Chapter Eight
Transit yang Hilang
POV: Alika Jumlah kata: 1.110
Tiga hari itu aku bekerja dengan sangat baik.
Aku menyebutkannya bukan untuk membanggakan diri. Aku menyebutkannya karena itu gejala.
Kalau aku sedang baik-baik saja, aku bekerja seperti orang normal — ramah, cukup cepat, sesekali melamun waktu mendorong trolley. Kalau aku sedang tidak baik-baik saja, aku berubah jadi mesin. Senyumku sempurna. Kotak makanku tidak pernah kurang. Aku mengingat semua permintaan khusus tanpa mencatat.
Hari kedua, Kak Vira bilang, “Kamu kenapa sih, rajin banget.”
Aku bilang, “Nggak apa-apa, Kak.”
Hari ketiga, Nesa duduk di sebelahku di ruang tunggu awak Juanda, tidak bilang apa-apa selama dua menit penuh, lalu bilang:
“Pak Sistem?”
Aku menatap kopi dingin di tanganku.
“Dia ternyata bukan bapak-bapak,” kataku.
“YA AMPUN.”
“Nes—“
“KAK. UMUR BERAPA.”
“Dua puluh delapan.”
Nesa mengeluarkan bunyi yang tidak bisa kutuliskan di sini.
Aku tidak menceritakan sisanya. Bukan karena tidak percaya Nesa. Karena aku tahu persis bagaimana kedengarannya kalau diucapkan keras-keras. Ada laki-laki yang selama sembilan bulan menyisipkan transit di jadwalku supaya bisa melihatku dari lantai empat.
Nesa akan bilang itu bahaya, bukan romantis. Nesa akan benar. Nesa akan menyuruhku lapor.
Dan aku tidak bisa menjelaskan ke Nesa — aku bahkan belum bisa menjelaskan ke diriku sendiri — bahwa yang membuatku tidak tidur selama tiga malam bukan bagian dia melihatku.
Tapi bagian dia tidak pernah turun.
Tanggal 20, jam sembilan pagi.
Aku sedang di kos, baru pulang dari penerbangan malam, rambut masih bau kabin, dan aku membuka aplikasi roster dengan tangan yang — aku akan jujur — agak gemetar.
Bukan karena akhir pekan. Bukan karena hari libur.
Aku membukanya dan langsung menggulir ke bawah mencari empat huruf yang sama.
CGK.
Aku menemukannya. Ada. Enam kali bulan depan aku melewati Cengkareng.
Tapi tidak ada satu pun yang tiga puluh menit.
Yang ada: dua jam sepuluh menit. Satu jam empat puluh. Lima puluh menit. Tiga jam.
Angka-angka normal. Angka-angka yang dihasilkan mesin yang tidak memikirkan siapa-siapa.
Aku menggulir naik. Menggulir turun lagi. Aku menutup aplikasinya dan membukanya lagi, seperti orang bodoh, seperti kalau kubuka ulang isinya akan berubah.
Tidak ada.
Dan aku duduk di lantai kamar kosku, dengan seragam masih setengah terbuka dan koper belum kubuka, dan aku merasakan sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal.
Aku merasa kehilangan.
Kehilangan sesuatu yang, sembilan bulan lalu, aku mengetik surat pengaduan jam dua pagi untuk melenyapkannya.
Aku mengambil ponsel dan mengetik tanpa berpikir.
Kamu hapus?
Baru setelah terkirim aku sadar aku tidak memakai “Bapak”. Tidak juga “Arga”.
Cuma “kamu”.
Empat menit.
Iya.
Dadaku sesak dengan cara yang aneh.
Kapan?
Empat menit.
Malam ketiga.
Jadi dia sudah menghapusnya sebelum aku menghubunginya. Sebelum dia tahu apakah aku akan kembali atau tidak. Sebelum ada apa pun yang bisa dia dapat dari menghapusnya.
Jariku mengetik dan menghapus tiga kali sebelum akhirnya aku mengirim satu kata:
Kenapa?
Dan kali ini balasannya tidak datang di menit keempat.
Tidak juga di menit ketujuh.
Aku duduk di lantai kamar itu selama dua belas menit penuh — dan aku tahu persis dua belas menit karena aku menatap jam di layar seperti orang yang sedang menunggu hasil laboratorium.
Dua belas menit. Rekor terlama sejak malam pertama.
Lalu:
Karena saya tidak mau kamu ada di dekat saya karena saya yang mengaturnya.
Aku tidak menangis.
Aku ingin mencatat itu, karena aku menangis di bab-bab sebelumnya dan aku akan menangis lagi nanti, tapi tidak waktu itu.
Waktu itu aku cuma duduk sangat diam.
Karena ada sesuatu yang sedang bergeser di dalam kepalaku dan aku bisa merasakan gerakannya, seperti orang yang merasakan gigi tumbuh.
Begini.
Aku pernah menghitung, sekali, waktu iseng, berapa banyak keputusan besar dalam hidupku yang benar-benar kubuat sendiri.
Jurusan kuliahku dipilih Mama. Alasannya bagus: “Nanti gampang kerja.” Dan benar, memang gampang.
Pekerjaan ini juga bukan ideku. Ada orang yang melihatku di acara kampus dan bilang sayang kalau tidak dicoba. Semua orang setuju. Wajahku dianggap sebagai alasan yang cukup, dan aku tidak punya alasan tandingan, jadi aku ikut.
Rute, jadwal, kota, jam tidur — sistem.
Bahkan wajahku sendiri di baliho tol itu bukan keputusanku. Aku cuma diminta datang ke pemotretan dan aku datang.
Aku bukan orang yang tertindas. Tidak ada yang jahat padaku. Semua orang yang memilihkan hal-hal itu untukku melakukannya dengan sayang, dan pilihan mereka masuk akal, dan hasilnya baik.
Cuma aku sudah lupa rasanya ditanya.
Dan sekarang ada laki-laki yang punya kuasa paling harfiah atas hidupku — yang benar-benar bisa mengetik dua puluh delapan baris dan menentukan aku ada di kota mana malam ini — dan hal pertama yang dia lakukan setelah aku tahu adalah mengembalikan tombolnya ke tanganku.
Padahal aku tidak memintanya. Padahal aku bahkan tidak sadar aku menginginkannya.
Padahal kalau dia diam saja, aku mungkin tidak akan pernah tahu.
Aku menatap layar itu lama sekali.
Lalu aku mengetik:
Terus kalau aku pengen lewat situ gimana?
Menit keenam.
Ajukan permintaan rute lewat atasan Anda. Prosedurnya ada.
Ribet banget.
Menit kelima.
Iya. Tapi itu jadi keputusan kamu.
Aku memperhatikan kata itu.
Kamu.
Baru sekali ini. Dan dia sudah kembali ke “Anda” di kalimat sebelumnya, jadi mungkin itu kecelakaan, mungkin jarinya lebih cepat dari kepalanya.
Aku tidak menyinggungnya.
Aku menyimpannya.
Malam itu aku membuka laci.
Laci sabun. Empat tahun, ratusan bungkus, tidak ada urutan, tidak ada label kecuali dua yang terakhir.
Aku duduk di lantai dan mengeluarkan semuanya, satu per satu, dan membaca nama-nama hotel yang dicetak di kertasnya.
Denpasar. Balikpapan. Makassar. Kupang. Semarang. Surabaya. Medan. Manado. Kendari. Palembang. Yogyakarta. Padang. Banjarmasin. Ternate. Sorong.
Aku menyusunnya di lantai sampai kamarku penuh dengan bukti bahwa aku pernah ada di seluruh negeri ini.
Lalu aku duduk bersila di tengahnya dan mencari satu.
Satu dari Jakarta.
Tidak ada.
Tentu saja tidak ada. Aku tidak pernah menginap di Jakarta. Jakarta itu tempat transit. Jakarta itu tiga puluh menit di kursi plastik goyang, atau dua jam di ruang tunggu awak, atau bandara yang kulewati enam kali sebulan tanpa pernah keluar dari gedungnya.
Empat tahun aku melewati kota itu ratusan kali dan tidak pernah sekali pun tidur di sana.
Aku memegang bungkus sabun Denpasar di tangan — sabun dari malam terburuk bulan ini — dan aku memikirkan laki-laki yang tinggal di kota yang tidak punya satu pun sabun di laciku.
Yang selama sembilan bulan berdiri di lantai empat gedung itu.
Yang tidak pernah turun.
Aku memasukkan semuanya kembali ke laci, satu per satu, dan sebelum menutupnya aku sadar bahwa aku sudah memutuskan sesuatu — bukan dengan kepala, tapi dengan cara yang lebih tua dan lebih bodoh dari itu.
Aku mengambil ponsel.
Arga.
Menit keempat.
Iya.
Bulan depan tanggal 3, aku di Jakarta jam 2 siang sampai jam 5. Transitnya 3 jam. Bukan kamu yang atur.
Aku turun.
Balasannya butuh sembilan menit.
Saya juga.
[Jumlah karakter: 7.373]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang reading
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby