarti minggu depan.”
“Berarti barangmu yang dikurangi.”
Aku protes keras.
Fandy membiarkanku mengoceh sambil kembali membuka tabletnya.
Aku melihat sekeliling kamar.
Ada kabel charger-ku di dekat kasur. Parfumku di meja. Buku yang belum selesai kubaca di raknya. Jepit rambutku entah bagaimana berada di samping jam tangan Fandy.
Apartemen ini sudah menyimpan begitu banyak bagian kecil diriku sampai aku tidak merasa sedang bertamu.
Aku juga tahu kode pintunya.
Tahu sakelar lampu mana yang kadang macet.
Tahu sisi kasur mana yang lebih dingin karena AC langsung mengarah ke sana.
Tahu Fandy menyimpan obat di laci dapur paling atas.
Tahu kalau dia stres, dia akan membersihkan meja meskipun meja itu sudah bersih.
Aku mengenal tempat ini hampir sama baiknya dengan tempatku sendiri.
“Kalau pindah,” kataku, “mug aku ikut.”
“Buang.”
Aku langsung menoleh. “Berani banget.”
“Retak.”
“Itu karakter.”
“Itu retak.”
“Mug itu saksi sejarah.”
“Sejarah apa?”
“Pertama kali aku sadar apartemen kamu butuh warna.”
Fandy menatap mug kuning yang terlihat dari pintu kamar.
“Warnanya terlalu terang.”
“Makanya bagus.”
“Kalau pecah?”
“Beli yang sama.”
“Berarti bukan saksi sejarah.”
Aku terdiam dua detik.
“Kenapa sih kamu harus menang pakai logika?”
“Aku nggak tahu kita lagi lomba.”
Aku memeluk lengannya dan menggigit bahunya pelan karena tidak punya argumen lain.
Fandy mengeluh tanpa benar-benar mencoba melepaskan diri.
Malam semakin larut. Aku memasukkan baju ketujuh dengan memaksa hanger masuk di antara kemeja Fandy. Dia melihat, menghela napas, lalu menggeser dua kemejanya ke bagian lain.
“Nah,” kataku puas. “Muat.”
“Untuk sekarang.”
Aku menutup lemari.
Saat itu kupikir kami sedang membicarakan apartemen.
Tempat lebih besar. Lemari lebih besar. Dapur lebih besar.
Aku tidak tahu Fandy sudah memikirkan sesuatu yang jauh lebih permanen.
Bagiku, masa depan adalah obrolan yang menyenangkan karena aku yakin kami akan sampai ke sana entah kapan.
Aku tidak merasa perlu memastikan.
Tidak merasa perlu bertanya lebih jauh.
Aku sudah punya sikat gigi di kamar mandinya, baju di lemarinya, mug di dapurnya, dan tanganku selalu menemukan tangannya di atas kasur.
Apa lagi yang perlu diyakinkan?
Aku mematikan lampu dan kembali berbaring.
Fandy menarik selimut sampai bahuku.
Aku bergeser mendekat.
Di dalam gelap, aku tersenyum memikirkan dapur besar yang bahkan belum kami punya.
Aku tidak tahu bahwa bagi Fandy, kata rumah sudah lama berhenti berarti sebuah tempat.
Dan aku ada di dalam definisinya.
Pagi berikutnya aku bangun lebih dulu karena suara notifikasi dari ponsel Fandy. Dia masih tidur menghadapku, rambutnya sedikit berantakan, satu tangan berada di bawah bantal.
Aku turun dari kasur dan menuju dapur.
Di kulkas ada telur, susu, buah, dan yoghurt rasa stroberi yang hanya aku makan. Aku mengambil yoghurt itu lalu berhenti.
“Fan.”
Tidak ada jawaban.
Aku kembali ke kamar membawa cup yoghurt.
“Kamu beli ini?”
Fandy membuka satu mata. “Apa?”
“Yoghurt.”
“Iya.”
“Kamu nggak suka stroberi.”
“Makanya buat kamu.”
Aku berdiri di ambang pintu sambil memegang sendok.
Hal kecil lagi.
Selalu hal kecil.
Aku masuk dan duduk di tepi kasur.
“Kalau aku makin sering di sini, kamu nggak terganggu?”
Fandy membuka mata sepenuhnya.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Barangku banyak.”
“Baru sadar?”
“Serius.”
Dia berpikir sebentar.
“Nggak.”
“Kalau suatu hari kamu butuh space?”
“Bilang.”
“Kalau aku yang butuh?”
“Bilang.”
Aku mengangguk.
Sesederhana itu.
Aku menyuapkan yoghurt ke mulut lalu memberikan satu sendok kepadanya. Fandy mengernyit.
“Nggak suka.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Berbagi.”
Dia tetap memakannya.
Aku tertawa puas.
Bahkan pagi yang tidak direncanakan itu terasa seperti latihan kecil untuk kehidupan yang lebih panjang: aku memenuhi kulkasnya dengan makanan yang dia tidak suka, dia menggeser bajunya untuk memberi ruang, lalu kami berdebat soal siapa yang harus membeli sabun.
Aku menganggap semuanya akan bertambah dengan sendirinya.
Satu baju menjadi tujuh.
Satu malam menjadi beberapa malam seminggu.
Satu mug menjadi satu rumah.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa sesuatu yang tumbuh perlahan juga bisa hilang dengan sangat cepat.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku reading
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu