← Standby

Chapter Thirty Three

Empat Draf

POV: Alika Jumlah kata: 1.063


Malam sebelum berangkat, kami tidak tidur.

Bukan karena sedih. Kami sudah menghabiskan tiga minggu terakhir untuk sedih, secara terjadwal, dengan cara yang sangat khas kami berdua — Arga bahkan sempat menyarankan supaya kami mengalokasikan waktu untuk itu, dan aku sempat marah, dan ternyata dia benar.

Malam itu kami tidak sedih.

Malam itu kami di lantai depan rak sabun, jam satu pagi, dengan koperku sudah tertutup di dekat pintu dan seragam baru yang belum pernah kupakai tergantung di gagang lemari.

Sembilan ratus empat puluh satu tempat kosong di rak itu.

“Ga.”

“Iya.”

“Kamu inget nggak yang empat itu?”

Dia berhenti mengelus rambutku.

“Iya.”

“Kamu bilang boleh aku baca kalau aku udah kenal kamu betulan.”

“Iya.”

Aku duduk, memutar badan, dan menatapnya.

“Aku udah kenal kamu betulan belum?”

Dan laki-laki itu memandangku cukup lama — cukup lama sampai aku sempat berpikir dia akan bilang belum — lalu dia mengambil ponselnya dari saku, membuka sesuatu, dan menyerahkannya kepadaku dengan dua tangan.

Seperti orang menyerahkan barang mahal.


Empat berkas. Tanggalnya masih ada.

21 Mei. Malam setelah kami bertemu di terminal. 5 Juni. 9 Juni. 9 Juni. Dua-duanya di hari yang sama.

Aku membuka yang pertama.

Dan aku langsung mengerti kenapa dia tidak mengirimnya.

Itu indah.

Sungguh — itu tulisan paling indah yang pernah kubaca dari siapa pun tentang siapa pun. Kalimatnya rapi. Iramanya benar. Ada satu bagian di tengah tentang bagaimana dia menghitung sesuatu selama sembilan bulan dan tidak pernah menemukan satuannya, dan aku harus berhenti membaca selama beberapa detik.

Yang kedua lebih pendek dan lebih tajam.

Yang ketiga hampir seperti surat.

Yang keempat — yang keempat panjangnya dua ribu kata dan aku membacanya sambil menangis dari paragraf ketiga sampai selesai, dan waktu aku sampai di kalimat terakhirnya aku menutup ponsel itu dan menekannya ke dadaku dan tidak bisa bicara selama satu menit penuh.

“Ga.”

“Iya.”

“Ini bagus banget.”

“Iya. Saya tahu.”

“Kamu tau?”

“Saya sudah membacanya berkali-kali,” katanya, tanpa kesombongan sama sekali, dengan nada orang melaporkan hasil pengukuran. “Kalimatnya benar. Tidak ada yang perlu dihapus lagi.”

“Terus kenapa nggak dikirim?!”

Dan dia berkata hal yang sudah dia katakan sembilan bulan sebelumnya, di parkiran restoran di Kemang, dengan riasanku yang sudah hancur dan sabun Jakarta di telapak tanganku:

“Karena kalau saya kirim, kamu jatuh cinta sama tulisan saya.”

Aku menatapnya.

“Ga, aku udah baca sekarang.”

“Iya.”

“Dan aku udah telanjur jatuh cinta sama kamu duluan.”

Dia diam.

“Jadi udah nggak bahaya lagi,” kataku.

Dan laki-laki itu — yang sudah sembilan bulan aku tidak pernah lihat menangis sekali pun, tidak di parkiran, tidak waktu ibunya bilang apa yang ibunya bilang, tidak waktu dia menekan tombol yang menghancurkan kariernya sendiri — menunduk dan menekan pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk dan tidak bicara selama sebelas detik.

Aku tidak menyebutkannya.

Aku merangkak ke pangkuannya dan memeluk lehernya dan tidak menyebutkannya sama sekali.


Yang tidak dia berikan malam itu adalah yang kelima.

Aku tahu ada yang kelima. Aku memergokinya jam tiga pagi di bulan ketujuh, di lantai depan rak ini juga, dengan layar menyala di kegelapan.

“Ga.”

“Iya.”

“Yang kelima mana?”

Dan dia menutup mulutnya, dan telinganya memerah, dan dia berkata:

“Belum jadi.”

“Udah tujuh bulan.”

“Iya.”

“Ga.”

“Yang ini beda,” katanya.

“Beda gimana?”

Dia menatap rak kayu itu — sepuluh baris, sembilan ratus empat puluh satu tempat kosong, dua belas tahun ke depan.

“Yang empat itu tentang perasaan saya,” katanya. “Perasaan itu milik saya sendiri, jadi saya bisa menulisnya sendiri.”

Dia berhenti.

“Yang kelima ada permintaannya.”


Bandaranya jam sebelas siang.

Terminal 3, keberangkatan internasional, hari Selasa, dan penuhnya minta ampun.

Nesa datang. Kak Vira datang. Bara datang — dengan seragam lengkap karena dia terbang dua jam kemudian, dan dia memelukku sekali dan bilang “jangan lupa balik” dengan nada orang yang benar-benar tidak menyimpan apa pun lagi.

Mama menelepon dari Semarang dan menangis di telepon dan bilang dia bangga, dan aku bilang terima kasih, dan aku tidak bilang bahwa itu pertama kalinya dia mengatakannya soal sesuatu yang tidak dia pilihkan untukku.

Dan Arga berdiri di antara semua itu.

Terminal 3 keberangkatan internasional hari Selasa jam sebelas siang. Ratusan orang. Empat pengumuman berbeda. Antrean yang bergerak ke segala arah sekaligus.

Aku melihat tangan kanannya di sisi paha.

Tidak bergerak.


Aku menariknya menjauh dua puluh menit sebelum masuk.

Ke sudut, ke dekat pilar, ke tempat yang tidak dilewati orang yang menarik troli — dan aku sadar setengah detik kemudian bahwa aku memilih tempat itu tanpa berpikir, karena aku sudah sembilan bulan memilih tempat seperti itu untuknya, karena mataku sekarang melihat ruangan dengan cara yang sama seperti matanya.

“Kamu dari jam berapa di sini?”

“Jam tujuh.”

“Empat jam?”

“Iya.”

“Ga—“

“Saya perlu lebih lama hari ini,” katanya. “Terminal 3 lebih besar dan saya belum punya datanya.”

Aku memegang tangan kanannya dengan dua tangan.

Diam. Hangat. Kering.

Sembilan bulan lalu, di ulang tahunku, jari itu mulai mengetuk di menit kesembilan dan tidak berhenti sampai aku menariknya keluar dari ruangan.

Sekarang dia berdiri di terminal keberangkatan internasional paling padat di negeri ini, empat jam, dan tangannya diam.

“Ga, tangan kamu nggak gerak.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Dan dia berkata, sambil melihat ke bawah ke tangan kami:

“Karena sedang kamu pegang.”


Aku tidak akan menceritakan bagian perpisahannya dengan detail.

Bukan karena tidak penting. Karena tidak ada yang bisa diceritakan.

Kami berdiri di situ. Aku menempelkan dahiku ke bahunya selama empat detik seperti yang sudah kulakukan ratusan kali. Dia tidak bilang jangan pergi, tidak bilang hati-hati, tidak bilang satu pun kalimat yang sudah kusiapkan diriku untuk mendengarnya.

Yang dia bilang cuma:

“Kamu maunya apa?”

Aku tertawa ke bahunya. Menangis juga, tapi tertawa.

“Aku mau berangkat,” kataku.

“Baik.”

“Dan aku mau balik.”

Empat detik.

“Baik,” katanya lagi, dan suaranya pecah sedikit di kata kedua, dan itu satu-satunya bagian dari laki-laki itu yang pecah di seluruh terminal itu hari itu.


Aku masuk ke antrean imigrasi dan tidak menoleh.

Aku sudah memutuskan itu sejak seminggu sebelumnya. Aku tahu kalau aku menoleh aku tidak akan bisa berjalan.

Tapi di ujung antrean, sebelum belokan terakhir, aku berhenti.

Dan aku menoleh.

Dia masih di sana. Di sudut, di dekat pilar, di tempat yang tidak dilewati orang yang menarik troli.

Berdiri sendirian di terminal berisi ratusan orang.

Dan waktu dia melihat aku menoleh, dia mengangkat tangannya — bukan melambai, cuma diangkat, setinggi bahu, dan dibiarkan di situ.

Sembilan bulan dia berdiri di lantai empat dan tidak pernah turun.

Hari itu dia turun, dan yang pergi aku.


[Jumlah karakter: 7.138]