Chapter Eighteen
Conflict Detected
POV: Alika Jumlah kata: 1.012
Pertengkaran pertama kami terjadi karena aku memberikan sesuatu yang tidak dia minta.
Aku ingin menuliskan itu di kalimat pertama supaya jelas sejak awal bahwa ini bukan salahnya, dan bukan salahku, dan bahwa dua orang bisa saling menyakiti tanpa satu pun dari mereka melakukan hal yang keliru.
Bulan itu aku mengajukan permintaan rute lagi.
Bukan satu. Empat.
Aku duduk di ruang awak dengan formulir di pangkuan dan menulis empat permohonan layover Jakarta dalam satu bulan, dan di kolom alasan permohonan aku menulis keperluan pribadi empat kali, dan Pak Anwar menandatanganinya empat kali sambil tersenyum dengan cara yang membuatku ingin melompat dari jendela.
Empat kali. Itu artinya empat malam di apartemen bergelas tiga itu — sekarang lima gelas, dua tambahan lagi, karena “kadang ada dua orang minum sekaligus, dan kalau saya cuci di tengah, prosesnya jadi tidak efisien.”
Aku memberitahunya malam itu dengan tangan yang sudah mengetik terlalu cepat.
GA AKU AJUIN 4 LAYOVER JAKARTA BULAN DEPAN EMPAT TANGGAL 4, 11, 19, SAMA 26
Aku menunggu.
Sepuluh detik lewat.
Tiga puluh.
Satu menit.
Dua menit.
Empat menit.
Empat itu banyak.
Aku menatap layar.
Ya emang. Itu maksudnya.
Tiga menit.
Rute Jakarta itu bukan rute terbaik untuk kamu. Jam terbangnya lebih pendek, tunjangannya lebih kecil, dan kamu harus menolak rotasi regional yang poinnya lebih tinggi untuk penilaian tahunan.
Kalau kamu ambil empat, penilaian kamu turun sekitar 8 persen.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Ga.
Dua menit.
Iya.
Aku ngajuin ini biar bisa ketemu kamu.
Lima menit.
Saya tahu.
Terus reaksi kamu ngitungin penilaian tahunan aku?
Dan balasannya butuh delapan menit.
Kamu tidak perlu melakukan itu untuk saya.
Aku menelepon.
Aku tidak pernah menelepon duluan. Dalam tiga bulan, tidak sekali pun. Malam itu aku menekan tombol hijau sebelum sempat berpikir.
Dia mengangkat di dering kedua.
“Ga, kamu nggak seneng?”
“Saya senang.”
“Kamu nggak kedengeran seneng.”
Hening. Empat detik.
“Saya senang,” ulangnya, dan suaranya benar-benar rata, dan itulah yang membuatku meledak.
“Terus kenapa yang kamu omongin angka?!”
“Karena angkanya nyata.”
“Ga—“
“Delapan persen itu bukan hal kecil. Dalam tiga tahun itu memengaruhi kelayakan kamu untuk—“
“AKU NGGAK NANYA ITU.”
Aku duduk di lantai kamar kos dengan punggung ke kasur dan menekan pangkal hidungku.
“Aku nggak nanya soal penilaian, Ga. Aku ngasih tau kamu sesuatu yang bikin aku seneng seharian, dan yang kamu bales adalah kerugian statistiknya.”
Hening.
“Kamu tuh nggak pernah minta apa-apa,” kataku, dan suaraku sudah tidak stabil. “Nggak sekali pun. Tiga bulan.”
“Saya—“
“Kamu nggak pernah bilang ‘aku kangen’. Kamu nggak pernah bilang ‘dateng dong’. Kamu nggak pernah bilang ‘jangan lama-lama’.”
“Kamu ingin saya mengatakan itu?”
“AKU INGIN KAMU PENGEN.”
Aku menyesal begitu kalimat itu keluar.
Bukan karena tidak benar. Karena terlalu benar, dan aku mengeluarkannya dengan cara yang salah, jam sebelas malam, lewat telepon, ke orang yang butuh empat menit untuk menyusun satu kalimat.
Hening itu panjang sekali.
Aku bisa mendengar napasnya. Aku bisa mendengar kursinya bergeser. Aku bisa mendengar dia hampir bicara dua kali dan berhenti dua kali.
“Ga.”
“Sebentar.”
Aku menunggu.
“Sebentar,” katanya lagi, lebih pelan, dan aku menyadari bahwa suaranya sedang bergetar sedikit dan bahwa aku belum pernah mendengarnya begitu.
Aku duduk di lantai kamar kosku dan menunggu.
Tiga puluh detik.
Satu menit.
“Alika.”
“Iya.”
“Saya ingin kamu datang.” Diucapkan seperti orang mengangkat sesuatu yang berat dari lantai. “Empat kali. Saya ingin.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Tapi kalau saya bilang begitu,” lanjutnya, “dan kamu mengambil rute yang merugikan kamu, maka saya tidak akan pernah tahu apakah kamu mengambilnya karena kamu mau atau karena saya bilang saya mau.”
“Ga—“
“Dan itu—“ Suaranya berhenti. Mulai lagi. “Bapak saya selalu tahu apa yang dia mau. Dia bilang. Dia bilang terus, tiap hari, dengan sopan. Dan ibu saya selalu mengambil pilihan yang sama dengan yang dia mau.”
Aku menahan napas.
“Ibu saya juga bilang dia yang memilih.” Jeda. “Sampai hari dia pergi.”
Aku tidak tahu harus bilang apa.
Aku duduk di sana dengan ponsel menempel di telinga dan mataku panas dan aku sadar bahwa selama tiga bulan aku salah membaca seluruh hal itu.
Aku pikir dia tidak meminta karena dia tidak menginginkan.
Ternyata dia tidak meminta karena dia takut permintaannya terlalu berat.
“Ga,” kataku pelan. “Aku bukan ibu kamu.”
“Saya tahu.”
“Dan kamu bukan bapak kamu.”
Hening panjang.
“Itu yang tidak bisa saya pastikan,” katanya.
Kami berbaikan malam itu juga, dan aku ingin mencatat itu karena aku bangga pada kami berdua.
Tidak ada yang mendiamkan siapa pun selama tiga hari. Tidak ada pesan yang tidak dibalas. Tidak ada salah satu dari kami yang menunggu yang lain minta maaf duluan sebagai semacam ujian.
Aku bilang maaf karena berteriak. Dia bilang maaf karena menjawab dengan angka.
Lalu, karena kami berdua sama-sama tidak tahu bagaimana menutup percakapan seperti itu, aku berkata:
“Conflict detected.”
Hening dua detik.
Lalu aku mendengar sesuatu di ujung sana yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Dia tertawa.
Pendek. Satu kali. Nyaris cuma embusan napas lewat hidung. Kalau aku sedang tidak menempelkan ponsel ke telinga aku pasti tidak mendengarnya.
“Ga.”
“Iya.”
“Kamu barusan ketawa.”
“Tidak.”
“KAMU KETAWA.”
“Itu batuk.”
“ARGA.”
“Sistem tidak menyelesaikan konflik,” katanya, mengalihkan pembicaraan dengan sangat buruk. “Sistem cuma menandainya, lalu manusia yang memutuskan mana yang digeser.”
“Terus kita geser apa?”
Dia berpikir. Enam detik.
“Kamu ambil dua,” katanya. “Tanggal 11 dan 26. Bukan empat.”
“Kenapa dua?”
“Karena dua itu tidak memengaruhi penilaian kamu sama sekali, dan—“
“Ga.”
Jeda.
“Dan karena dua kali itu sudah lebih banyak dari yang berani saya minta,” katanya.
Aku mengambil tiga.
Aku tidak memberitahunya sampai tanggalnya tiba.
Dan waktu aku muncul di depan pintu apartemen lantai enam paling ujung koridor itu pada tanggal 19 — tanggal yang tidak ada dalam kesepakatan — laki-laki itu membuka pintu, melihatku, dan berdiri diam selama tiga detik penuh.
“Ini tanggal 19.”
“Iya.”
“Kita sepakat dua.”
“Iya.”
“Kenapa—“
“Karena aku pengen,” kataku.
Dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya — sesuatu yang butuh waktu lama sekali untuk kukenali, karena aku belum pernah melihatnya di wajah orang itu sebelumnya.
Lega.
[Jumlah karakter: 6.763]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected reading
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby