← Back Off

Chapter Twenty Four

Cincin Apa?

POV: Amanda Rigby

Tiga minggu setelah Fandy pindah, aku bertemu Raka di kedai kopi. Bukan sengaja. Kami duduk dan membicarakan pekerjaan, macet, dan cuaca—semua topik aman ketika ada satu nama yang sengaja tidak disentuh.

Akhirnya aku bertanya, “Fandy gimana?” Raka menjawab baik. Tempat barunya sudah berantakan. Aku tertawa kecil karena itu terdengar seperti Fandy.

Aku meminta maaf kepada Raka. Dia menggeleng. “Jangan minta maaf ke gue. Yang jalanin kalian.” Tidak ada kemarahan. Justru kebaikan itu membuatku lebih malu.

Raka mengeluh Fandy membuang terlalu banyak barang saat pindahan. Lalu tanpa sadar dia berkata, “Gue juga nggak tahu akhirnya cincin itu diapain.”

Dunia berhenti. “Cincin apa?”

Raka membeku. Aku mengulang. Akhirnya dia menjelaskan: Fandy sudah membeli cincin. Model sederhana. Ukuranku. Rooftop tempat anniversary pertama. Papa sudah memberi restu.

“Kapan?” Raka menyebut tanggal. Sabtu. Sabtu ketika aku datang memohon hubungan kami diperbaiki. Sabtu ketika seharusnya Fandy melamarku.

Aku tidak bisa bernapas dengan benar. “Dia nggak pernah bilang.” Raka menjelaskan Fandy tidak mau aku memilihnya setelah tahu ada cincin karena dia tidak akan tahu apakah jawabanku lahir dari cinta atau rasa bersalah.

Semua detail tersusun. Dia memintaku mengosongkan Sabtu. Kemeja yang kubelikan. Pertanyaan mendadak tentang menikah. Diamnya setelah aku tidak bisa menjawab.

Aku bukan hanya kehilangan pacar. Aku kehilangan lelaki yang sudah memutuskan ingin menjadikanku keluarganya. Ketika masa depan itu hampir berada di tangannya, aku masih menoleh ke belakang.

Aku bertanya apakah Papa tahu. Raka mengangguk. Mama juga tahu. Aku teringat makan malam ketika Papa dan Fandy bicara berdua. Aku datang membawa buah tanpa tahu Fandy baru meminta restu.

Tidak ada seorang pun yang membenciku. Raka tidak menyalahkanku. Orang tuaku tidak menyalahkanku. Fandy bahkan pergi tanpa menggunakan cincin sebagai senjata. Justru itu yang menghancurkan.

Ketika Keisha datang, aku hanya bisa berkata, “Dia mau melamar aku.” Keisha berhenti. Aku tertawa kecil di antara tangis. “Aku bahkan nggak tahu.”

Malamnya aku membuka kalender lama. Tanggal Sabtu itu masih bertuliskan Date with Fandy. Aku tidak menghapusnya.

Aku perlu mengingat satu hal dengan benar: Fandy pernah memilihku tanpa ragu. Keraguan datang dari aku.

Kalau suatu hari aku bertemu dia lagi, aku tidak boleh datang hanya untuk meminta cinta lama dikembalikan. Aku harus menjadi seseorang yang mengerti berat kepastian yang pernah dia berikan.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.

Aku membayangkan cincin yang tidak pernah kulihat. Anehnya, justru karena tidak pernah melihatnya, benda itu terasa lebih besar. Ia bukan perhiasan. Ia adalah keputusan Fandy yang sudah selesai dibuat ketika keputusanku sendiri masih goyah.