Chapter Two
Empat Menit
POV: Alika Jumlah kata: 1.409
Yang tidak pernah ada yang bilang soal pekerjaan ini: kamu tidak pernah benar-benar punya malam.
Kamu punya potongan. Empat jam di Balikpapan, enam jam di Kupang, tiga jam di ruang tunggu awak yang lampunya tidak pernah dimatikan. Kamu tidur di jam yang salah dan bangun di jam yang salah, sampai tubuhmu berhenti bertanya sekarang siang atau malam dan cuma menerima perintah.
Selama empat tahun aku mengisi potongan-potongan itu dengan hal-hal yang berguna. Cuci baju. Setrika seragam. Video call ke Mama yang selalu diakhiri dengan “kapan pulang” yang tidak pernah bisa kujawab.
Bulan itu aku mulai mengisinya dengan sesuatu yang sama sekali tidak berguna.
Aku mulai menunggu.
Awalnya aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku cuma menindaklanjuti pengaduan.
Itu bertahan tiga hari.
Hari keempat, aku mengirim pesan pertama yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan roster.
Pak, kursi yang saya bilang itu ada nomornya. 2C-114.
Aku mengirimnya jam sebelas malam, dari kamar kos di Surabaya, dengan seragam masih tergantung di pintu lemari dan rambut masih bau kabin.
23.05.
Berarti saya benar.
Bapak seneng banget ya kalau bener.
23.10.
Tidak. Saya cuma tidak suka salah.
Bedanya apa??
23.16.
Kalau senang benar, saya akan mencari alasan supaya benar. Kalau tidak suka salah, saya akan mencari tahu apakah saya salah.
Yang kedua lebih berguna.
Aku menatap layar sambil menyisir rambut yang sudah tidak perlu disisir.
Ada orang yang menjawab pertanyaan iseng seperti itu. Ada, tapi sedikit. Kebanyakan orang, kalau kamu tanya “bedanya apa”, akan bilang “ya beda aja” atau tertawa atau mengalihkan pembicaraan.
Laki-laki ini berhenti selama enam menit untuk memikirkannya.
Lima menit. Enam menit. Empat menit. Lima menit lagi.
Dua minggu, dan aku hafal rentangnya seperti aku hafal urutan demo keselamatan.
Aku mulai bisa membaca panjangnya. Kalau balasannya datang di menit keempat, kalimatnya akan pendek — “iya”, “tidak”, “masuk akal”. Kalau menit ketujuh, itu paragraf. Kalau lewat sepuluh menit, itu artinya dia sedang menulis sesuatu yang sebentar lagi akan membuatku menatap langit-langit lebih lama dari yang kurencanakan.
Dan aku mulai kesal.
Bukan kesal yang serius. Kesal yang jenisnya begini: kamu di kamar hotel, sendirian, jam setengah dua belas malam, sudah mengetik satu kalimat yang menurutmu lucu, dan kamu harus menunggu lima menit untuk tahu apakah lucu atau tidak.
Lima menit itu lama. Coba saja. Duduk diam lima menit tanpa melakukan apa-apa sambil menatap satu titik. Lima menit itu bisa dipakai mandi.
Malam itu aku tidak tahan lagi.
Pak. Pak. PAK.
23.41.
Iya.
Kenapa sih Bapak lama banget balesnya. Saya udah ngetik “hehe” doang loh tadi. “Hehe”. Empat huruf. Bapak butuh lima menit buat mikirin balesan dari “hehe”?
Aku mengirimnya, lalu langsung menyesal, karena itu terdengar seperti orang yang terlalu memperhatikan.
Yang memang benar. Tapi tidak perlu dia tahu.
Balasannya datang di menit kesembilan.
Iya. Kadang lebih.
Saya jelaskan, karena sepertinya ini akan terus jadi masalah.
Waktu saya mengetik sesuatu, kalimat pertama yang keluar biasanya bukan yang saya maksud. Itu cuma kalimat yang paling cepat. Biasanya isinya basa-basi, atau lelucon yang tidak lucu, atau sesuatu yang saya tulis supaya saya kelihatan lebih ramah dari saya yang sebenarnya.
Jadi saya hapus. Lalu saya tulis lagi. Yang kedua biasanya lebih jujur tapi terlalu panjang. Saya potong. Yang ketiga biasanya sudah benar.
Itu memakan waktu. Saya tahu ini merepotkan dan saya sudah lama tahu orang tidak suka menunggu.
Tapi saya lebih tidak suka mengirim kalimat yang bukan maksud saya. Kalimat yang salah itu susah ditarik. Orang mengingatnya lebih lama dari yang kita kira.
Kalau Anda mau saya balas lebih cepat, saya bisa. Tapi yang Anda terima nanti bukan saya. Cuma versi saya yang paling cepat.
Aku membacanya sekali.
Lalu aku meletakkan ponsel telungkup di kasur, bangun, ke kamar mandi, mencuci muka tanpa alasan yang jelas, kembali, dan membacanya lagi.
Aku tidak membalas selama dua puluh menit.
Dan di menit keenam belas, dia mengirim satu baris lagi:
Maaf. Itu terlalu panjang. Yang keempat memang selalu kepanjangan.
Ya Tuhan.
Aku cerita ke Nesa dua hari kemudian, di ruang tunggu awak Juanda, sambil dia mengoles pelembap ke tangannya dengan gerakan orang yang sudah melakukannya sepuluh ribu kali.
“Jadi,” katanya, “Kakak chattingan sama orang IT.”
“Bukan orang IT. Orang penjadwalan.”
“Sama aja.”
“Nggak sama.”
“Kak.” Nesa menutup pelembapnya. “Dia laki-laki?”
“Iya kayaknya.”
“Kayaknya?“
“Ya dia belum pernah bilang.”
Nesa menatapku selama tiga detik penuh, lalu memutar badannya menghadapku sepenuhnya, yang di kalangan kami artinya percakapan ini baru saja naik tingkat.
“Kak Alika. Kakak ngobrol tiap malam sama orang yang Kakak nggak tau namanya, nggak tau mukanya, nggak tau umurnya—“
“Umurnya lima puluhan.”
“—Kakak nggak tau umurnya,” lanjut Nesa, “dan yang Kakak tau cuma bahwa dia balesnya lima menit sekali?”
“Empat sampai enam.”
Nesa menutup matanya seperti orang yang sedang berdoa.
“Nes, dia bukan orang aneh.”
“Semua orang aneh mulainya dari ‘dia bukan orang aneh’.”
Aku tertawa dan tidak membantah, karena sebagian dari diriku tahu Nesa benar dan sebagian lagi tidak peduli.
Yang tidak kuceritakan ke Nesa adalah ini: malam sebelumnya aku bangun jam dua pagi tanpa alasan, mengecek ponsel, dan merasa kecewa karena tidak ada apa-apa. Padahal aku sendiri yang tidak mengirim apa-apa.
Kamu tidak bisa menceritakan hal seperti itu ke siapa pun. Kedengarannya bodoh waktu diucapkan.
Minggu ketiga, aku melakukan hal yang, kalau dipikir-pikir sekarang, memang agak kelewatan.
Aku mencatat waktunya.
Bukan kiasan. Aku benar-benar membuat catatan di ponselku, judulnya “PS”, dan setiap kali dia membalas aku menuliskan selisihnya dalam menit dan detik.
Tujuh hari. Enam puluh delapan pesan.
Aku menghitung rata-ratanya di kalkulator, di kamar hotel di Makassar, sambil rambutku masih basah.
Lalu aku mengirimkannya.
Pak, saya udah ngitung. Selama seminggu, rata-rata Bapak bales saya dalam 5 menit 12 detik. Total waktu yang saya habiskan buat nungguin Bapak minggu ini: 5 jam 54 menit.
Bapak berhutang hampir 6 jam hidup saya.
Aku menekan kirim sambil tertawa sendiri, membayangkan bapak-bapak berkumis itu kebingungan di depan komputer tuanya.
Dia membalas di menit kedelapan.
Metodenya kurang tepat.
Aku tersedak air.
EXCUSE ME???
Menit kedua. Cepat sekali. Berarti kalimatnya sudah siap di kepalanya.
Anda menghitung selisih antara pesan Anda dan pesan saya. Tapi Anda tidak selalu membalas langsung. Ada beberapa kali Anda membalas 40 menit kemudian karena sedang terbang.
Jadi yang Anda ukur bukan waktu tunggu Anda. Yang Anda ukur waktu tunggu kita berdua, digabung, lalu dibebankan semuanya ke saya.
Ya kan emang salah Bapak.
Menit ketiga.
Saya hitung ulang pakai data yang sama. Waktu tunggu Anda yang sebenarnya: 3 jam 41 menit.
ITU MASIH BANYAK BANGET.
Menit ketiga lagi.
Iya.
Aku sudah akan mengetik balasan ketika ponselku bergetar sekali lagi. Dan kali ini butuh sebelas menit — rekor terlama sejak malam pertama.
Tapi Anda menghitungnya selama tujuh hari, di enam kota berbeda, sambil bekerja empat belas jam sehari.
Itu bukan hitungan orang yang terganggu.
Aku menatap layar.
Ponselku bergetar lagi. Menit ketiga.
Maaf. Itu kalimat yang seharusnya saya hapus.
Aku mengetik dengan tangan yang, kusadari, agak dingin.
Jangan dihapus.
Menit kelima.
Ya sudah.
Malam itu aku tidak menyalakan TV.
Aku baru sadar setengah jam kemudian, waktu aku bangun untuk minum dan mendapati kamar itu benar-benar sepi, dan aku tidak merasa terganggu sama sekali.
Empat tahun aku tidak bisa tidur di kamar hotel tanpa suara orang. Aku sudah menganggapnya bagian dari diriku, seperti bekas luka di pergelangan tangan kiri, seperti kebiasaan memesan hal yang sama di kota yang berbeda.
Ternyata bukan.
Ternyata aku cuma butuh tahu bahwa ada satu orang di suatu tempat yang, kalau aku mengetik empat huruf jam dua pagi, akan berhenti selama lima menit dua belas detik untuk memikirkan jawabannya.
Aku mengambil ponsel dari meja.
Pak, saya tidur ya.
Aku memejamkan mata sebelum balasannya datang, karena aku tahu balasannya akan datang, dan entah kenapa itu terasa lebih baik daripada membacanya.
Waktu aku mengeceknya besok pagi, jam empat, dengan mata yang belum bisa fokus:
00.14.
Selamat istirahat.
00.19.
Besok Anda terbang jam 9. Masih bisa tidur agak lama.
00.31.
Saya tidak melihat roster Anda untuk itu. Saya sudah hafal.
Dua belas menit untuk kalimat terakhir.
Aku duduk di tepi kasur, di kamar hotel di Makassar, jam empat pagi, dengan alarm masih berbunyi dan seragam belum kupakai, dan aku membaca kalimat itu enam kali.
Saya sudah hafal.
Empat huruf kata terakhirnya. Dan dia butuh dua belas menit untuk memutuskan mengirimnya.
[Jumlah karakter: 9.187]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit reading
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby