Chapter Eight
Adrian
POV: Amanda Rigby
Aku mengenali suaranya sebelum mengenali wajahnya.
“Amanda?”
Tubuhku berhenti lebih dulu daripada pikiranku. Ballroom hotel itu penuh suara—musik pelan, percakapan puluhan orang, bunyi gelas, dan presentasi yang baru saja selesai. Tetapi satu suara itu menembus semuanya.
Aku berbalik.
Enam tahun cukup lama untuk membuat wajah seseorang berubah. Adrian lebih kurus daripada yang kuingat. Rambutnya lebih pendek. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Ada garis kecil di dekat matanya yang dulu tidak ada. Tetapi cara dia tersenyum masih sama.
“Manda.”
Aku lupa bernapas sepersekian detik.
“Adrian?”
Dia tertawa kecil. “Untung masih kenal.”
Aku ikut tertawa, mungkin terlalu cepat. “Ya ampun.”
Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tangan, jadi akhirnya hanya berdiri sambil memegang gelas.
“Kamu ngapain di sini?”
“Event arsitektur dan branding. Aku bisa tanya hal yang sama.”
“Aku dari agency.”
“Aku tahu. Nama kamu ada di slide.”
“Oh.”
Kami terdiam. Aneh. Dulu aku bisa bicara dengan Adrian berjam-jam sampai baterai ponsel habis. Sekarang ada jarak enam tahun di antara dua kalimat sederhana.
“Kapan pulang?” tanyaku.
“Tiga minggu lalu.”
“Pulang liburan?”
“Permanen.”
Aku berkedip. “Serius?”
“Iya. Akhirnya.”
Ada terlalu banyak pertanyaan yang langsung muncul. Kenapa? Sejak kapan? Bagaimana Singapura? Kenapa tidak pernah bilang? Pertanyaan terakhir tidak punya hak untuk kutanyakan. Kami bukan siapa-siapa lagi.
“Welcome home, berarti.”
“Thanks.”
Seseorang memanggil namaku dari belakang. Aku menoleh dan memberi isyarat sebentar.
Adrian melihat name tag di dadaku. “Brand Strategist.”
Aku melihat name tag-nya. “Senior Architect.”
“Lumayan.”
Aku tertawa. “Kamu masih pakai kata lumayan?”
“Kenapa?”
“Nggak. Tiba-tiba ingat aja.”
Dulu Adrian selalu bilang lumayan untuk sesuatu yang sebenarnya dia suka. Aneh bagaimana otak menyimpan detail yang tidak pernah diminta.
Keisha muncul sambil membawa dua gelas. Tatapannya berpindah dari aku ke Adrian.
“Kei, ini Adrian.”
Mata Keisha berubah sepersekian detik. Dia tahu nama itu.
“Adrian, ini Keisha.”
Mereka berjabat tangan.
“Teman kantor?” tanya Adrian.
“Teman hidup yang kebetulan satu kantor,” jawab Keisha.
Aku memutar mata. Adrian tertawa.
Percakapan menjadi lebih mudah setelah ada orang ketiga. Kami membahas event, proyek, dan orang-orang yang sama-sama dikenal di industri. Lalu Keisha dipanggil klien.
“Aku balik dulu.” Sebelum pergi dia menatapku sedikit terlalu lama.
Adrian memasukkan tangan ke saku. “Jadi, gimana kabarmu?”
“Baik banget.”
Aku hampir otomatis menyebut Fandy. Entah kenapa tidak jadi. Bukan karena ingin menyembunyikannya. Aku cuma belum tahu bagaimana memasukkan tiga tahun empat bulan hidupku ke dalam percakapan pertama dengan seseorang yang mengenalku sebelum semua itu.
“Kamu sendiri?”
“Baik juga.”
“Masih suka kerja sampai lupa makan?”
Adrian tersenyum. “Masih suka ngomel kalau orang lupa makan?”
Aku ikut tersenyum.
Ada rasa aneh di dada. Bukan cinta. Setidaknya itu yang langsung kukatakan pada diri sendiri. Lebih seperti membuka kotak lama dan menemukan barang yang kukira sudah lupa.
Kami pernah menjadi sangat dekat. Itu fakta. Melihat Adrian lagi membuat fakta itu tiba-tiba memiliki bentuk.
“Nomor kamu masih yang lama?” tanyanya.
Aku menggeleng.
Adrian mengeluarkan ponsel. “Boleh?”
Aku ragu sepersekian detik. Kemudian menyebut nomor.
Normal. Tidak ada yang salah dengan bertukar nomor dengan orang yang pernah menjadi bagian hidupku.
Ponselku bergetar.
Adrian: Tes.
Aku melihat layar lalu menyimpan ponsel. “Masuk.”
“Kapan-kapan ngopi?”
Pertanyaan itu membuatku sedikit lebih lama menjawab.
“Boleh.”
“Kabarin kalau nggak sibuk.”
“Iya.”
Tidak ada tanggal. Tidak ada janji.
Percakapan kami berakhir ketika kolega Adrian datang.
“Senang ketemu lagi, Manda.”
“Iya. Aku juga.”
Dia pergi. Aku berdiri di tempat yang sama beberapa detik.
Keisha kembali seperti sudah menunggu dari kejauhan. “Wow.”
“Jangan.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Mukamu ngomong.”
Keisha menyerahkan gelas kepadaku. “Gimana rasanya?”
“Biasa.”
“Bohong.”
Aku menatapnya.
“Serius. Gimana?”
Aku mencoba mencari kata yang tepat. “Aneh.”
“Masih ganteng.”
“Keisha.”
“Aku objektif.”
Aku tertawa, tetapi cepat hilang. “Dia pulang permanen.”
Keisha tahu cerita lengkapnya. Bagaimana Adrian mendapat pekerjaan di Singapura. Bagaimana aku ingin tetap di Jakarta. Bagaimana kami sama-sama meminta yang lain mengalah sampai akhirnya tidak ada yang mengalah. Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada kebencian. Kami putus karena hidup bergerak ke dua arah berbeda.
Mungkin itu sebabnya melihatnya lagi terasa aneh. Tidak ada luka buruk untuk menutupi kenangan baik.
“Fandy tahu dia pulang?” tanya Keisha.
“Nggak.”
“Kasih tahu.”
Aku langsung menatapnya. “Ya iya.”
“Gue cuma bilang.”
“Nanti juga aku cerita.”
Event selesai sekitar satu jam kemudian. Di mobil menuju rumah, aku membuka ponsel. Ada pesan dari Fandy.
Sudah selesai?
Aku membalas.
Baru. Capek banget.
Fandy: Mau dijemput?
Aku tersenyum.
Nggak usah. Aku sama Keisha.
Fandy mengirim jempol.
Aku hampir mengetik satu kalimat lagi.
Aku ketemu Adrian.
Jempolku berhenti di atas layar. Tidak ada alasan untuk tidak mengatakannya. Fandy tahu siapa Adrian. Aku pernah bercerita.
Aku mengetik lagi.
Tadi event-nya rame banget.
Kemudian kukirim. Kalimat tentang Adrian kuhapus.
Bukan karena takut. Aku hanya merasa cerita itu lebih enak disampaikan langsung. Setidaknya begitu alasanku.
Di apartemen malam itu, ponselku bergetar. Pesan dari nomor baru.
Adrian: Senang ketemu kamu lagi setelah sekian lama.
Aku membacanya dua kali lalu membalas.
Aku juga. Welcome home :)
Beberapa detik kemudian layar menyala lagi. Kali ini Fandy.
Jangan tidur sebelum bersihin makeup.
Aku tertawa.
Iya, Pak.
Di depan cermin, pikiranku kembali ke ballroom. Ke suara yang kukenal sebelum wajahnya. Ke cara Adrian memanggilku Manda seperti enam tahun tidak pernah terjadi.
Nostalgia. Cuma itu.
Sebelum tidur, aku membuka chat Fandy. Aku hampir menceritakan semuanya lagi.
Besok, pikirku.
Besok aku cerita.
Aku tidak tahu kenapa sesuatu yang seharusnya begitu biasa sudah kutunda dua kali dalam satu malam.
Ketika lampu kamar mati, aku masih bisa mengingat wajah Adrian dengan terlalu jelas. Bukan wajahnya sekarang saja, tetapi wajah usia dua puluh tiga tahun yang berdiri di bandara dan memintaku ikut. Kenangan itu datang lengkap tanpa diundang.
Aku memejamkan mata lebih erat.
Enam tahun seharusnya cukup untuk membuat sesuatu menjadi masa lalu.
Aku percaya itu.
Aku cuma belum tahu masa lalu tidak perlu hidup kembali untuk mengganggu masa depan. Kadang cukup muncul di depanmu dan memanggil namamu seperti dulu.
Keesokan paginya, Keisha menaruh kopi di mejaku tanpa diminta.
“Sudah cerita?”
“Belum ketemu Fandy.”
“Telepon ada.”
“Kenapa kamu lebih tegang daripada aku?”
Keisha duduk di ujung meja. “Karena gue kenal lo waktu putus sama Adrian.”
Aku berhenti mengetik.
“Itu enam tahun lalu.”
“Makanya. Gue juga tahu lo sudah move on.”
“Terus?”
“Nggak ada terus. Cuma jangan bikin hal normal jadi aneh karena lo terlalu mikirin cara ngomongnya.”
Aku mendengus. “Aku nggak bikin aneh.”
Ponselku bergetar tepat saat itu.
Adrian: Pagi. Semoga event kemarin nggak bikin kamu lembur lagi.
Keisha melihat ekspresiku.
“Dia?”
Aku membalik ponsel.
“Cuma chat.”
“Gue nggak bilang apa-apa.”
Itu justru membuatku kesal.
Aku membalas singkat bahwa hari ini pekerjaanku aman, lalu menaruh ponsel jauh dari tangan.
Beberapa menit kemudian Fandy mengirim foto blazer yang tertinggal di mobilnya.
Jangan lupa ini.
Aku tersenyum otomatis.
Dua layar. Dua nama. Dua bagian hidup yang tidak pernah kubayangkan akan berada di hari yang sama.
Seharusnya tidak berarti apa-apa.
Adrian adalah masa lalu. Fandy adalah sekarang.
Kalimat itu begitu jelas sampai aku merasa konyol karena perlu mengucapkannya di dalam kepala.
Sore nanti aku akan bertemu Fandy.
Aku akan cerita.
Lalu semuanya kembali biasa.
Aku sungguh percaya sesederhana itu.
Sebelum makan siang, Adrian mengirim satu foto gedung lama yang dulu sering kami lewati saat kuliah. Tidak ada kalimat romantis.
Masih ada, tulisnya.
Aku menatap foto itu.
Aku ingat kami pernah berteduh di bawah kanopinya saat hujan. Ingat Adrian meminjamkan jaket lalu mengeluh sepanjang jalan karena kedinginan. Ingat diriku yang berusia dua puluh satu tahun tertawa sampai sakit perut.
Aku tidak membalas langsung.
Bukan karena foto itu salah.
Justru karena tidak ada yang salah, dan tetap saja sesuatu di dalam diriku bergerak.
Akhirnya aku mengetik satu kalimat.
Masih jelek juga.
Adrian membalas emoji tertawa.
Aku mengunci layar.
Kenangan lama seharusnya tidak berbahaya.
Aku belum tahu bahaya paling besar justru sering datang dalam bentuk sesuatu yang terasa tidak perlu ditakuti.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian reading
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu