Chapter Six
Itu Bukan Bug
POV: Alika Jumlah kata: 1.321
Aku ingin mencatat, sebelum semuanya berantakan, bahwa dua minggu setelah malam itu adalah dua minggu paling ringan yang pernah kupunya selama empat tahun terbang.
Tidak ada yang berubah di luar. Jadwalku masih gila. Aku masih tidur di jam yang salah dan bangun di jam yang salah. Masih ada penumpang yang menyalahkanku karena cuaca.
Yang berubah cuma satu hal kecil: sekarang aku punya tempat menaruhnya.
Aku bisa turun dari pesawat jam sebelas malam, masuk kamar, dan mengetik “Hari ini ada bapak-bapak marah karena bagasinya nggak muat, terus nyalahin saya, terus turun dari pesawat dia minta foto.” Dan lima menit kemudian ada satu kalimat yang membuat seluruh hal itu berubah bentuk jadi lucu.
Itu saja. Sesederhana itu.
Dan aku, yang selama ini menganggap dirinya baik-baik saja, baru sadar betapa lamanya aku tidak punya tempat menaruh apa-apa.
Kejadiannya hari Selasa.
Aku transit di Cengkareng. Tiga puluh menit, seperti biasa, di kursi 2C-114 yang goyang.
Dan untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, aku duduk di kursi itu dan merasa senang.
Terminal ramai. Ada rombongan haji, ada anak sekolah, ada orang yang menyeret koper terlalu cepat dan menabrak tumit orang lain lalu tidak minta maaf. Papan keberangkatan berkedip. Bau kopi waralaba bercampur bau karpet bandara yang tidak ada bandingannya di dunia.
Aku mengeluarkan ponsel dan memotret kursi itu — bukan bawahnya, seluruhnya — lalu mengirimkannya.
Ini kursi 2C-114. Saya lagi duduk di sini. 30 menit lagi berangkat.
Menit keempat.
Masih goyang?
Masih. Tapi saya udah hafal miringnya ke mana jadi nggak masalah.
Aku mengetik kalimat berikutnya sambil tersenyum, sambil melihat orang-orang lewat, sambil merasa — ini yang bodoh — merasa beruntung.
Eh Arga. Saya mau ngaku sesuatu.
Dulu saya ngamuk-ngamuk soal transit 30 menit ini. Sekarang saya malah ngecek roster tiap tanggal 20 buat mastiin transitnya masih ada.
Bulan ini ada 4 kali. Saya seneng banget waktu liatnya.
Gara-gara Bapak sih. Kalau nggak ada surat pengaduan itu kita nggak bakal kenal.
Jadi makasih ya, sistemnya rusak.
Aku mengirimnya. Aku bahkan menambahkan emotikon, yang jarang sekali kulakukan ke dia karena rasanya seperti memakai warna terang di ruangan yang sengaja dibikin redup.
Lalu aku menunggu.
Empat menit lewat.
Lima.
Tujuh.
Sepuluh.
Aku mengecek sinyal. Penuh. Aku mengecek apakah pesannya terkirim. Terkirim, terbaca.
Dua belas menit.
Lima belas.
Aku masih di kursi itu waktu panggilan boarding awak berbunyi. Aku berdiri, memasukkan ponsel ke saku, dan naik dengan perasaan yang belum punya nama.
Balasannya datang jam sepuluh malam. Aku sudah di kamar hotel di Denpasar, sudah mandi, sudah menunggu selama sembilan jam.
Dan yang datang bukan kalimat.
Yang datang panggilan.
Aku menatap layar berdering itu selama tiga detik penuh sebelum mengangkatnya. Kami tidak pernah menelepon. Sekali, dan itu pun salah sambung.
“Halo?”
Hening. Tapi bukan hening yang sama dengan waktu itu. Yang ini punya bentuk lain. Yang ini bunyi orang yang sudah memutuskan sesuatu dan sedang mengumpulkan tenaga untuk melakukannya.
“Alika.”
Itu pertama kalinya dia menyebut namaku dengan suara.
“Iya?”
Napas. Kursi bergeser.
“Transit tiga puluh menit itu bukan kerusakan sistem.”
“...Iya, Bapak udah pernah bilang. Katanya karena jeda perawatan pesawat—“
“Itu bohong.”
Aku duduk.
“Yang saya tulis di balasan pertama itu tidak salah secara teknis. Jeda perawatan itu ada. Tapi itu bukan alasan transitnya muncul di roster Anda.”
“Terus apa.”
Empat detik.
“Saya.”
Aku ingat detail-detail yang tidak penting dari menit-menit berikutnya. Aku ingat AC kamar itu berbunyi seperti ada yang menggilas kerikil. Aku ingat handuk di bahuku basah dan dingin. Aku ingat aku berdiri, lalu duduk lagi, lalu berdiri lagi.
“Saya yang menempatkannya,” katanya. “Setiap kali sistem menyusun rotasi Anda, saya menyisipkan transit tiga puluh menit di Cengkareng. Sejak bulan Februari.”
Februari.
“Itu... itu sembilan bulan.”
“Delapan bulan tiga minggu.”
“Arga—“ Aku menekan pangkal hidungku. “Kenapa?”
Dan di sinilah dia berhenti paling lama. Bukan empat menit — di telepon, empat menit itu selamanya — tapi cukup lama sampai aku sempat berpikir sambungannya terputus.
“Bulan Februari saya harus ke Cengkareng. Ada pemasangan sistem baru, dan saya satu-satunya yang paham isinya, jadi saya tidak bisa mengirim orang lain.”
“Oke.”
“Saya tidak bisa berada di keramaian.” Diucapkan datar, seperti orang menyebutkan golongan darahnya. “Itu bukan kiasan. Kalau terlalu banyak orang, saya berhenti berfungsi. Saya masih bisa berdiri dan masih bisa bicara kalau ditanya, tapi isi kepala saya berhenti.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Hari itu saya salah menghitung. Saya datang jam empat sore. Terminal 2, hari Jumat.”
Ya Tuhan. Terminal 2, Jumat sore.
“Saya berdiri di dekat pilar selama, saya tidak tahu, mungkin dua puluh menit. Saya tidak bisa maju dan saya tidak bisa mundur karena kedua arah ada orang. Saya tahu itu terdengar konyol.”
“Nggak konyol,” kataku. Suaraku keluar aneh.
“Lalu ada awak kabin yang lewat.”
Aku menutup mata.
“Dia tidak bertanya apa-apa. Dia tidak bilang ‘Bapak kenapa’ atau ‘Bapak butuh bantuan’ — kalau dia bertanya begitu saya tidak akan bisa menjawab dan itu akan lebih buruk. Dia cuma berdiri di sebelah saya, agak di depan, membelakangi saya. Menghadap ke arah orang-orang datang.”
Napasku berhenti.
“Selama kira-kira empat menit. Dia berdiri di situ seperti orang yang sedang menunggu jemputan. Orang-orang jadi memutar sedikit karena ada dia.”
Aku menekan tanganku ke mulut.
“Lalu dia meletakkan botol air di pinggiran pilar, di dekat tangan saya, dan pergi. Tidak menoleh. Tidak menunggu saya bilang terima kasih.”
Hening.
“Saya tidak sempat melihat wajahnya. Saya cuma ingat nomor gerbang tempat dia berjalan, dan jamnya.” Jeda. “Dan saya punya akses ke roster.”
Aku tidak ingat.
Itu bagian yang mengunci tenggorokanku.
Aku benar-benar, sungguh-sungguh, tidak ingat.
Aku mencari di kepalaku — Februari, Terminal 2, Jumat sore, laki-laki di dekat pilar — dan tidak ada apa-apa. Kosong. Tidak ada bayangan, tidak ada wajah, tidak ada botol air.
Karena aku melakukan hal seperti itu setiap minggu. Aku memberi tisu ke ibu-ibu yang menangis di gerbang. Aku berdiri di depan anak kecil yang ketakutan supaya dia tidak kelihatan orang. Aku menaruh air di dekat orang yang pucat dan pergi karena kalau kamu berdiri di situ orangnya akan malu.
Itu bukan kebaikan. Itu refleks kerja.
Aku melakukannya, lupa dalam sepuluh menit, dan pindah ke kota berikutnya.
Dan laki-laki ini membangun sembilan bulan hidupnya di atasnya.
“Arga,” kataku, dan suaraku sudah rusak. “Kamu... kamu nempatin transit itu buat ketemu saya?”
“Tidak.”
“Terus buat apa?!”
“Supaya saya tahu Anda lewat.”
“Apa bedanya—“
“Kantor saya di lantai atas gedung itu. Ada kaca menghadap ke area terminal.” Suaranya benar-benar rata sekarang, seperti orang membaca dokumen. “Kalau Anda transit, saya bisa lihat dari atas bahwa Anda ada di sana dan Anda baik-baik saja. Itu saja.”
“Terus?”
“Tidak ada terus.”
“Terus kamu turun—“
“Saya tidak pernah turun.“
Aku menutup teleponnya.
Aku tidak berteriak. Aku tidak membanting apa pun. Aku cuma menjauhkan ponsel dari telinga, menekan layar merah, dan meletakkannya di kasur seperti barang yang panas.
Lalu aku berdiri di tengah kamar hotel di Denpasar selama entah berapa lama.
Dan inilah yang perlu kucatat dengan jujur, karena kalau aku tidak jujur di sini maka seluruh sisa cerita ini tidak ada gunanya:
Aku marah.
Tapi aku tidak marah karena dia melihatku.
Aku marah karena dia tidak turun.
Sembilan bulan. Empat puluh dua kali. Empat puluh dua kali laki-laki itu berdiri di lantai atas, di balik kaca, melihat ke bawah ke arah seorang perempuan yang duduk di kursi plastik goyang selama tiga puluh menit — sendirian, di tempat yang bukan mana-mana, di kota di mana dia tidak punya siapa-siapa.
Dan empat puluh dua kali dia memutuskan bahwa dia tidak berhak turun.
Aku duduk di lantai, menyandar ke kasur, dan menangis dengan cara yang benar-benar tidak elegan.
Bukan karena aku takut padanya.
Tapi karena selama sembilan bulan aku duduk di kursi itu sambil berpikir tiga puluh menit ini tidak ada gunanya untuk siapa pun — dan ternyata selama itu juga ada satu orang di atasku, empat lantai jauhnya, yang menganggap tiga puluh menit itu adalah bagian terbaik dari bulannya.
Ponselku menyala di kasur. Sekali. Lalu mati lagi.
Aku tidak mengambilnya.
[Jumlah karakter: 8.709]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug reading
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby