Chapter Eleven
Saya Tidak Bisa Mengetiknya
POV: Alika Jumlah kata: 1.208
Kami di parkiran itu selama dua puluh menit lagi.
Aku masih duduk di kap mobil orang. Dia masih berdiri, satu meter, tangan di saku. Dari dalam restoran musik berganti dua kali dan ada yang tertawa terlalu keras dan seseorang menjatuhkan sesuatu yang pecah.
Napasnya sudah kembali normal. Aku memperhatikan itu tanpa bermaksud memperhatikan — cara bahunya turun sedikit demi sedikit, cara dia berhenti berdiri terlalu tegak.
“Kamu udah baikan?” tanyaku.
“Sebentar lagi.”
“Butuh berapa lama?”
Dia berpikir. Benar-benar berpikir, seperti aku baru saja menanyakan hal teknis.
“Kalau lebih dari tiga orang sekaligus, biasanya dua jam sendirian. Tapi ini berbeda.”
“Beda kenapa?”
“Karena kamu di sini.” Dia mengatakannya persis dengan nada orang menyebutkan suhu ruangan. “Jadi tidak sepenuhnya sendirian, tapi juga tidak ramai. Saya belum punya datanya untuk kondisi ini.”
Aku menahan tawa dengan tangan.
“Belum punya datanya,” ulangku.
“Iya.”
“Arga, kamu tuh ya.”
“Iya.”
Lalu aku melakukan hal yang, kalau dipikir-pikir, memaksa segalanya terjadi malam itu.
Aku tidak merencanakannya. Aku cuma capek dan senang dan riasanku sudah hancur dan aku sedang duduk di kap mobil orang asing sambil memegang sabun.
“Ga.”
Dia mengangkat wajah. Itu pertama kalinya aku memotong namanya jadi satu suku kata, dan aku bisa melihat dia mendaftarkannya di suatu tempat di kepalanya.
“Kamu ke sini malem ini tuh maksudnya apa sih.”
Empat detik. Lima. Enam.
Tangannya keluar dari saku. Dia mengambil ponsel.
Dan aku — karena aku sudah kenal orang ini dua bulan, karena aku sudah hafal kebiasaannya, karena aku sudah tahu persis bahwa laki-laki ini selalu lebih fasih di layar daripada di mulut — langsung tertawa kecil dan berkata:
“Ya udah, chat aja. Aku tungguin.”
Aku bercanda.
Aku benar-benar bercanda.
Dia menatap ponsel itu di tangannya selama, mungkin, delapan detik.
Lalu dia memasukkannya kembali ke saku.
“Saya sudah menulisnya,” katanya.
Aku berhenti tersenyum.
“Empat kali.” Dia menatap aspal. “Yang pertama dua minggu lalu, malam setelah kita ketemu di terminal. Yang kedua lima hari lalu. Yang ketiga dan keempat kemarin, dua-duanya.”
“Arga—“
“Semuanya bagus.” Dia mengatakannya tanpa nada bangga sama sekali, seperti orang melaporkan hasil pengukuran. “Saya sudah membacanya berkali-kali. Kalimatnya benar. Tidak ada yang perlu dihapus lagi. Kalau saya kirim salah satu dari empat itu, kamu akan—“
Dia berhenti.
“Kamu akan bilang iya,” katanya. “Saya cukup yakin.”
Aku tidak bisa bernapas dengan benar.
“Terus kenapa nggak dikirim?”
Dan di sinilah dia berhenti paling lama sepanjang malam. Dua belas detik. Aku menghitungnya, karena aku memang sudah jadi orang yang menghitung.
“Karena kalau saya kirim,” katanya, “kamu jatuh cinta sama tulisan saya.”
Dia mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya malam itu, matanya tidak turun ke bawah-kiri.
“Bukan sama saya.”
Aku ingin mencatat, dengan sejujur-jujurnya, bahwa apa yang dia ucapkan setelah itu tidak bagus.
Aku sudah membaca ribuan kalimat dari laki-laki ini. Paragraf jam dua pagi yang membuatku menatap langit-langit. Penjelasan tentang sabun hotel yang membuatku menangis di Kupang. Satu kalimat tentang sumber primer dan sumber sekunder yang akan kuingat sampai mati.
Yang keluar dari mulutnya di parkiran itu bukan salah satu dari itu.
Yang keluar itu berantakan.
“Saya—“ Berhenti. “Bulan Februari, waktu di terminal itu. Saya tidak—“
Berhenti. Menarik napas.
“Sembilan bulan saya melihat dari atas dan itu sebenarnya bukan karena saya sopan. Saya sudah bilang saya tidak turun karena saya tidak berhak. Itu benar. Tapi itu bukan seluruhnya.”
Tangannya keluar-masuk saku.
“Yang sebenarnya, kalau saya turun, saya harus—“ Berhenti lagi. Lebih lama. “Kalau saya di atas, saya bisa terus begitu. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang bisa bilang tidak.”
Suaranya pecah sedikit di kata terakhir dan dia berdehem, keras, seperti orang yang marah pada tenggorokannya sendiri.
“Ini tidak seperti yang saya tulis,” katanya, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia terdengar putus asa. “Yang saya tulis jauh lebih baik dari ini. Saya minta maaf.”
“Ga—“
“Saya suka sama kamu.” Cepat, hampir tabrakan, seperti orang melempar sesuatu sebelum sempat mengubah pikiran. “Sudah lama. Sebelum kamu tahu saya ada. Dan saya tahu itu tidak adil karena kamu baru dua bulan dan saya sudah sembilan, jadi kalau kamu—“
“Arga.”
“—kalau kamu perlu waktu itu masuk akal, saya sudah menghitungnya, secara statistik memang—“
“Arga.“
Dia berhenti.
Aku turun dari kap mobil itu.
Dan inilah yang perlu kutulis sekarang, karena aku sudah menundanya sepanjang malam, karena kalau tidak kutulis sekarang aku tidak akan pernah bisa menjelaskan kenapa aku menjawab secepat itu.
Nesa akan bilang aku gila. Dua bulan. Chat. Satu kali ketemu tiga jam di bandara.
Tapi begini.
Aku sudah empat tahun jadi orang yang dilihat semua orang dan tidak dikenal siapa pun, dan laki-laki ini punya namaku selama sebulan penuh dan tidak pernah sekali pun mencariku, karena aku sedang bicara dan itu sudah cukup.
Aku sudah dua puluh enam tahun jadi orang yang dipilihkan — jurusan, pekerjaan, wajah di baliho, kota tempat aku bangun besok pagi — dan laki-laki ini punya kuasa paling harfiah atas semua itu, dua puluh delapan baris kode, dan hal pertama yang dia lakukan adalah menghapusnya supaya aku bisa memilih sendiri.
Dan malam ini dia berdiri empat puluh menit di ruangan berisi dua puluh dua orang, dan dua puluh menit di lobi hotel yang tidak dia inapi, dan sekarang dia sedang menolak mengirim empat kalimat sempurna yang sudah jadi di ponselnya — memilih cara yang paling menyakitkan buat dirinya sendiri — supaya yang kujawab adalah dia, bukan tulisannya.
Aku tidak menerima orang asing.
Aku menerima orang yang sudah membuktikan, berkali-kali, tanpa satu kali pun menyebutnya sebagai pengorbanan, bahwa dia bersedia rusak sedikit untukku.
Itu yang kupikirkan.
Yang kuucapkan cuma:
“Iya.”
Dia mengerjap.
“...Iya?”
“Iya, Ga.”
“Kamu belum dengar—“
“Aku udah denger semuanya.”
Dia berdiri di situ dengan tangan setengah keluar dari saku, kacamata melorot, dan wajah orang yang baru saja menerima hasil perhitungan yang tidak sesuai dengan modelnya.
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Kamu tidak mau waktu?”
“Nggak.”
“Karena secara statistik dua bulan itu—“
Aku maju satu langkah dan memeluknya.
Dia membeku. Tiga detik penuh — aku menghitungnya, aku selalu menghitung sekarang — tiga detik dengan tangan masih di udara dan badan sekaku papan.
Lalu tangannya turun ke punggungku.
Pelan sekali. Seperti orang meletakkan sesuatu yang mahal.
Dan setelah itu dia tidak bergerak sama sekali.
Kami berdiri di parkiran itu untuk waktu yang aku tidak hitung, satu-satunya hal yang tidak kuhitung sepanjang malam.
Dari dalam, dua puluh dua orang masih merayakan ulang tahun seseorang yang tidak ada di ruangan.
“Ga.”
“Iya.”
“Yang empat itu.”
Aku merasakan dia menarik napas di atas kepalaku.
“Boleh aku baca?”
Jeda panjang.
“Belum,” katanya.
“Kapan?”
“Saya belum tahu.” Tangannya bergerak sedikit di punggungku, satu kali, seperti orang yang baru sadar boleh. “Nanti kalau kamu sudah kenal saya betulan. Supaya kamu bisa membacanya sebagai tulisan orang yang kamu kenal, bukan sebagai alasan.”
Aku menekan dahiku ke bahunya dan tidak menjawab.
Ternyata dia menyimpannya cukup lama.
Ternyata aku baru membaca keempatnya jauh sekali setelah malam itu — di hari yang sama sekali berbeda, di ruangan yang sama sekali berbeda, waktu semuanya sudah nyaris terlambat.
Tapi itu nanti.
Malam itu, di parkiran restoran di Kemang, jam sembilan lewat dua puluh, aku cuma perempuan berumur dua puluh enam tahun yang memegang sabun hotel Jakarta di satu tangan dan punggung kemeja seseorang di tangan yang lain.
Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang memilihkannya untukku.
[Jumlah karakter: 8.118]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya reading
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby