Chapter Fifteen
Jawaban
POV: Amanda Rigby
Aku tidak tidur nyenyak setelah percakapan dengan Fandy.
Setiap kali memejamkan mata, dua pertanyaan bergantian muncul.
Kenapa nggak bilang?
Kalau dulu gue tinggal, kita masih bersama?
Aku membenci bahwa pertanyaan kedua masih punya ruang setelah pertanyaan pertama seharusnya sudah cukup membuatku berhenti.
Jumat siang Adrian mengirim pesan.
Adrian: Bisa ketemu sebentar?
Aku menatapnya.
Aku bisa mengatakan tidak.
Aku seharusnya mengatakan tidak.
Aku justru membalas.
Aku: Di mana?
Kami bertemu di taman kecil dekat kantornya.
“Aku mau ngomong soal pertanyaan kamu.”
Adrian tidak pura-pura lupa.
“Oke.”
“Kenapa kamu tanya?”
Dia menghela napas. “Karena sejak ketemu lo lagi, gue kepikiran.”
“Tentang kita?”
“Iya.”
Dadaku mengencang.
“Kamu pernah nyesel pergi?”
Adrian menatapku lama.
Enam tahun lalu aku ingin jawaban ini lebih dari apa pun.
“Pernah.”
Aku tidak bernapas.
“Seberapa sering?”
“Manda.”
“Jawab.”
Dia menunduk sebentar.
“Setiap kali gue mikirin lo.”
Kalimat itu akhirnya datang enam tahun terlambat.
Aku menunggu lega.
Bahagia.
Marah.
Tidak ada.
Yang muncul justru wajah Fandy.
Fandy yang menyiapkan kopi pagi.
Fandy yang berkata aku percaya meskipun aku baru saja memberinya alasan untuk tidak.
“Kenapa nggak pernah bilang?”
“Buat apa? Lo punya hidup. Gue punya hidup.”
“Terus sekarang?”
“Sekarang gue ketemu lo lagi.”
Aku memejamkan mata.
“Aku cinta Fandy.”
“Gue tahu.”
“Aku mau masa depan sama dia.”
Adrian mengangguk. “Berarti itu jawaban lo.”
Seharusnya.
Aku menatap tanah.
“Tapi kenapa aku masih kepikiran?”
Adrian tidak menjawab.
Bagus.
Itu bukan pertanyaan yang berhak dia jawab.
Untuk pertama kalinya aku melihat apa yang sebenarnya kucari.
Bukan Adrian.
Aku mencari pengakuan bahwa enam tahun lalu aku cukup penting untuk membuatnya menyesal.
Validasi.
Dan demi mendapatkannya, aku sudah membuat Fandy meragukan sesuatu yang selama tiga tahun tidak pernah dia pertanyakan.
Aku berdiri.
“Aku harus pergi.”
Adrian ikut berdiri.
“Manda. Sorry.”
“Jangan. Kamu cuma jawab.”
“Gue juga yang mulai.”
“Aku yang datang hari ini.”
Dia tidak membantah.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tangan yang saling mencari.
Kami berpisah seperti dua orang yang akhirnya mengatakan sesuatu yang seharusnya tetap menjadi masa lalu.
Ponselku bergetar ketika aku masuk taksi.
Fandy: Sudah pulang kantor?
Aku menatap pesan itu.
Aku: Belum. Sebentar lagi.
Fandy: Aku tunggu.
Dua kata terakhir membuat dadaku sesak.
Dia menungguku.
Tentu saja.
Sepanjang perjalanan aku menyusun kalimat.
Aku ketemu Adrian.
Aku tanya apa dia menyesal.
Dia bilang iya.
Aku tidak melakukan apa-apa.
Semua itu benar.
Tapi kebenaran lengkapnya adalah aku pergi karena aku ingin tahu.
Aku membuka chat Keisha.
Hampir mengetik.
Tidak jadi.
Kali ini aku tidak ingin meminta orang lain memberiku cara keluar.
Aku harus mengatakan sendiri kepada Fandy.
Ketika mobil berhenti di depan apartemennya, kakiku terasa berat.
Aku naik lift.
Lantai demi lantai.
Aku melihat pantulan sendiri di dinding logam.
Tidak ada cara membuat cerita ini terdengar lebih baik tanpa mengurangi kebenarannya.
Sebelum menuju apartemen Fandy, aku sempat meminta pengemudi berhenti di minimarket.
Aku tidak butuh apa-apa.
Aku hanya belum siap sampai.
Aku berdiri di depan rak minuman hampir lima menit tanpa mengambil satu botol pun.
Ponselku ada di tangan.
Chat Fandy terbuka.
Aku membaca percakapan beberapa hari terakhir.
Tidak ada drama.
Tidak ada ancaman.
Bahkan setelah dia tahu aku bertemu Adrian tanpa bilang, Fandy masih mengirim pesan apakah aku sudah makan.
Itulah yang membuat rasa bersalah terasa lebih tajam.
Aku keluar minimarket dengan sebotol air yang tidak kuinginkan.
Di trotoar aku menelepon Keisha.
Panggilan hampir tersambung ketika aku mematikannya.
Bukan karena Keisha tidak akan membantu.
Justru karena dia pasti membantu.
Dia akan menyusun kalimat, menenangkan, mungkin mengatakan aku harus jujur.
Aku sudah tahu semua itu.
Kali ini aku tidak boleh datang kepada Fandy dengan jawaban yang sudah dirapikan orang lain.
Aku harus membawa versiku yang paling buruk sekalipun.
Di dalam mobil lagi, aku membuka chat Adrian.
Percakapan kami berhenti pada pesan soal lokasi taman.
Aku menekan nama kontaknya.
Ada pilihan block.
Tanganku berhenti.
Memblokir Adrian sekarang akan mudah.
Terlalu mudah.
Seolah masalahnya adalah Adrian bisa menghubungiku, bukan aku yang berkali-kali memilih membuka pintu.
Aku tidak memblokir.
Aku juga tidak mengirim apa pun.
Aku menutup chat.
Keputusan tentang Adrian bisa dibuat nanti, dengan kepala lebih tenang.
Yang tidak bisa ditunda lagi adalah Fandy.
Ketika mobil masuk ke kompleks apartemennya, jam di dashboard menunjukkan hampir sembilan.
Besok seharusnya kami punya date rahasia.
Aku teringat caranya menghindari pertanyaanku soal tempat.
Teringat kemeja yang dia kirim fotonya.
Teringat bagaimana dia bilang jangan batal.
Aku mendadak takut besok tidak akan ada.
Bukan karena Fandy pernah mengancam pergi.
Justru karena dia tidak pernah melakukannya.
Aku membayar mobil dan berdiri di lobi.
Lift datang.
Tanganku dingin.
Di dalam lift aku melihat pantulan sendiri dan mencoba satu kali terakhir mencari versi cerita yang lebih ringan.
Tidak ada.
Aku pergi menemui mantanku karena ingin tahu apakah dia menyesal meninggalkanku.
Itu kalimatnya.
Tidak ada susunan kata yang membuatnya menjadi hal lain.
Pintu lift terbuka.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban reading
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu