Chapter One
Pak Sistem
POV: Alika Jumlah kata: 1.609
Ada tiga hal yang selalu sama di semua kamar hotel di Indonesia: bau pengharum ruangan yang mencoba jadi vanila tapi berakhir jadi permen karet, remote TV yang tombol volumenya sudah tinggal cetakan, dan kasur yang terlalu keras di tiga malam pertama lalu terlalu empuk di malam keempat.
Malam ini malam keempat.
Aku menyalakan TV, menurunkan volumenya sampai satu — bukan nol, satu, karena nol itu sepi dan satu itu ada orang lain di ruangan — lalu berbaring menatap langit-langit sampai jam di ponselku berubah jadi 02.00.
Besok pagi aku terbang jam enam. Yang artinya bangun jam empat. Yang artinya aku sedang membuang dua jam tidur yang tidak akan pernah kembali.
Dan penyebabnya, seperti delapan bulan terakhir, adalah tiga puluh menit.
Begini masalahnya.
Jadwal terbangku bulan ini, seperti bulan-bulan sebelumnya, disusun oleh sesuatu yang di kantor kami disebut roster. Tiap tanggal 20, sistem memuntahkan jadwal seribu awak kabin untuk bulan depan. Siapa terbang ke mana, dengan siapa, pulang jam berapa, tidur di kota siapa.
Tidak ada manusia yang menyusunnya. Ada program.
Dan program itu, entah kenapa, selalu — selalu — menyisipkan transit tiga puluh menit untukku di Cengkareng.
Tiga puluh menit itu jumlah waktu yang paling tidak berguna di dunia. Terlalu pendek untuk keluar bandara. Terlalu pendek untuk tidur. Terlalu panjang untuk cuma berdiri. Kamu turun, kamu berjalan melewati terminal yang penuh manusia yang semuanya mau ke suatu tempat, kamu duduk dua puluh menit di kursi plastik sambil menatap papan keberangkatan, lalu kamu naik lagi.
Delapan bulan. Empat puluh dua kali. Aku menghitungnya.
Nesa bilang aku terlalu memikirkannya. “Kak, itu cuma tiga puluh menit.”
Tapi Nesa punya rumah di Tangerang. Kalau transit di Cengkareng, tiga puluh menit itu artinya dia bisa hampir pulang. Aku tidak punya siapa-siapa di kota itu. Buatku tiga puluh menit itu cuma tiga puluh menit berdiri di tempat yang bukan mana-mana.
Aku duduk. Mengambil ponsel. Membuka portal internal awak — yang tampilannya terakhir kali diperbarui, kutebak, sekitar zaman aku masih SMA.
FORM PENGADUAN SISTEM PENJADWALAN Kategori: (pilih) Deskripsi masalah:
Aku memilih “Lain-lain”, karena tidak ada kategori bernama “sistem ini membenci saya secara pribadi”.
Lalu aku mengetik.
Aku ingin bilang bahwa aku mengetiknya dengan sopan. Aku pramugari. Aku dilatih untuk sopan pada orang yang menumpahkan jus jeruk ke sepatuku lalu menyalahkanku karena pesawatnya goyang.
Tapi ini jam dua pagi, dan formulir ini tidak punya wajah.
Selamat malam.
Saya Alika Rahmania, awak kabin, ID 44170. Selama delapan bulan terakhir roster saya selalu memuat transit 30 menit di CGK — 42 kali, saya hitung sendiri karena tampaknya tidak ada orang lain yang menghitung.
Saya paham sistem menyusun jadwal berdasarkan efisiensi. Saya tidak paham efisiensi macam apa yang menempatkan seorang manusia di kursi plastik selama tiga puluh menit, empat puluh dua kali, tanpa alasan yang bisa saya lihat.
Kalau ini disengaja, saya ingin tahu alasannya. Kalau ini kesalahan, saya ingin tahu kapan diperbaiki.
Terima kasih.
Aku membacanya ulang sekali. Jarinya sempat berhenti di atas tombol Kirim.
Lalu aku mengirimnya, karena jam dua pagi adalah jam di mana semua keputusan buruk terasa seperti keberanian.
Aku meletakkan ponsel di dada. Menatap langit-langit lagi. Suara TV volume satu terdengar seperti orang mengobrol di kamar sebelah.
Besok pagi, pikirku, akan ada balasan otomatis. Terima kasih atas laporan Anda. Tiket Anda telah kami terima dengan nomor referensi tujuh belas digit yang tidak akan pernah Anda pakai.
Ponselku bergetar.
Aku melirik jam. 02.06.
Bukan template.
Itu hal pertama yang kusadari, sebelum aku sempat membaca isinya. Template punya bentuk tertentu — huruf kapital di tempat aneh, sapaan yang terlalu lebar, tanda tangan divisi. Yang muncul di layarku tidak punya satu pun dari itu.
Selamat malam.
Bukan kesalahan. Sistem memang menempatkannya di sana.
Penjelasannya: rotasi Anda dalam delapan bulan terakhir selalu berakhir di rute regional sore, dan pesawat yang menerbangkan rute itu punya jeda perawatan wajib 25 menit di CGK. Sistem tidak menghitung kursi plastik. Sistem menghitung bahwa memindahkan Anda ke rotasi lain akan menggeser empat orang lain, dan tiga di antaranya punya batasan jam terbang yang lebih ketat dari Anda.
Jadi Anda benar. Itu disengaja. Bukan oleh saya secara pribadi, tapi disengaja.
Saya minta maaf. Tiga puluh menit itu memang tidak ada gunanya untuk manusia.
Aku membacanya tiga kali.
Bagian yang membuatku duduk tegak bukan penjelasannya. Penjelasannya masuk akal, dan orang yang menjelaskan sesuatu dengan masuk akal itu banyak.
Yang membuatku duduk tegak adalah kalimat terakhirnya.
Tiga puluh menit itu memang tidak ada gunanya untuk manusia.
Delapan bulan aku memikirkan kalimat itu sendirian di kursi plastik. Dan sekarang ada orang di suatu tempat, jam dua lewat enam menit pagi, mengetiknya untukku seolah dia sudah lama tahu.
Aku mengetik cepat, sebelum sempat berpikir.
Bapak/Ibu siapa ya? Ini bukan CS.
02.11.
Bukan. CS tidak punya akses ke sistem penjadwalan.
Terus kenapa Bapak yang balas jam segini?
02.16.
Karena saya sedang bangun.
Aku menatap layar.
Ada sesuatu yang lucu dari jawaban itu. Bukan lucu ha-ha. Lucu yang bikin kamu mengeluarkan napas lewat hidung sendirian di kamar hotel.
Bapak nggak tidur?
02.21.
Belum.
Ini jam dua pagi.
02.26.
Iya.
Aku menunggu kelanjutannya. Tidak ada.
Dan aku sadar, dengan agak kesal, bahwa aku sedang menunggu.
Aku mulai memperhatikan polanya sekitar balasan kelima.
Lima menit. Lalu lima menit lagi. Lalu enam. Lalu lima.
Selalu di rentang itu. Tidak pernah tiga puluh detik, tidak pernah setengah jam. Seolah ada seseorang yang, tiap kali aku mengirim satu kalimat, berdiri, mengambil air, memikirkan hidupnya, lalu kembali dan mengetik empat kata.
Bapak ngetik pakai satu jari ya?
02.32.
Sepuluh.
Terus kenapa lama banget balesnya??
02.38.
Saya menghapus dulu yang tidak perlu.
Aku menatap kalimat itu lebih lama dari yang seharusnya.
Saya menghapus dulu yang tidak perlu.
Aku memikirkan berapa banyak orang yang tidak melakukan itu. Aku memikirkan penumpang tadi sore yang bicara padaku selama tujuh menit tanpa jeda tentang kenapa maskapai kami buruk, tanpa sekali pun berhenti untuk mempertimbangkan apakah tujuh menit itu perlu.
Lalu aku memikirkan berapa banyak kalimat yang sudah dihapus laki-laki ini malam ini, sebelum yang tersisa sampai ke layarku.
Emang yang nggak perlu itu apa?
02.44.
Kebanyakan.
Sekitar jam setengah tiga aku berhenti berpura-pura akan tidur.
Aku menyalakan lampu kecil di samping kasur, menumpuk dua bantal di belakang punggung, dan duduk seperti orang yang sedang mengobrol dengan tamu — padahal tamunya adalah kotak abu-abu di portal internal maskapai yang tampilannya belum diperbarui sejak aku SMA.
Kami tidak membicarakan hal penting.
Aku menceritakan kursi plastik di terminal 2 yang salah satunya goyang, dan bahwa aku selalu duduk di situ karena semua orang lain menghindarinya, jadi itu satu-satunya kursi yang tidak perlu kubagi.
Dia bertanya kursi nomor berapa.
Aku bilang aku tidak tahu, memangnya kursi ada nomornya.
Dia bilang seharusnya ada, di bawah, dicetak. Lalu enam menit kemudian dia menambahkan bahwa dia mungkin salah, dan bahwa dia tidak pernah benar-benar duduk di kursi terminal.
Bapak nggak pernah duduk di kursi bandara?
02.53.
Tidak.
Bapak nggak pernah naik pesawat??
02.59.
Pernah. Tapi saya berdiri sampai boarding.
Kenapa??
03.04.
Kursi itu ada di tengah. Saya lebih suka sudut.
Aku tertawa. Sendirian. Di kamar hotel di Balikpapan, jam tiga lewat empat menit pagi, dengan TV volume satu masih menyala dan alarm yang akan berbunyi lima puluh enam menit lagi.
Bapak aneh.
03.10.
Iya.
Aku menyimpan kontaknya sebelum tidur.
Portal itu memberi nama pengirim balasan sebagai `sys.rostering.02` — yang, sebagai nama manusia, sama sekali tidak membantu.
Jadi aku mengetik sendiri di kolom nama:
Pak Sistem
Dan di kepalaku, tanpa bisa kucegah, terbentuk gambar yang cukup jelas: bapak-bapak sekitar lima puluh tahun, kumis tipis, kemeja lengan pendek kotak-kotak yang dimasukkan ke celana, kacamata baca melorot, duduk di ruangan penuh komputer tua sambil minum kopi sachet. Punya termos. Punya foto cucu di meja. Tidak tidur jam dua pagi karena bapak-bapak umur segitu memang tidak tidur jam dua pagi, mereka bangun jam dua pagi.
Aku mengetik satu pesan terakhir.
Pak, saya tidur ya. Besok terbang jam 6.
Aku sudah meletakkan ponsel di meja saat layarnya menyala lagi.
03.16.
Jam 6 dari Balikpapan. Sepang jam 07.40, transit, lalu Surabaya.
Aku menatapnya.
Aku belum bilang aku di Balikpapan.
Kok Bapak tau?
03.22.
Saya bisa lihat roster Anda.
Oh. Ya. Tentu saja. Dia orang penjadwalan. Itu memang pekerjaannya. Itu, secara harfiah, seluruh isi pekerjaannya.
Aku merasa bodoh selama kira-kira dua detik.
Lalu ponselku menyala lagi, dan kali ini cuma butuh empat menit — yang, dari yang sudah kupelajari malam itu, berarti kalimatnya lebih pendek dari biasanya, atau lebih sedikit yang dihapus.
03.26.
Selamat istirahat. Jangan lupa minum sebelum tidur, penerbangan pagi bikin dehidrasi.
Dan maaf soal tiga puluh menitnya.
Aku membalas iya, makasih Pak, mematikan lampu, dan tidur empat puluh menit sebelum alarm berbunyi.
Di pesawat pagi itu aku bekerja seperti biasa. Senyum, demo keselamatan, trolley, “kopi atau teh, Bapak?”, seorang anak yang menumpahkan susu, seorang ibu yang minta maaf tujuh kali padahal tidak perlu.
Dan di Cengkareng, saat aku turun untuk tiga puluh menit yang tidak berguna itu, aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan selama delapan bulan.
Aku berjongkok di depan kursi plastik yang goyang itu, memiringkan kepala, dan melihat ke bawahnya.
Ada nomornya. Dicetak kecil di besi, sudah pudar, tapi ada.
2C-114.
Aku memotretnya.
Aku tidak mengirimnya ke siapa-siapa. Belum. Aku cuma berdiri, membersihkan lutut celanaku, dan duduk di kursi itu dengan perasaan aneh yang butuh waktu lama sekali untuk kukenali — dan waktu aku akhirnya mengenalinya, sudah terlambat untuk apa pun.
Perasaan itu begini:
Untuk pertama kalinya dalam delapan bulan, tiga puluh menit itu terasa terlalu cepat.
[Jumlah karakter: 8.412]
- 1 Pak Sistem reading
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby