← Standby

Chapter Thirty One

Override

POV: Arga Jumlah kata: 1.216


Aku tahu tanggal 22, jam 15.40, dua puluh menit sebelum surel kelulusan dikirim.

Dan aku tahu bagian yang buruk empat menit setelahnya, karena aku yang menulis modul yang menghitungnya.

Dua puluh tiga lulus. Kuota sembilan belas. Empat ditahan.

Aku membuka daftar keempatnya, dan namanya ada di baris ketiga, dan aku menatap layar itu selama waktu yang tidak kuhitung — yang perlu kucatat, karena aku selalu menghitung, dan malam itu adalah satu dari dua kali dalam hidupku aku tidak melakukannya.

CONFLICT DETECTED — resource release blocked. Manual override: available — Level 3 authority required.

Level 3.

Di seluruh perusahaan ini ada tiga orang dengan wewenang Level 3. Satu direktur operasional yang tidak pernah membuka sistemnya. Satu kepala divisi yang wewenangnya administratif.

Dan aku.


Aku ingin menuliskan dengan tepat apa yang terjadi di kepalaku selama enam hari berikutnya, karena kalau tidak, aku akan menyederhanakannya nanti dan menjadikannya cerita yang lebih rapi dari kenyataannya.

Hari pertama aku memperbaiki dua belas bug.

Hari kedua aku menulis dokumentasi untuk modul yang sudah tiga tahun tidak berdokumentasi.

Hari ketiga aku membersihkan seluruh apartemen, termasuk bagian belakang lemari es, yang belum pernah kusentuh sejak pindah.

Aku sudah pernah menjelaskan ini: kalau ada sesuatu di kepalaku yang tidak bisa kuselesaikan, aku mencari hal lain yang bisa, dan menyelesaikannya dengan sangat rapi, terus-menerus, sampai lelah.

Hari keempat aku berhenti bisa melakukan itu.


Ini pertanyaannya, dan aku ingin menuliskannya sejujur mungkin karena aku sempat berbohong pada diriku sendiri soal ini selama dua hari penuh.

Kebohongannya begini: Kalau aku menekan override, aku sedang mengendalikan hidupnya.

Itu kedengaran benar. Itu cocok dengan seluruh yang kupercaya selama sepuluh tahun. Aku bahkan sempat merasa lega waktu menyusunnya — karena kalau itu benar, maka jawabannya jelas, dan aku tidak perlu melakukan apa-apa.

Tidak melakukan apa-apa itu selalu jawaban favoritku.

Hari keempat aku sadar itu bohong.

Karena kalau aku tidak menekan apa pun, sistem tetap memutuskan. Sistem yang aku tulis. Dengan aturan yang aku susun empat tahun lalu, dengan bobot prioritas yang aku tentukan sendiri di suatu Selasa siang di tahun 2022 waktu aku belum pernah mendengar namanya.

Perempuan itu tidak berangkat karena aturan yang kuketik.

Tidak menekan tombol bukan berarti tidak memutuskan.

Itu cuma memutuskan dengan cara yang tidak perlu kutandatangani.

Dan itu — persis itu — adalah hal yang selalu bapakku lakukan.

Bapakku tidak pernah berkata “kamu tidak boleh”. Bapakku menyusun ruangan sedemikian rupa sampai cuma ada satu pintu, lalu berdiri di belakang, lalu merasa lega karena ibuku berjalan ke pintu itu sendiri.

Aku sudah sepuluh tahun bersumpah tidak akan jadi orang yang memberi tahu orang lain apa yang harus dilakukan.

Aku tidak pernah bersumpah tidak akan jadi orang yang membangun ruangannya.


Hari kelima aku menelepon ibuku.

Aku tidak pernah menelepon ibuku. Kami bertukar pesan sekitar dua kali sebulan dan bertemu dua kali setahun dan itu sudah jadi bentuk yang kami berdua terima.

Dia mengangkat di dering kelima dengan suara orang yang sedang di kebun.

“Arga? Kamu sakit?”

“Tidak.”

“Kok telepon?”

Aku tidak tahu bagaimana memulainya, jadi aku memulainya dari tengah, seperti yang selalu kulakukan.

“Bu, kalau Bapak dulu tidak pernah melarang Ibu apa-apa, tapi dia yang menyusun keadaannya sampai Ibu cuma punya satu pilihan yang masuk akal — itu tetap sama saja?”

Hening di seberang. Bunyi sekop diletakkan.

“Nak.”

“Iya.”

“Kamu lagi ngomongin Bapak, apa lagi ngomongin kamu?”

Aku tidak menjawab.

Ibuku menghela napas, dan waktu dia bicara lagi suaranya sudah berubah jadi suara yang tidak pernah kudengar sejak umur delapan belas.

“Ibu jawab yang jujur ya, meskipun kamu nggak bakal suka.”

“Iya.”

“Iya. Sama aja.”

Aku menutup mataku.

“Tapi Nak—“

“Iya.”

“Bapak kamu nggak pernah nanya. Itu bedanya.” Aku mendengar dia duduk. “Kalau kamu udah nanya sama anak itu, dan dia udah jawab, dan kamu ngelakuin apa yang dia jawab — itu bukan ngatur, Ga. Itu namanya nolongin.”

“Gimana kalau saya salah?”

“Ya salah.” Ibuku terdengar hampir tertawa. “Kamu pikir Ibu nggak pernah salah? Nak, kamu ini nunggu ada cara yang seratus persen aman. Nggak ada. Yang ada cuma nanya dulu apa nggak.”


Hari keenam aku membuka sistemnya jam sebelas malam.

Aku menghubunginya dulu — aku ingin mencatat itu, karena itu penting, karena itu satu-satunya bagian dari seluruh urusan ini yang kulakukan dengan benar sejak awal.

Aku bertanya.

Aku bertanya lewat telepon, jam sebelas kurang, dan aku bertanya dengan kalimat yang sudah kususun selama enam hari:

“Alika. Kalau tidak ada satu pun hambatan — kalau sistemnya tidak ada, kalau saya tidak ada, kalau tidak ada satu orang pun yang akan senang atau kecewa — kamu mau berangkat?”

Dan dia diam selama dua detik.

Dua detik. Bukan delapan.

“Iya,” katanya. “Aku mau berangkat, Ga.”

“Baik.”

“Ga—“

“Terima kasih sudah menjawab,” kataku, dan aku menutup teleponnya sebelum dia sempat bertanya apa-apa, karena aku tahu kalau dia bertanya aku akan berhenti.


Aku menulisnya jam sebelas lewat empat puluh.

Aku memperhatikan jamnya waktu selesai, dan aku sempat berhenti karena angkanya sama.

Jam sebelas lewat empat puluh adalah jam aku menghapus dua puluh delapan baris itu, sepuluh bulan sebelumnya, di malam ketiga setelah dia menutup telepon.

Malam itu aku menghapus supaya dia bisa memilih sendiri.

Malam ini aku menulis supaya pilihannya berlaku.

Aku menekan override.

Sistemnya berpikir selama empat puluh satu detik — aku menghitungnya — lalu menyusun ulang empat rotasi, menggeser enam orang, dan mengeluarkan satu baris hijau di layar.

RELEASE APPROVED — crew 44170

Aku menulis catatan perubahannya, dan aku menulisnya jujur, seperti selalu.

`override(release): crew 44170 — long haul base transfer` `alasan: dia sudah ditanya, dan dia menjawab iya.` `catatan: pemegang wewenang punya hubungan pribadi dengan awak terkait. Lihat surat terlampir.`


Suratnya kutulis setelahnya, dan itu memakan waktu jauh lebih lama dari overridenya.

Aku mengirimkannya ke Pak Dimas jam satu pagi.

Dia meneleponku jam tujuh, yang bagi Pak Dimas berarti dia membacanya di kamar mandi dan langsung berpakaian.

“Arga.”

“Selamat pagi, Pak.”

“Kamu ngirim surat pengunduran diri jam satu pagi.”

“Iya.”

“Sama satu override Level 3 di jam yang sama.”

“Sebelas lewat empat puluh, Pak. Overridenya duluan.”

Aku mendengar dia menarik kursi.

“Ga, kamu tau nggak sih nggak ada yang bakal nuntut kamu soal ini? Overridenya sah. Kamu punya wewenangnya. Kamu bahkan nulis alasannya di log, yang mana nggak ada satu orang pun di gedung ini yang pernah baca log kamu.”

“Saya tahu.”

“Terus kenapa resign?!”

Dan aku menjelaskannya, dengan susunan yang sudah kusiapkan, karena aku tahu dia akan bertanya:

“Karena mulai bulan depan, tiap tanggal 20, saya akan menyusun jadwal seribu orang. Dan salah satu dari seribu orang itu adalah orang yang saya sayangi.”

“Ya kan kamu bisa—“

“Saya bisa mengecualikan dia dari modul saya. Saya sudah memikirkannya.” Aku menatap ke luar jendela apartemen lantai enam paling ujung koridor itu. “Tapi saya tetap yang menyusun aturannya. Dan aturannya berlaku untuk sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang yang lain, yang tidak pernah saya tanya apa-apa.”

Hening di seberang.

“Pak, sistem ini adil karena buta. Saya sudah dua kali membuatnya melihat satu orang.”

“Ga—“

“Kedua kalinya benar,” kataku. “Saya tidak menyesal. Saya akan melakukannya lagi.”

Aku menarik napas.

“Itu masalahnya.”


Aku tidak memberitahunya selama sembilan hari.

Bukan karena ingin merahasiakannya. Karena aku sedang menyusun kalimatnya, dan aku belum menemukan yang benar, dan aku sudah belajar dengan cara yang mahal bahwa kalimat yang salah itu susah ditarik.

Yang akhirnya kupakai, sembilan hari kemudian, di lantai depan rak sabun, ternyata cuma empat kata.

Tapi itu bab berikutnya.


[Jumlah karakter: 8.240]