← Standby

Chapter Twelve

Sepuluh Detik

POV: Alika Jumlah kata: 1.021


Aku bangun jam sebelas siang keesokan harinya dengan riasan yang belum dibersihkan dan sabun hotel Jakarta masih di genggaman tangan kananku.

Aku tidak bercanda. Aku tidur sambil memegangnya.

Tanganku kaku dan ada cetakan huruf emas di telapakku, dan aku berbaring di situ selama sepuluh menit menatap langit-langit kamar kos sambil menyusun ulang seluruh malam sebelumnya untuk memastikan bahwa itu terjadi.

Lalu aku mengambil ponsel.

Dan di situlah aku menghadapi masalah pertama sebagai orang yang punya pacar sejak dua belas jam lalu:

Aku harus mengetik apa.

“Selamat pagi” terlalu biasa. “Ga” saja terlalu sedikit. Semua yang lebih dari itu terasa seperti mencoba terlalu keras, dan aku sudah menghabiskan empat tahun hidupku tidak mencoba terlalu keras pada siapa pun.

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Sembilan kali.

Yang akhirnya kukirim, setelah sembilan percobaan dan dua puluh menit hidupku yang tidak akan kembali:

pagi

Empat huruf. Huruf kecil semua. Tidak ada tanda baca.

Aku menekan kirim, menaruh ponsel di dada, dan menutup mata dengan perasaan lega orang yang baru menyelesaikan ujian.

Ponselku bergetar.

Aku membuka mata.

Sepuluh detik.

Pagi.


Aku duduk.

Aku benar-benar duduk tegak di kasur, dengan seprai melilit kaki, dan menatap layar itu seperti orang yang baru melihat sesuatu yang melanggar hukum alam.

Sepuluh detik.

Dua bulan. Ratusan pesan. Rata-rata lima menit dua belas detik — aku punya datanya, aku menghitungnya sendiri selama satu minggu penuh seperti orang gila, dia bahkan mengoreksi metodeku.

Sepuluh detik.

Aku mengetik dengan cepat.

KOK CEPET

Tujuh detik.

Iya.

ARGA KAMU KENAPA

Sembilan detik.

Tidak ada yang perlu dihapus.


Aku berbaring lagi dan menekan ponsel ke dahiku.

Karena begini.

Selama dua bulan aku mengira empat menit itu adalah bagian dari dirinya. Bawaan. Seperti kacamata yang melorot, seperti timbangan kopi, seperti cara matanya turun ke bawah-kiri.

Ternyata bukan.

Ternyata empat menit itu adalah jarak.

Empat menit itu adalah waktu yang dibutuhkan seorang laki-laki untuk memeriksa apakah kalimatnya terlalu banyak mengungkap, apakah nadanya terlalu hangat, apakah ada bagian dari dirinya yang bocor keluar tanpa izin.

Empat menit itu adalah pagar.

Dan pagarnya sudah dibongkar semalam, di parkiran restoran di Kemang, oleh laki-laki yang sama.

Aku mengetik.

Ga

Enam detik.

Iya.

Ga

Lima detik.

Iya.

Ga

Empat detik.

Alika.

AKU CUMA MAU LIAT SEBERAPA CEPET

Lima detik.

Saya tahu.

TERUS KENAPA KAMU LADENIN

Delapan detik.

Karena kamu sedang senang.

Aku menendang seprai sampai jatuh ke lantai dan berteriak ke bantal.


Nesa datang jam dua siang, tanpa diundang, dengan dua kantong plastik dan wajah orang yang sedang menjalankan penyelidikan.

“Kakak,” katanya, sebelum sempat melepas sandal, “semalem Kakak ilang empat puluh menit dari acara ulang tahun Kakak sendiri.”

“Aku ke parkiran.”

“Sama siapa.”

“Sendiri.”

“Kak Alika.” Nesa menaruh kantongnya di lantai dengan gerakan hakim mengetukkan palu. “Ada cowok kurus pakai kemeja polos berdiri di deket rak sepatu selama satu jam dan nggak makan apa-apa. Aku sempet mau usir karena kupikir dia nyasar.”

Aku menutup wajah dengan bantal.

“KAK.”

“Nes.”

“KAK ITU PAK SISTEM?”

“Namanya Arga.”

Nesa duduk di lantai dengan bunyi berdebum.

Lalu, selama kira-kira dua menit, dia melakukan hal yang membuatku sayang sekali padanya: dia tidak berteriak lagi. Dia diam, memperhatikan wajahku, dan bertanya dengan suara yang jauh lebih pelan.

“Kak. Serius. Dia orangnya gimana?”

Aku menurunkan bantal.

Dan aku sadar aku tidak bisa menjawabnya.

Bukan karena aku tidak tahu. Karena semua yang bisa kuceritakan terdengar buruk kalau dilepas dari konteksnya.

Dia dulu nyisipin transit di jadwalku selama sembilan bulan. Buruk. Dia tau tempat acara ulang tahunku dari satu kalimat yang aku sebut tiga minggu lalu. Buruk. Dia dateng ke bandara jam tujuh pagi buat ngecek sudut mana yang paling sepi. Buruk, kalau kamu bacanya dengan cara yang salah.

Semua hal yang membuatku jatuh cinta pada laki-laki itu, kalau kuucapkan keras-keras di kamar kos siang hari, kedengaran seperti laporan polisi.

“Nes,” kataku akhirnya. “Dia satu-satunya orang yang pernah aku kenal yang nggak pernah sekali pun bilang aku cantik.”

Nesa mengerutkan dahi. “Itu bagus?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memikirkannya.

“Karena artinya dia nggak butuh alasan itu.”

Nesa diam lama sekali. Lalu dia menghela napas dan membuka kantong plastiknya dan mengeluarkan dua bungkus nasi.

“Ya udah,” katanya. “Tapi kalau dia jahat, aku yang mukulin.”

“Kamu udah bilang itu.”

“Aku bilang lagi biar Kakak inget.”


Sore itu aku menyadari satu hal lagi yang membuatku duduk diam cukup lama.

Dia tidak menghubungiku duluan.

Seharian. Dari jam sebelas siang sampai jam lima sore, setiap percakapan dimulai olehku.

Dan begitu aku menyadarinya, aku juga menyadari bahwa itu bukan hal baru. Selama dua bulan, tidak sekali pun laki-laki itu menyapa duluan. Tidak pernah. Aku selalu yang mengetik pertama.

Tapi tidak sekali pun juga dia tidak membalas.

Aku duduk di tepi kasur cukup lama sambil memikirkan itu.

Lalu aku mengetik.

Ga, kamu kenapa nggak pernah chat duluan?

Kali ini sebelas detik.

Karena kalau saya yang mulai, kamu jadi harus membalas.

Ya kan aku emang mau bales

Empat belas detik.

Iya. Tapi kalau saya yang mulai, saya tidak akan pernah tahu bedanya antara kamu yang mau dan kamu yang merasa harus.

Kalau kamu yang mulai, saya tahu.

Aku menatap layar.

Dan aku memikirkan dua puluh delapan baris kode yang dihapus seseorang jam sebelas lewat empat puluh malam, tiga hari setelah aku menutup telepon, sebelum dia tahu apakah aku akan kembali.

Ada orang yang menunjukkan sayangnya dengan memberi.

Dan ada satu orang di kota yang tidak punya sabun di laciku, yang menunjukkan sayangnya dengan tidak mengambil.

Aku mengetik dengan mata yang sudah panas lagi — dan aku mulai kesal pada diriku sendiri karena ini sudah keempat kalinya dalam dua minggu.

Ga

Enam detik.

Iya.

Mulai sekarang kamu boleh chat duluan.

Dua puluh detik. Lama, untuk ukuran hari itu.

Boleh?

Boleh banget.

Dan setelah itu tidak ada balasan selama sembilan menit, yang membuatku panik, sampai akhirnya layarku menyala dan yang muncul cuma satu kata:

Pagi.

Aku menatapnya dengan bingung. Jam lima sore.

Lalu aku mengerti.

Dia sedang berlatih.

Aku tertawa sendirian di kamar kos di Surabaya sampai perutku sakit.


[Jumlah karakter: 6.752]