← Standby

Chapter Seven

Tiga Hari

POV: Arga Jumlah kata: 1.171


Hari pertama aku tidak melakukan apa-apa yang berbeda.

Aku bangun jam sepuluh. Menimbang kopi — delapan belas koma nol gram, seperti biasa, karena kalau aku mulai menebak maka besok aku akan menebak lagi dan minggu depan aku tidak akan tahu lagi mana yang benar. Aku membuka laptop jam sebelas. Aku menutup tiket-tiket yang menumpuk. Aku menghadiri rapat dari kolom obrolan, seperti biasa, dan Pak Dimas seperti biasa membiarkan.

Aku mengecek ponsel sekali, jam dua siang.

Tidak ada.

Aku menaruhnya menghadap ke bawah dan bekerja sampai jam sembilan malam, dan yang perlu kucatat adalah bahwa aku bekerja dengan sangat baik hari itu. Aku menyelesaikan hal-hal yang sudah tertunda tiga minggu.

Orang mengira orang seperti aku berhenti berfungsi kalau sedang hancur.

Tidak. Yang terjadi justru sebaliknya. Kalau ada sesuatu di dalam kepalaku yang tidak bisa kuselesaikan, aku akan mencari hal lain yang bisa, dan menyelesaikannya dengan sangat rapi, terus-menerus, sampai lelah.

Hari pertama aku memperbaiki delapan bug.


Hari kedua aku mulai menghitung.

Ini juga kebiasaan. Kalau ada hal yang tidak bisa kupahami, aku pecah jadi angka, karena angka tidak berbohong dan tidak berubah pikiran.

Jadi begini angkanya.

Empat puluh dua kali dia transit di Cengkareng.

Dari empat puluh dua kali itu, tiga puluh satu kali aku melihatnya dari lantai empat. Sebelas kali aku tidak sempat, karena rapat atau karena aku sedang tidak di kantor.

Rata-rata aku berdiri di kaca itu selama sembilan menit. Bukan tiga puluh. Sembilan. Aku tidak pernah menunggu sampai dia pergi, karena kalau aku menunggu sampai dia pergi maka aku sedang menonton, dan menonton itu punya nama lain yang tidak ingin kupakai untuk diriku sendiri.

Aku melihat sampai aku yakin dia sudah duduk. Lalu aku kembali ke meja.

Total: dua ratus tujuh puluh sembilan menit dalam sembilan bulan. Empat jam tiga puluh sembilan menit.

Empat jam tiga puluh sembilan menit, dibagi sembilan bulan, dibagi seorang manusia yang tidak tahu aku ada.

Aku menuliskan angka itu di kertas dan menatapnya lama sekali.

Lalu aku menuliskan angka kedua di bawahnya:

Nol.

Nol adalah jumlah kali aku turun.


Ada pertanyaan yang tidak dia tanyakan malam itu, dan aku bersyukur dia tidak menanyakannya, karena aku tidak akan bisa menjawabnya lewat telepon.

Pertanyaannya bukan kenapa kamu melakukannya.

Pertanyaannya kenapa kamu tidak turun.

Dan jawabannya bukan karena aku pemalu. Aku bukan pemalu. Pemalu itu takut dinilai, dan aku sudah lama tidak peduli dinilai.

Jawabannya begini, dan aku sudah tahu sejak awal, aku cuma tidak pernah menyusunnya jadi kalimat sampai hari kedua itu:

Selama aku tidak turun, aku belum mengambil apa pun darinya.

Dia lewat karena jadwal. Jadwalnya kutulis, iya. Tapi selama aku tetap di atas, tiga puluh menit itu tetap miliknya. Dia duduk di kursi itu sebagai orang bebas yang kebetulan lewat.

Begitu aku turun, semuanya berubah bentuk. Begitu aku turun, tiga puluh menit itu jadi janji temu yang tidak pernah dia setujui, di tempat yang aku yang pilih, di jam yang aku yang tentukan.

Itu bukan pertemuan.

Itu penempatan.


Ayahku menyebut dirinya laki-laki yang bertanggung jawab.

Dia memilihkan jurusan kuliah ibuku. Ekonomi, karena “sastra tidak bisa dimakan”. Dia memilihkan pekerjaan pertama ibuku, lalu memutuskan kapan ibuku berhenti bekerja. Dia menentukan siapa yang boleh datang ke rumah dan siapa yang tidak, dan alasannya selalu masuk akal, satu per satu, kalau kamu dengarkan satu per satu.

Dia tidak pernah membentak. Aku ingin sekali bisa bilang dia membentak, karena itu akan lebih mudah dijelaskan.

Dia menyayangi ibuku. Aku yakin itu. Aku sudah dua puluh tahun mencoba menemukan bukti bahwa dia tidak, dan tidak ketemu.

Yang dia lakukan, tiap hari selama dua puluh tahun, adalah mengurangi jumlah pilihan yang ibuku punya sampai tinggal satu, lalu merasa lega karena ibuku memilih yang itu.

Ibuku pergi di suatu Minggu pagi. Aku umur delapan belas. Tidak ada teriakan, tidak ada surat panjang. Dia cuma pergi, dan kemudian menelepon dari tempat lain, dan suaranya terdengar seperti orang yang baru saja menurunkan sesuatu yang berat dari punggungnya.

Ayahku bertanya padaku, waktu itu, dengan wajah bingung yang tulus: “Bapak salah apa?”

Dia benar-benar tidak tahu.

Itu bagian yang tinggal di kepalaku selama sepuluh tahun. Bukan kepergiannya. Tapi bahwa dari dalam, dari dalam kepala orang yang melakukannya, tidak ada bedanya.

Menyayangi dan mengendalikan itu rasanya sama persis dari dalam.

Kamu tidak bisa merasakan bedanya. Kamu cuma bisa melihat akibatnya, dan biasanya sudah dua puluh tahun terlambat.


Aku memilih pekerjaan ini karena aku pandai dalam hal ini. Itu alasan yang benar.

Tapi ada alasan kedua yang tidak pernah kutulis di lamaran kerja.

Pekerjaanku adalah memutuskan hidup seribu orang tiap tanggal 20. Siapa pulang ke anaknya, siapa tidak. Siapa dapat akhir pekan, siapa dapat standby lima hari berturut-turut. Aku tidak mengenal mereka dan mereka tidak mengenalku, dan itu justru yang membuatnya aman: aku memutuskan berdasarkan aturan, bukan berdasarkan perasaanku terhadap orangnya.

Sistemnya adil karena buta.

Dan bulan Februari lalu, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku membuat sistem itu melihat satu orang.

Dua puluh delapan baris. Aku ingat jumlahnya karena aku menghitungnya waktu menulisnya.

Aku menyebutnya di catatan perubahan dengan jujur, seperti selalu:

`feat(roster): sisipkan buffer 30m CGK untuk crew 44170 — alasan personal, bukan operasional`

Tidak ada yang membacanya. Tidak ada yang pernah membaca catatan perubahanku. Aku menulisnya jujur bukan supaya ada yang membaca.

Aku menulisnya jujur supaya suatu hari, kalau aku sudah cukup pandai berbohong pada orang lain, masih ada satu tempat di dunia yang menyimpan versi yang benar.


Hari ketiga aku duduk di depan laptop dari jam sebelas siang sampai jam sebelas malam tanpa menulis satu baris pun.

Aku membuka berkasnya. Dua puluh delapan baris itu.

Dan aku memikirkan hal yang sudah kuhindari selama tiga hari, yang sebenarnya sudah kuhindari selama sembilan bulan.

Kalau ini berlanjut — kalau dia memaafkanku, kalau dia kembali mengetik jam dua pagi, kalau semuanya kembali seperti dua minggu yang lalu — maka setiap kali dia lewat di Cengkareng, dia lewat karena aku.

Setiap kali dia duduk di kursi 2C-114 dan mengirimiku foto sambil bilang dia senang, dia sedang senang di dalam ruangan yang aku bangun tanpa memberitahunya.

Dan kalau nanti, entah kapan, dia bilang dia sayang padaku, aku tidak akan pernah tahu berapa persen dari itu yang tumbuh sendiri dan berapa persen yang tumbuh karena aku mengatur airnya.

Aku tidak akan pernah tahu.

Persis seperti ayahku tidak akan pernah tahu.


Aku menghapusnya jam sebelas lewat empat puluh malam.

Bukan menonaktifkan. Bukan dikomentari supaya bisa dinyalakan lagi. Aku menghapus dua puluh delapan baris itu, membangun ulang jadwalnya dari aturan dasar, dan menjalankannya sampai bersih.

Roster bulan depan sudah terkunci untuk diterbitkan tanggal 20. Empat transit tiga puluh menit di Cengkareng.

Setelah aku menjalankan ulang: nol.

Aku menatap hasilnya di layar cukup lama sampai monitornya redup sendiri.

Lalu aku menulis catatan perubahannya, dan aku menulisnya dengan jujur, seperti selalu.

`revert(roster): hapus buffer manual CGK untuk crew 44170` `alasan: saya tidak berhak menentukan di mana dia berada.`

Aku menekan enter.

Ponselku ada di meja, menghadap ke bawah, sudah tiga hari begitu.

Aku tidak membaliknya.

Kalau dia kembali, aku ingin dia kembali ke tempat yang tidak kususun.


[Jumlah karakter: 7.728]