Chapter Four
Empat Puluh Detik
POV: Alika Jumlah kata: 1.085
Tanggal 20 adalah tanggal keramat di kalangan kami.
Jam sembilan pagi, roster bulan depan keluar. Dan selama kira-kira lima belas menit setelahnya, seribu awak kabin di seluruh Indonesia melakukan hal yang persis sama: membuka aplikasi dengan tangan agak gemetar, lalu mencari tanggal-tanggal yang penting buat mereka.
Nesa mencari akhir pekan. Kak Vira mencari tanggal ulang tahun anaknya. Ada yang mencari hari raya, ada yang mencari tanggal nikahan sepupu, ada yang mencari hari-hari kosong berturut-turut supaya bisa pulang kampung.
Aku, selama empat tahun, tidak pernah mencari apa-apa.
Aku cuma membukanya, membacanya, dan menerimanya. Karena tidak ada yang perlu kucari. Tidak ada tanggal yang penting buatku. Semua hariku sama-sama kosong, jadi tidak ada yang bisa dirusak.
Bulan itu, untuk pertama kalinya, aku membuka roster dan langsung mencari sesuatu.
Aku mencari transit tiga puluh menit di Cengkareng.
Masih ada. Empat kali.
Dan aku — aku yang delapan bulan lalu mengetik surat pengaduan jam dua pagi karena hal itu — merasa lega.
Aku tidak memikirkan kenapa. Waktu itu aku belum siap memikirkan kenapa.
Kekacauannya terjadi tiga hari kemudian.
Aku sedang di ruang tunggu awak Soekarno-Hatta, jam setengah dua siang, dengan kopi yang sudah dingin dan sepatu yang sudah kulepas di bawah meja karena tidak ada yang bisa melihat.
Ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal, kode area Jakarta. Aku mengangkatnya sambil menjepitnya di bahu, karena tangan kananku sedang memegang kopi dan tangan kiriku sedang memegang harga diri yang tersisa setelah shift enam jam.
“Halo, dengan Alika Rahmania?”
Suara perempuan. Rekaman? Bukan. Manusia.
“Iya, betul.”
“Baik, Ibu. Ini dari verifikasi data kepegawaian, kami perlu konfirmasi perubahan kontak darurat Ibu. Mohon tunggu, saya sambungkan ke penanggung jawab data.”
“Oh, oke.”
Musik tunggu. Instrumental. Jenis yang membuatmu bertanya-tanya siapa yang menciptakannya dan apakah dia bangga.
Lalu klik.
Lalu hening.
“Halo?” kataku.
Hening.
“Halo, ini dengan siapa ya?”
Dan kemudian ada suara.
“...Halo.”
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hal yang terjadi di dadaku dalam tiga detik berikutnya.
Aku belum pernah mendengar suaranya. Sama sekali. Tiga minggu, ratusan pesan, dan tidak satu detik pun suara.
Tapi aku tahu.
Aku tahu sebelum otakku sempat menyusun alasannya. Aku tahu dari cara satu kata itu diucapkan — pelan, agak rendah, dengan jeda kecil sebelum bunyinya keluar, seperti orang yang sudah membuka mulut lalu berhenti untuk memeriksa ulang apakah kata itu benar.
Empat menit itu, ternyata, juga ada dalam suaranya.
“Pak Sistem?” kataku.
Hening dua detik.
“...Iya.”
Kopiku hampir tumpah. Aku menurunkannya ke meja dengan gerakan yang, kalau ada yang memperhatikan, pasti kelihatan seperti orang panik.
“Ini—kok bisa—kenapa Bapak yang—“
“Panggilannya salah sambung.” Jeda. “Verifikasi data itu masuk ke antrean divisi saya. Saya penanggung jawab datanya.”
“Oh.”
“Iya.”
Hening.
Dan inilah bagian yang tidak akan pernah bisa kujelaskan ke Nesa, ke siapa pun, tanpa kedengaran seperti orang yang kehilangan akal.
Heningnya empat puluh detik.
Aku menghitungnya belakangan, dari catatan panggilan. Nol menit empat puluh delapan detik total, dan kira-kira empat puluh detik dari itu adalah hening.
Dua orang, di ujung sambungan telepon, tidak mengatakan apa-apa.
Dan tidak satu pun dari kami menutup teleponnya.
Aku pernah membaca di suatu tempat bahwa manusia tidak tahan hening lebih dari empat detik dalam percakapan. Setelah empat detik, salah satu pihak akan mengisi. Basa-basi, tawa kecil, “ya udah kalau gitu”, apa pun.
Aku ahli dalam hal itu. Itu setengah dari pekerjaanku. Aku bisa mengisi hening dengan penumpang mana pun di republik ini, dan aku bisa melakukannya sambil tersenyum, sambil mendorong trolley, sambil menghitung sisa kotak makan di kepalaku.
Waktu itu aku tidak mengisi apa-apa.
Karena di ujung sana, dia juga tidak.
Dan aku sadar — pelan, seperti air naik — bahwa dia sedang melakukan hal yang sama dengan yang selalu dia lakukan di chat. Menghapus dulu yang tidak perlu.
Cuma sekarang aku bisa mendengarnya. Bunyi napas yang tertahan sebentar. Suara kursi bergeser sedikit. Sekali, suara sesuatu diletakkan di meja — gelas, mungkin, atau kacamata.
Empat puluh detik seseorang berpikir untukmu.
Aku pernah dipuji ribuan kali. Wajahku pernah dipasang di baliho di jalan tol dan aku pernah harus melewatinya tiap hari selama satu musim. Orang minta foto denganku di ruang tunggu. Ada penumpang yang menulis nomornya di serbet.
Tidak satu pun dari itu terasa seperti empat puluh detik hening di telepon.
Akhirnya dia bicara.
“Datanya sudah benar. Tidak ada yang perlu diubah.”
“Oh.” Suaraku keluar lebih kecil dari yang kumau. “Oke.”
“Iya.”
Jeda lagi. Lebih pendek. Empat detik, mungkin.
“Saya tutup ya,” katanya. Lalu, cepat, seperti orang yang memutuskan sesuatu di detik terakhir: “Selamat siang.”
Klik.
Aku duduk di ruang tunggu awak itu selama entah berapa lama dengan ponsel masih di tangan.
Kak Vira lewat dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku bilang iya, cuma capek. Dia bilang jangan lupa makan. Aku bilang iya.
Yang kupikirkan sepanjang penerbangan sore itu — sepanjang demo keselamatan, sepanjang trolley, sepanjang “kopi atau teh” seratus delapan puluh kali — adalah satu hal yang sangat bodoh:
Suaranya lebih pelan dari yang kubayangkan.
Bukan lebih dalam, bukan lebih muda, bukan lebih apa pun yang biasanya orang pikirkan. Lebih pelan. Seperti orang yang terbiasa bicara di ruangan yang sepi dan tidak pernah perlu mengeraskan suaranya untuk mengalahkan siapa-siapa.
Dan bapak-bapak berkumis di kepalaku — dengan kemeja kotak-kotak dan termos dan foto cucu di meja — mulai memudar di tepinya, dan aku tidak punya apa pun untuk menggantikannya.
Itu yang paling menakutkan. Bukan bahwa gambarnya salah.
Bahwa gambarnya kosong, dan aku ingin sekali mengisinya.
Malam itu aku di Semarang.
Aku masuk kamar, menaruh koper, mengambil sabun dari wastafel, mengelapnya, memasukkannya ke kantong depan.
Lalu aku duduk di tepi kasur.
Remote TV ada di meja, tiga puluh sentimeter dari tanganku.
Aku tidak mengambilnya.
Aku duduk di sana selama lima menit — aku tahu lima menit karena aku mengeceknya, karena angka lima menit sudah punya arti khusus buatku sekarang — dan aku tidak menyalakan apa pun, tidak membuka apa pun, tidak melakukan apa pun.
Cuma duduk, di kamar yang benar-benar sunyi, memutar ulang empat puluh detik itu di kepalaku seperti orang gila.
Ponselku bergetar di pangkuan.
21.47.
Maaf soal tadi siang. Saya tidak tahu harus bilang apa.
Aku menatapnya lama.
Lalu aku mengetik, dan menghapus, dan mengetik lagi — tiga kali, seperti orang yang sudah tertular sesuatu yang tidak ada obatnya.
Yang akhirnya kukirim cuma ini:
Nggak apa-apa. Saya juga nggak.
21.52.
Berarti kita berdua sama-sama diam selama empat puluh detik.
Bapak ngitung??
21.56.
Empat puluh satu, sebenarnya. Tapi saya bulatkan supaya tidak terdengar aneh.
Aku tertawa sendirian di kamar hotel di Semarang, dengan TV mati dan lampu masih menyala dan sabun berlabel kedua di kantong koperku menunggu ditulisi.
[Jumlah karakter: 7.325]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik reading
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby