Chapter Twenty Nine
Lantai Empat
POV: Alika Jumlah kata: 956
Panggilanku untuk dia sudah tiga kali berganti dalam tujuh bulan, dan aku baru menyadari urutannya waktu Nesa menunjukkannya padaku.
“Pak Sistem” — dua bulan pertama, waktu aku masih membayangkan bapak-bapak berkumis dengan termos.
“Arga” — dua minggu, canggung, terlalu resmi, seperti orang membaca daftar hadir.
“Ga” — sejak parkiran restoran di Kemang, dan tidak pernah berubah lagi sejak itu.
“Kak, Kakak sadar nggak sih,” kata Nesa suatu sore di ruang awak, “kalau Kakak manggil dia ‘Ga’ itu suaranya beda.”
“Beda gimana.”
“Beda aja. Kayak—“ Nesa mencari kata sambil menggerakkan tangannya. “Kayak orang naruh gelas pelan-pelan.”
Aku melempar bungkus roti ke kepalanya.
Yang tidak Nesa tahu adalah bahwa ada satu lagi.
Kejadiannya di bulan kedelapan, di apartemen, jam satu pagi, waktu kami berdua sudah terlalu lelah untuk berpura-pura punya harga diri.
Kami di lantai — selalu lantai, entah kenapa lantai depan rak sabun itu jadi tempat semua hal penting terjadi — dan aku sedang menempelkan pipiku ke lengannya sambil setengah tidur.
Dan aku berkata, tanpa alasan, dengan suara orang yang sudah tidak menyaring apa pun lagi:
“Ga, aku kepikiran sesuatu.”
“Iya.”
“Sembilan bulan kamu berdiri di lantai empat.”
Aku merasakan lengannya menegang sedikit.
“Iya.”
“Kamu nggak pernah turun.”
“Iya.”
Aku memutar badanku dan menatapnya dari bawah.
“Aku dulu marah banget soal itu.”
“Saya tahu.”
“Sekarang enggak.”
Dia diam.
“Sekarang kalau aku inget,” kataku, “yang aku bayangin itu ada orang berdiri di kaca lantai empat selama sembilan menit, empat puluh dua kali, cuma buat mastiin aku udah duduk.”
Aku menyandarkan kepalaku lagi ke lengannya.
“Terus balik ke meja.”
Hening.
Lalu aku berkata — dan aku bersumpah aku tidak merencanakannya, dan aku bahkan tidak yakin aku sadar sepenuhnya waktu mengucapkannya:
“Selamat malam, Lantai Empat.”
Dia tidak bergerak selama waktu yang sangat lama.
Cukup lama sampai aku setengah terbangun lagi dan mengangkat kepalaku untuk mengecek apakah dia baik-baik saja.
“Ga?”
Dia menatap ke depan, ke rak kayu di dinding, dan kacamatanya sudah dilepas dan diletakkan di lantai di sebelahnya, jadi matanya kelihatan lebih telanjang dari biasanya.
“Alika.”
“Iya.”
“Jangan pakai itu di depan orang.”
Aku duduk. “Kenapa? Jelek ya? Maaf, aku ngantuk, aku nggak—“
“Bukan.”
Dia menoleh.
“Karena kalau kamu pakai di depan orang,” katanya, “nanti ada orang lain yang tahu artinya.”
Aku memakainya dua ratus kali setelah malam itu, dan tidak sekali pun di depan siapa pun.
Bukan di depan Nesa. Bukan di depan Ibu Ratna. Bukan di depan Bara, tidak di depan Pak Anwar, tidak di depan siapa pun di dunia ini yang punya telinga.
Cuma di apartemen lantai enam paling ujung koridor. Cuma di telepon jam dua pagi dari kamar hotel di kota yang tidak dia kenal. Cuma di pesan yang kukirim dari ketinggian tiga puluh ribu kaki dan baru terkirim waktu mendarat.
Udah nyampe, Lantai Empat.
Dan dia selalu membalas dalam sepuluh detik.
Nesa hampir menangkapku sekali.
Bulan kesembilan, di ruang tunggu awak Juanda, jam setengah enam pagi. Aku sedang menelepon dan aku tidak sadar dia sudah duduk di belakangku.
“Iya, aku udah sampe. Iya. Iya, aku udah makan. Ga, aku beneran udah makan, kamu nggak usah— ya udah nanti aku foto.”
Aku menutup telepon.
“Kak.”
Aku hampir melempar ponselku.
“Nes, ya ampun—“
“Kakak barusan manggil dia apa?”
“‘Ga’.”
“Bukan yang itu.” Nesa menyipitkan mata. “Yang di awal. Kakak bilang ‘halo’ terus ada dua kata.”
“Nggak ada.”
“Ada.”
“Nggak ada, Nes.”
Nesa menatapku selama lima detik penuh.
Lalu dia berkata, dengan nada orang yang menyerah tapi tidak sepenuhnya:
“Kak, kalau itu panggilan sayang yang aneh-aneh, aku bakal cari tau.”
“Silakan.”
“Aku bakal cari tau, Kak.”
“Nes, kamu nggak akan pernah nemu.”
Dan itu benar, dan Nesa tidak pernah menemukannya, dan bertahun-tahun kemudian dia masih sesekali menyinggungnya di pesta pernikahan orang seolah itu perkara yang belum selesai.
Dia punya satu untukku juga.
Aku menemukannya secara tidak sengaja, dan itu justru yang membuatnya jauh lebih baik.
Aku sedang mengambil ponselnya untuk memotret sesuatu — dia tidak pernah mempermasalahkan itu, laki-laki itu tidak punya satu pun hal di ponselnya yang dia sembunyikan kecuali empat draf yang sudah kutahu keberadaannya — dan waktu layarnya menyala, ada pengingat kalender yang muncul.
04.15 — 2C tiba (CGK, T2)
Aku menatapnya.
“Ga.”
“Iya.”
“Ini apa?”
Dia melihat dari dapur. Dan aku melihat — untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan — telinganya memerah.
“Itu pengingat.”
“Aku tau itu pengingat. ‘2C’ itu siapa?”
Hening empat detik.
“Kamu.”
“Kenapa ‘2C’?”
Dan laki-laki itu berkata, sambil berbalik ke wastafel dan mulai mencuci gelas yang jelas-jelas sudah bersih:
“Kursi 2C-114.”
Aku duduk di kursi makan dengan ponsel di tangan dan tidak bisa bergerak.
Kursi plastik yang goyang di Terminal 2. Yang kududuki empat puluh dua kali selama sembilan bulan, tiga puluh menit setiap kali, sendirian, di kota di mana aku tidak punya siapa-siapa.
Yang nomornya kutemukan dengan berjongkok di lantai bandara di hari kedua kami bicara.
“Kamu nyimpen aku sebagai kursi?”
“Iya.”
“GA.”
“Kamu bertanya, saya jawab.”
“KAMU NYIMPEN AKU SEBAGAI KURSI PLASTIK YANG GOYANG.”
“Kursi itu tidak goyang lagi,” katanya, masih membelakangiku, masih mencuci gelas yang sudah bersih.
Aku berhenti.
“...Hah?”
“Baut kanan belakangnya longgar. Saya kencangkan bulan April.”
Aku pergi ke Terminal 2 minggu berikutnya.
Aku punya transit dua jam — transit normal, yang disusun sistem, yang tidak disentuh siapa pun.
Dan aku berjalan ke koridor itu, ke deretan kursi plastik di dekat papan keberangkatan, dan aku mencari yang paling ujung.
Aku duduk di atasnya.
Tidak goyang.
Aku duduk di kursi yang tidak goyang itu selama satu jam empat puluh menit, di terminal paling ramai di negeri ini, dengan orang-orang lewat menyeret koper ke arah yang berbeda-beda dan pengumuman berbunyi empat kali sekaligus.
Lalu aku berjongkok, memotret nomornya, dan mengirimkannya.
2C-114.
Delapan detik.
Iya.
Makasih ya, Lantai Empat.
Enam detik.
Sama-sama, 2C.
[Jumlah karakter: 6.377]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat reading
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby