← Standby

Chapter Fourteen

Bekas Luka

POV: Alika Jumlah kata: 1.057


Ada bekas luka kecil di pergelangan tangan kiriku.

Panjangnya mungkin dua sentimeter, agak melengkung, warnanya lebih terang dari kulit di sekitarnya. Kena sudut trolley di tahun pertama — trolley itu meluncur waktu pesawat masuk turbulensi dan aku menahannya dengan tangan yang salah.

Aku ingat aku menangis di galley waktu itu, bukan karena sakit tapi karena malu.

Empat tahun.

Dan selama empat tahun itu, tidak ada satu pun foto diriku yang memperlihatkannya.

Bukan kebetulan. Waktu pemotretan iklan, penata riasnya menutupinya dengan alas bedak sebelum aku sempat bertanya. Dia melakukannya begitu saja, cepat, profesional, sambil bicara dengan orang lain — seperti orang menghapus salah ketik.

Sejak itu aku ikut menutupinya. Jam tangan di kiri. Lengan seragam yang panjang. Kalau berfoto, tangan kiri di belakang.

Jadi begini kesimpulannya, dan aku baru menyusunnya malam itu di apartemen lantai enam paling ujung koridor:

Bekas luka itu satu-satunya bagian dari tubuhku yang tidak pernah dilihat siapa pun.


Malam itu jam sepuluh lewat. Aku masih berseragam.

Aku memang belum ganti sejak turun — aku langsung ke sana dari bandara, dan begitu masuk aku langsung terkapar di sofa dan tidak bangun-bangun lagi.

Dia duduk di lantai, menyandar ke sofa, laptopnya di paha, mengerjakan sesuatu yang tidak kutanyakan.

Aku menonton punggung kepalanya selama entah berapa lama.

“Ga.”

“Iya.”

“Tangan aku pegel.”

“Yang mana?”

“Dua-duanya.”

Dia menutup laptop, meletakkannya di lantai, dan berbalik menghadapku.

Lalu, tanpa bertanya apa-apa, dia mengambil tangan kananku dan mulai menekan telapaknya dengan ibu jari.

Aku ingat aku sempat berpikir: dia nggak tanya boleh atau nggak. Dan aku ingat pikiran kedua yang datang setengah detik setelahnya: tapi dia nggak pernah nggak tanya soal apa pun.

Aku mengerti belakangan.

Dia tidak bertanya karena aku sudah bilang. Aku bilang tanganku pegal. Buat dia itu bukan basa-basi, itu data.

Tiga menit. Tangan kanan.

Lalu dia melepasnya dan meraih yang kiri.

Dan aku — refleks, tanpa berpikir, seperti yang sudah kulakukan ribuan kali selama empat tahun — menarik tanganku sedikit dan memutar pergelangannya supaya bagian yang itu menghadap ke bawah.

Dia berhenti.

Kami berdua diam.

“Kenapa?” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Alika.”

“Nggak apa-apa, Ga. Serius.”

Dia tidak memaksa.

Itu yang membuatku menyerah, sebenarnya. Kalau dia memaksa, aku akan punya alasan untuk marah dan mengalihkan pembicaraan. Tapi dia cuma melepaskan tanganku dan menunggu, dan menunggunya tidak menuntut apa-apa.

Aku menghela napas.

Lalu aku memutar pergelanganku sendiri dan menyodorkannya.

“Ini,” kataku. “Jelek kan.”


Dia melihatnya.

Bukan melirik. Melihat, benar-benar, dengan cara yang sama seperti waktu dia melihat denah bandara atau layar penuh angka. Kepalanya miring sedikit.

Dan yang dia katakan pertama kali adalah:

“Dari apa?”

Aku mengerjap. “Hah?”

“Bekas lukanya. Dari apa?”

“...Trolley. Tahun pertama. Turbulensi, aku nahan pakai tangan ini.”

“Berapa lama sembuhnya?”

“Dua minggu?”

“Kamu tetap terbang selama dua minggu itu?”

“Ya iya.”

Dia mengangguk pelan.

Dan aku menunggu.

Aku menunggu kalimat yang selalu datang. Aku sudah hafal bentuknya. Ah nggak keliatan kok. Atau nggak jelek ah. Atau — yang paling sering, dan paling membuatku ingin menghilang — bisa dihilangin loh sekarang, ada lasernya.

Empat tahun. Semua orang, tanpa kecuali, memilih salah satu dari tiga.

Dia tidak mengatakan apa pun dari ketiganya.

Dia mengangkat pergelangan tanganku sedikit, mendekatkannya, dan menciumnya.


Tepat di situ.

Bukan di punggung tangan. Bukan di jari. Di bekas lukanya, di garis dua sentimeter yang melengkung itu, yang tidak pernah masuk ke dalam satu pun foto yang pernah diambil orang tentangku.

Bibirnya kering dan hangat dan dia berhenti di situ lebih lama dari yang perlu.

Aku berhenti bernapas.

Waktu dia mengangkat wajahnya, kacamatanya melorot dan dia tidak membenahinya, dan matanya untuk sekali ini tidak turun ke bawah-kiri.

“Ini bagian dari kamu yang bekerja,” katanya.

Suaraku hilang.

“Yang lain-lain itu—“ Dia berhenti, mencari kata, dan aku bisa melihat dia menghapus dua atau tiga pilihan di dalam kepalanya. “Yang lain-lain itu sudah ada sebelum kamu melakukan apa-apa.”

Aku menutup mata.

“Yang ini kamu dapat.”


Aku menciumnya duluan.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena nanti kalau ada yang bertanya aku ingin ceritanya benar.

Aku menariknya dari kerah kemejanya — sedikit terlalu kasar, karena tanganku gemetar — dan menciumnya, dan dia membeku selama tiga detik seperti yang selalu dia lakukan.

Tiga detik itu terasa seperti setengah jam.

Lalu tangannya naik ke sisi wajahku, dan dia membalasnya.

Pelan. Sangat pelan, seperti orang yang sedang melakukan sesuatu yang mahal untuk pertama kalinya dan takut merusaknya. Satu tangannya masih memegang pergelangan tangan kiriku, ibu jarinya di atas bekas luka itu, dan dia tidak melepaskannya sama sekali.

Aku merasakan dia menarik napas lewat hidung, sekali, tertahan.

Waktu kami berhenti, dahinya menempel ke dahiku dan kacamatanya sudah miring sepenuhnya dan kami berdua tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

Lalu dia berkata, dengan suara yang sama sekali tidak stabil:

“Itu bukan perhitungan yang bagus.”

“Apanya?”

“Saya memperkirakan ini akan terjadi bulan depan.”

Aku tertawa ke lehernya sampai bahuku berguncang.


Aku ketiduran empat puluh menit kemudian.

Masih berseragam. Rok masih rapi, sanggul masih separuh, satu sepatu masih di kaki karena aku terlalu malas melepas yang kedua.

Aku ingat kepalaku di pahanya. Aku ingat tangannya di rambutku, tidak bergerak. Aku ingat bunyi kulkas di dapur dan lampu meja kerjanya yang masih menyala di pojok.

Lalu tidak ada apa-apa lagi.

Aku bangun jam empat pagi karena leherku kaku.

Ruangan gelap kecuali lampu meja. Ada selimut di badanku yang aku tidak ingat ada di sana. Sepatuku sudah dilepas dua-duanya dan diletakkan sejajar di lantai dekat sofa.

Dan Arga duduk di lantai, punggung ke sofa, kepalanya bersandar ke bantalan di sebelah pahaku.

Matanya terbuka.

“Ga?”

“Iya.”

“Kamu belum tidur?”

“Belum.”

Aku bangun setengah duduk. “Jam empat, Ga.”

“Iya.”

“Kenapa nggak pindah ke kamar?”

Dan dia berkata — dengan nada orang yang menyebutkan hal paling biasa di dunia, tanpa satu gram pun rasa berkorban, yang justru itulah yang membuatku ingin menangis lagi:

“Kepala kamu di sini. Kalau saya bangun, bahunya bergeser.”


Aku menariknya naik ke sofa.

Dia menolak dua kali dengan alasan teknis — sofanya terlalu sempit, dia akan jatuh, dan dia sudah menghitung lebarnya (satu meter enam puluh, katanya, dan aku bersumpah dia benar-benar tahu angkanya).

Aku menariknya lagi dan dia naik.

Sofa itu memang terlalu sempit. Kami berdua hampir jatuh dua kali. Kakinya menggantung di ujung dan sikuku menekan tulang rusuknya dan itu sama sekali tidak nyaman.

Dan aku tidur enam jam penuh — tanpa TV, tanpa suara orang, tanpa mengecek jam sekali pun.

Enam jam. Rekor empat tahun.


[Jumlah karakter: 7.205]