← Standby

Chapter Fifteen

Timbangan

POV: Alika Jumlah kata: 1.096


Pagi pertama aku bangun di apartemen itu, aku menemukan bahwa laki-laki yang kupacari punya upacara.

Aku turun dari sofa jam sepuluh dengan rambut yang tidak bisa dijelaskan dan seragam yang sudah kuganti dengan kaus miliknya yang kepanjangan tiga puluh sentimeter, dan aku berdiri di ambang dapur dan menonton.

Dia menaruh gelas takar di atas timbangan digital. Menekan tombol tara. Menunggu sampai angkanya nol.

Menuang biji kopi. Pelan. Berhenti di angka delapan belas koma dua.

Mengeluarkan dua biji dengan jari.

Delapan belas koma nol.

“Ga.”

Dia tidak menoleh. “Iya.”

“Kamu barusan ngeluarin dua biji kopi pakai tangan.”

“Iya.”

“Bedanya nol koma dua gram.”

“Iya.”

“Itu—“ Aku mencari kata. “Itu bahkan nggak keliatan sama lidah manusia.”

Dia menuang biji itu ke penggiling, menutupnya, dan baru kemudian berbalik.

“Bukan soal terasa,” katanya. “Kalau saya membiarkan nol koma dua, besok saya akan membiarkan nol koma lima. Minggu depan saya akan mengira-ngira. Dan bulan depan saya tidak akan tahu lagi kopi yang enak itu yang seperti apa, karena tidak ada lagi yang tetap.”

Aku bersandar ke kusen pintu.

“Variabel tetap,” kataku.

Dia berhenti sebentar.

“Iya,” katanya. “Kamu ingat.”

“Ya iyalah aku inget.”


Aku merusaknya di hari ketiga.

Aku tidak akan berbohong dan bilang itu tidak sengaja, karena itu sengaja.

Aku bangun lebih pagi darinya — ini hampir tidak pernah terjadi, karena laki-laki itu tidur jam empat dan bangun jam sepuluh seperti makhluk nokturnal — dan aku ke dapur, dan aku melihat timbangan itu di sana, dan sesuatu di dalam diriku yang berumur enam tahun mengambil alih.

Aku menuang biji kopi sampai angkanya dua puluh tiga koma tujuh.

Lalu aku kembali ke kamar dan berpura-pura tidur.

Dia bangun empat puluh menit kemudian. Aku mendengarnya ke dapur. Aku mendengar timbangan berbunyi klik.

Lalu hening.

Hening yang panjang.

Aku menahan tawa dengan bantal sampai mataku berair.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah — tidak ada apa-apa.

Tidak ada suara protes. Tidak ada dia memanggil namaku. Aku mendengar gelas takar diangkat, biji dituang balik ke wadah, timbangan di-tara ulang, dan seluruh proses diulang dari awal.

Delapan belas koma nol.

Penggiling menyala.

Aku keluar dari kamar dengan wajah yang berusaha lugu.

“Pagi.”

“Pagi.”

“Kopimu gimana?”

“Baik.”

Aku duduk di kursi dan menopang dagu.

“Nggak ada yang aneh?”

Dia menuang air panas dengan gerakan memutar yang pelan sekali. “Ada.”

“Apa?”

“Ada dua puluh tiga koma tujuh gram kopi di gelas takar tadi pagi.”

“Ooh.” Aku memiringkan kepala. “Kok bisa ya.”

Dia menaruh tekonya. Berbalik. Menatapku.

Dan berkata, dengan nada paling datar yang bisa dihasilkan manusia:

“Karena kamu bangun jam setengah delapan, ke dapur selama satu menit empat puluh detik, dan kembali ke kamar. Lantai depan dapur itu berbunyi.”

Aku menutup mulut.

“Terus kenapa kamu diem aja?!”

“Karena kamu sedang senang.”


Aku mengulanginya setiap pagi setelah itu.

Setiap. Pagi.

Dan setiap pagi dia menuang balik, men-tara ulang, dan mengukur dari awal — tanpa berkomentar, tanpa mengeluh, tanpa sekali pun memintaku berhenti.

Sampai pagi kelima, waktu aku ke dapur dan menemukan timbangan itu sudah menunjukkan angka.

23,7.

Sudah diisi. Semalam. Sebelum aku bangun.

Ada kertas kecil di sebelahnya, tulisan tangan yang kaku dan agak miring ke kiri:

Supaya kamu tidak perlu bangun pagi-pagi.

Aku berdiri di dapur itu sendirian jam setengah delapan pagi sambil memegang secarik kertas dan mengeluarkan bunyi yang benar-benar memalukan.


Delapan belas jam layover berakhir dengan cara yang aku tidak siap.

Aku berdiri di depan pintu dengan koper, seragam sudah rapi lagi, sanggul sudah kembali, dan aku berubah dari perempuan yang mencuri biji kopi jadi Alika Rahmania, awak kabin, ID 44170.

Dia berdiri di ambang pintu dengan tangan di saku.

“Jam sepuluh berangkat,” kataku.

“Iya.”

“Nanti aku ke Makassar, terus Ternate, terus balik Surabaya.”

“Iya.”

Aku menunggu.

Aku menunggu dia bilang sesuatu. Hati-hati. Atau kabarin kalau udah nyampe. Atau — yang sebenarnya kutunggu, yang aku bahkan belum sadar aku menunggunya — jangan lama-lama.

Dia bilang: “Hati-hati.”

Dan itu saja.

Aku tersenyum, mencium pipinya, dan pergi.

Di lift aku memikirkan sesuatu yang membuatku sedikit tidak enak, dan aku mendorongnya jauh-jauh karena aku sedang bahagia dan aku tidak mau merusaknya.

Pikirannya begini:

Dia nggak pernah minta apa-apa.

Bukan sekali. Bukan dalam tiga hari itu, bukan dalam tiga bulan sebelumnya. Tidak sekali pun laki-laki itu berkata aku mau, atau kamu jangan, atau bisa nggak kamu.

Aku memutuskan itu artinya dia sangat baik.

Aku salah, dan aku baru tahu berbulan-bulan kemudian, dan waktu itu hampir menghancurkan kami berdua.

Tapi itu nanti.


Di ruang tunggu awak, Nesa menyerbuku sebelum aku sempat duduk.

“KAK.”

“Nes—“

“Kakak tiga hari nggak bales chat aku.”

“Aku bales kok.”

“Kakak bales ‘iya’ doang. Dua kali. Dalam tiga hari.” Nesa menatapku dengan mata menyipit. “Kak Alika ke mana aja.”

“Jakarta.”

“Ngapain.”

“Layover.”

“Delapan belas jam?”

“Iya.”

“Di mana?”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

Nesa berteriak cukup keras sampai dua kru dari batch lain menoleh.

“Nes—“

“KAK ITU KAN—“

“NESA.”

Dia menutup mulutnya sendiri dengan dua tangan, matanya membesar, lalu dia duduk di sebelahku dan berbisik dengan intensitas orang yang membicarakan rahasia negara: “Apartemennya gimana?”

“Ada tiga gelas.”

“Hah?”

“Tiga gelas. Satu buat kopi, satu buat air, satu dia beli minggu lalu.”

Nesa menatapku.

“Buat siapa gelas ketiga?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak perlu menjawab.

Nesa menyandarkan punggungnya ke kursi dan mengeluarkan napas panjang, dan waktu dia bicara lagi suaranya sudah berbeda — lebih pelan, tanpa tanda seru.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak keliatan capek.”

“Aku emang capek, Nes. Aku baru turun.”

“Bukan itu.” Dia menoleh. “Kakak keliatan capek yang enak.”

Aku menatap ke depan, ke papan keberangkatan yang berkedip, ke ratusan orang yang menyeret koper ke arah yang berbeda-beda.

“Iya,” kataku.


Malam itu aku di hotel di Makassar.

Aku masuk kamar, menaruh koper, dan berjalan ke wastafel untuk mengambil sabunnya.

Lalu aku berhenti.

Aku memandangi sabun itu cukup lama — kertas putih, huruf emas, sama seperti ratusan yang lain di laciku.

Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku tidak mengambilnya.

Aku meninggalkannya di sana, di pinggiran wastafel, dan aku ke kasur dan mengetik.

Ga, aku udah nyampe.

Sembilan detik.

Bagus.

Aku nggak ngambil sabunnya.

Dua belas detik.

Kenapa?

Aku menatap layar cukup lama sebelum menjawab, karena aku baru menyusun alasannya sendiri sepuluh detik sebelumnya.

Karena aku nggak butuh bukti kalau aku pernah ada di sini.

Ada satu orang yang tau aku di mana tiap malam.

Balasannya butuh dua menit lima puluh detik.

Yang, di dunia kami yang baru, di mana segalanya sekarang sepuluh detik, adalah jeda yang sangat panjang.

Iya.

Saya tahu.

Dan aku tidur di kamar hotel di Makassar tanpa menyalakan TV, untuk kedua kalinya dalam empat tahun.


[Jumlah karakter: 7.289]