← Standby

Chapter Nine

Tiga Jam

POV: Alika Jumlah kata: 1.339


Ini yang tidak pernah kupikirkan sampai pagi tanggal 3 itu:

Aku tidak punya kendali atas penampilanku.

Aku transit. Yang artinya aku sedang bekerja. Yang artinya aku akan bertemu dia dengan seragam, sanggul yang sudah tujuh jam, lipstik yang harus kuoles ulang di toilet pesawat, dan sepatu yang membuat tumitku ingin mengajukan pengunduran diri.

Aku menghabiskan tiga hari terakhir memikirkan apa yang akan kupakai, dan jawabannya sudah ditentukan orang lain sejak empat tahun lalu.

Lucunya begini: seluruh hidupku, orang-orang bertemu denganku dan yang pertama mereka lihat adalah wajahku, dan aku selalu benci itu.

Sekarang, satu kali, aku ingin punya suara dalam urusan itu.

Dan tidak bisa.

Nesa melihatku mengoles lipstik untuk ketiga kalinya di toilet awak dan berkata, sangat pelan, “Kak. Siapa.”

“Nggak ada.”

“Kak Alika, Kakak nggak pernah pakai lipstik dua kali.”

“Nes.”

“Ya udah.” Dia mengangkat tangan. “Tapi kalau dia jahat, aku yang mukulin.”


Dia mengirim pesan jam sebelas siang.

Saya sudah di terminal. Kalau kamu keluar dari pintu kedatangan, ambil kanan, lewati dua toko, lalu ada koridor menuju musala. Di ujungnya ada kursi menghadap tembok. Saya di situ.

Aku membacanya sambil berjalan menyeret koper.

Kok tau tempat kayak gitu

Menit keempat.

Saya sudah ke sini jam 7 tadi pagi.

Aku berhenti berjalan.

JAM 7?? Transitnya kan jam 2

Menit kelima.

Iya. Saya keliling dulu.

Lalu, menit keempat setelahnya, dia mengirim sebuah gambar.

Denah terminal. Difoto dari papan petunjuk. Dan di atasnya, dengan aplikasi coretan yang jelas-jelas tidak pernah dia pakai sebelumnya karena garisnya berantakan, ada tanda silang di enam tempat dan satu lingkaran di satu tempat.

Di bawahnya:

Yang saya silang itu ramai. Yang saya lingkari paling kosong sepanjang hari. Saya cek jam 7, jam 9, dan jam 11.

Aku berdiri di tengah arus manusia di terminal kedatangan Soekarno-Hatta, dengan koper miring di tangan dan orang-orang menabrak bahuku, dan aku menatap denah bandara yang dicoret-coret oleh seorang laki-laki yang bangun jam enam pagi untuk mensurvei tingkat keramaian enam titik supaya aku tidak harus berdiri di tempat yang berisik.

Aku menyimpan gambar itu.

Aku masih menyimpannya sampai sekarang. Sudah pindah tiga ponsel dan gambar itu masih ikut, dan setiap kali aku ganti ponsel aku memindahkannya sendiri, satu per satu, bukan lewat cadangan otomatis, karena aku takut hilang.


Aku melihat tangannya duluan.

Itu hal pertama yang kudaftarkan di kepalaku, dan aku ingat karena aku sempat berpikir aneh sekali, dan kemudian tidak sempat berpikir apa-apa lagi.

Dia duduk di kursi paling ujung, menghadap tembok, persis seperti yang dia bilang. Punggungnya agak membungkuk. Ponsel di pangkuan tapi mati. Dan tangannya di atas lutut — jari panjang, kuku pendek rapi, tidak melakukan apa-apa.

Lalu dia mendengar rodaku dan menoleh.

Kurus. Lebih tinggi dari yang kubayangkan waktu dia duduk pun sudah kelihatan. Rambut sedikit terlalu panjang, jenis yang kelewat satu kali potong. Kacamata berbingkai tipis yang melorot sedikit dan tidak dia benahi.

Dan matanya bergerak ke arahku selama mungkin setengah detik sebelum turun ke bawah-kiri.

“Alika.”

“Hai.”

Dan itu.

Itu, ternyata, seluruh isi dua menit berikutnya.


Dua menit itu sungguhan. Aku menghitungnya belakangan dari jam keberangkatan, dan aku tidak melebih-lebihkan.

Aku berdiri di depannya dengan koper. Dia duduk. Tidak ada yang bicara.

Dan yang gila adalah: aku tidak panik.

Aku pramugari. Aku bisa mengisi hening dengan siapa pun. Aku bisa menemukan tiga topik dari tas seseorang. Itu setengah dari pekerjaanku dan aku dibayar untuk itu.

Tapi aku sudah tahu apa yang sedang terjadi di kepala orang ini. Aku sudah dua bulan tahu.

Dia sedang menghapus dulu yang tidak perlu.

Jadi aku duduk di kursi sebelahnya, meletakkan koper, melepas sepatu di bawah kursi karena tidak ada yang bisa lihat, dan menunggu.

Di menit kedua, dia bicara.

“Kamu lebih pendek dari perkiraan saya.”

Aku menoleh.

“...Hah?”

“Di roster ada data tinggi badan awak. Saya tidak pernah membacanya.” Dia menatap lantai. “Jadi saya memperkirakannya sendiri dari cara kamu menulis. Perkiraan saya meleset sekitar sembilan sentimeter.”

Aku menatapnya selama tiga detik penuh.

Lalu aku tertawa.

Aku tertawa keras, di koridor bandara, dengan tangan menutup mulut dan bahu berguncang dan mata yang mulai basah karena aku tertawa terlalu keras terlalu cepat setelah tiga hari tidak tidur benar.

Karena begini.

Aku sudah empat tahun bertemu orang baru. Ratusan. Ribuan. Dan kalimat pertama yang mereka ucapkan tentang penampilanku selalu — selalu — dari kelompok kata yang sama. Cantik. Tinggi. Kayak model. Pantes masuk iklan.

Tidak ada satu pun, dalam empat tahun, yang membuka dengan mengabarkan bahwa perhitungan matematisnya meleset sembilan sentimeter.

“Maaf,” katanya, panik kecil di suaranya. “Itu yang ketiga. Yang pertama dan kedua lebih buruk.”

Aku mengelap mata dengan punggung tangan. “Yang pertama apa?”

“Tidak jadi.”

“Argaaa.”

“Tidak jadi,” ulangnya, dan aku bersumpah telinganya memerah.


Setelah itu lebih mudah.

Bukan lancar — dia tetap berhenti empat detik sebelum tiap kalimat, dan aku mulai suka jeda itu karena aku bisa melihat prosesnya di wajahnya, mata yang turun ke bawah-kiri, alis yang bergerak sedikit.

Tiga jam itu isinya hal-hal yang sama sekali tidak penting.

Dia membelikanku air tanpa bertanya, dan waktu aku tanya kenapa tidak tanya dulu, dia bilang penerbangan tujuh jam membuat orang dehidrasi dan aku sudah bilang itu tiga minggu lalu jadi dia menghitungnya sebagai data yang sudah tersedia.

Aku menceritakan bapak-bapak yang tasnya tidak muat. Dia mendengarkan sampai selesai, tidak menyela sekali pun, lalu bertanya apakah tasnya benar-benar tidak muat atau cuma tidak muat di kompartemen yang dia mau.

“Yang kedua.”

“Berarti dia tidak marah soal tas.”

“Terus soal apa?”

“Soal tidak dapat yang dia mau di tempat dia biasa dapat.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Itu yang paling sering.”

Aku menatap sisi wajahnya.

Ada orang yang mendengarkan supaya bisa membalas. Ada orang yang mendengarkan supaya kelihatan mendengarkan.

Dan ada satu jenis lagi, yang ternyata sangat jarang, yang mendengarkan seperti orang membongkar mesin — mereka betul-betul ingin tahu bagaimana benda itu bekerja.

Dan di menit kesembilan puluh sekian, tanpa kurencanakan, aku berkata:

“Kamu nggak pernah lihat aku, ya.”

Dia menoleh. “Saya sedang melihat kamu.”

“Bukan itu maksudnya.”

Dia diam. Enam detik. Lalu mengangguk kecil, satu kali.

“Iya,” katanya. “Saya tahu maksudnya.”

Dan dia tidak menjelaskan apa-apa lagi, tidak menambahkan pujian sebagai penebus, tidak bilang “tapi kamu memang cantik kok” seperti yang akan dilakukan sembilan dari sepuluh laki-laki di negeri ini.

Dia cuma mengangguk, dan membiarkannya benar.


Tiga jam itu habis dengan cara yang menghina.

Aku berdiri di depan gerbang 7 dengan koper yang sudah kupegang terlalu erat, dan dia berdiri satu setengah meter dariku, dan pengeras suara memanggil awak untuk penerbangan berikutnya.

“Ya udah,” kataku.

“Iya.”

“Aku duluan.”

“Iya.”

Dan karena aku tidak tahu harus apa, dan karena aku ini orang yang panik dengan cara yang salah, aku mengulurkan tangan.

Untuk salaman. Seperti orang selesai rapat.

Aku langsung menyesal sedetik setelah tanganku terulur. Aku bahkan sempat berpikir untuk mengubahnya jadi lambaian, atau garukan, atau apa pun.

Dia menggenggamnya.

Tangannya hangat dan kering dan lebih besar dari yang kelihatan, dan dia menggenggamnya bukan seperti orang salaman — tidak ada goyangan, tidak ada tepukan di punggung tangan.

Cuma digenggam.

Sebelas detik.

Aku menghitungnya. Aku tidak bisa tidak menghitungnya, karena aku sudah jadi orang yang menghitung sejak dua bulan lalu, dan karena sebelas detik itu terasa seperti ada seseorang yang menaruh tangannya di dadaku dan menahan sesuatu supaya tidak jatuh.

Lalu dia melepaskannya, dan berkata pada lantai, “Hati-hati.”

Aku berbalik dan berjalan ke gerbang tanpa menoleh, karena kalau aku menoleh aku tidak akan naik.


Aku bekerja tujuh jam sesudahnya.

Aku tersenyum ke seratus delapan puluh orang. Aku menuang teh. Aku berlutut di samping kursi seorang nenek dan menjelaskan cara memakai sabuk pengaman tiga kali dengan sabar.

Dan aku tidak mendengar satu pun kata yang diucapkan siapa pun di pesawat itu.

Di ketinggian tiga puluh ribu kaki, tanpa sinyal, aku mengeluarkan ponsel di ruang awak dan mengetik di aplikasi catatan. Panjang. Lebih panjang dari yang pernah kutulis ke siapa pun.

Aku menyalinnya ke kolom pesan waktu mendarat di Denpasar, jam satu pagi, dan menekan kirim sebelum sempat menghapus apa pun.

Balasannya datang empat menit kemudian.

Empat menit. Jam satu pagi.

Dia menunggu.


[Jumlah karakter: 8.964]